Menelusuri Jejak Sejarah Sunda di Museum Sri Baduga Bandung

Menelusuri Jejak Sejarah Sunda di Museum Sri Baduga Bandung

Zaenab Nurhabibah - detikJabar
Senin, 05 Okt 2026 10:04 WIB
Museum Sri Baduga
Foto: Muhammad Hasanudin Zuhdi
Bandung -

Jika detikers ingin mengenal sejarah dan budaya Jawa Barat dalam satu tempat, museum bisa menjadi pilihan untuk dikunjungi, salah satunya Museum Sri Baduga.

Museum Sri Baduga berada di Jalan BKR No. 185, Pelindung Hewan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung. Lokasinya tidak jauh dari kawasan Lapangan Tegalega sehingga cukup mudah dijangkau dari berbagai arah.

Menariknya, koleksi Museum Sri Baduga tidak hanya berupa benda-benda bersejarah. Pengunjung juga dapat menemukan fosil, batuan, arca, naskah kuno, pakaian adat, alat musik tradisional, keramik, senjata tradisional, hingga berbagai benda yang menggambarkan kehidupan masyarakat Sunda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Museum Sri Baduga Bandung

Museum Sri Baduga mempunyai sejarah yang cukup panjang. Bangunan ini awalnya merupakan bekas kantor Kawedanan Tegallega yang sudah berdiri sejak 1974.

Pada 5 Juni 1980, bangunan ini resmi dialihfungsikan menjadi museum oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Daoed Joesoef, dengan nama Museum Negeri Provinsi Jawa Barat.

ADVERTISEMENT

Asal-usul nama Sri Baduga diambil dari gelar Raja Sunda yang berkuasa di Pakuan Pajajaran, yakni Sri Baduga Maharaja, yang juga tercatat dalam Prasasti Batutulis di Bogor.

Pada 1990, nama museum ditetapkan menjadi Museum Negeri Provinsi Jawa Barat Sri Baduga melalui keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pemilihan nama tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap salah satu tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Sunda.

Museum ini kemudian berkembang menjadi salah satu tempat penyimpanan dan penyajian koleksi budaya Jawa Barat.

Sekitar 6.700 lebih koleksi dikelompokkan menjadi 10 klasifikasi sehingga pengunjung dapat melihat berbagai aspek kehidupan masyarakat dari masa ke masa.

Beberapa klasifikasinya yaitu geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika dan heraldika, filologika, keramologika, seni rupa, serta teknologika.

Museum ini terbagi menjadi 3 lantai, dan masing-masingnya memiliki koleksi tersendiri.

Ada apa saja di Lantai 1?

Di lantai 1, pengunjung dapat menemukan berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah alam dan kehidupan masa lalu, seperti geologika dan biologika.

Terdapat koleksi batuan, mineral, fosil, tumbuhan, hewan, serta bagian tubuh atau rangka yang menjadi objek kajian biologi yang bisa kamu amati di lantai ini.

Bagian ini juga memperkenalkan kehidupan masyarakat pada masa prasejarah, sehingga pengunjung dapat melihat benda-benda peninggalan masa lampau, termasuk berbagai artefak yang menggambarkan kehidupan manusia sebelum mengenal teknologi modern.

Penyajian koleksi dibuat secara tematik sehingga pengunjung seperti diajak mengikuti perjalanan sejarah Jawa Barat dari masa awal.

Ada apa saja di Lantai 2?

Naik ke lantai berikutnya, pengunjung dapat melihat koleksi yang berkaitan dengan perkembangan kebudayaan masyarakat Jawa Barat.

Di sini terdapat berbagai benda arkeologis dan historis, termasuk benda yang menunjukkan pengaruh Hindu-Buddha, perkembangan Islam, hingga masa kolonial.

Koleksi seperti pakaian tradisional, peralatan pertanian, senjata tradisional, keramik, dan benda bersejarah lainnya turut menjadi bagian dari pameran.

Pengunjung juga dapat menemukan berbagai benda yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa Barat menjalani kehidupan sehari-hari pada masa lalu.

Selain itu, ada juga koleksi numismatika dan heraldika. Numismatika berkaitan dengan mata uang atau alat tukar, sedangkan heraldika mencakup tanda jasa, lambang, tanda pangkat, hingga cap atau stempel resmi.

Ada pula koleksi filologika berupa naskah-naskah kuno. Koleksi seperti ini penting karena naskah menjadi salah satu sumber untuk memahami pengetahuan, bahasa, sastra, dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Ada apa saja di Lantai 3?

Pada bagian lain museum, pengunjung dapat menemukan koleksi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa Barat yang lebih modern.

Koleksi etnografika menjadi salah satu bagian penting karena menggambarkan identitas dan kebudayaan suatu kelompok masyarakat.

Di dalamnya terdapat berbagai benda yang berkaitan dengan pakaian tradisional, kesenian, peralatan rumah tangga, hingga alat musik tradisional.

Di lantai ini juga tersimpan koleksi seni rupa, batik, tenun tradisional, wayang, serta berbagai benda kesenian lainnya yang memperlihatkan bahwa kebudayaan Jawa Barat tidak hanya berkaitan dengan sejarah kerajaan, tetapi juga tradisi masyarakat yang terus berkembang.

Jam Buka dan Tiket Masuk

Museum Sri Baduga buka dari hari Selasa hingga Minggu, berikut rinciannya:

  • Selasa-Jumat: 08.00-16.00 WIB

  • Sabtu-Minggu: 08.00-14.00 WIB

  • Senin & Hari Libur Nasional: Tutup

Selain itu, salah satu daya tarik Museum Sri Baduga adalah harga tiketnya yang relatif terjangkau:

  • Anak-anak/pelajar: Rp2.000/orang

  • Dewasa/domestik: Rp3.000/orang

  • Wisatawan mancanegara: Rp5.000/orang

Dengan harga tersebut, Museum Sri Baduga dapat menjadi salah satu pilihan wisata edukasi yang ramah di kantong, terutama bagi pelajar atau keluarga.

Jadi, kalau detikers sedang mencari wisata sejarah di Bandung yang murah sekaligus edukatif, Museum Sri Baduga bisa masuk daftar kunjungan yang tak bisa dilewatkan.

Jangan lupa cek kembali jam buka dan tarif yang terbaru sebelum berangkat agar agenda jalan-jalanmu tetap lancar.



(tya/tey)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads