Kisah Fiki Jadi 'Tameng' Perompak Somalia

Kisah Fiki Jadi 'Tameng' Perompak Somalia

Andry Haryanto - detikJabar
Minggu, 11 Okt 2026 12:04 WIB
Para sandera perompak Somalia.
Para sandera perompak Somalia. (Foto: Istimewa)
Bogor -

Sebuah tembakan mengarah ke kepala Fiki Mutakin ketika ia mengoperasikan crane untuk menurunkan perahu milik pembajak. Peluru menghantam besi di depannya sehingga awak kapal berusia 25 tahun itu memiliki kesempatan menyelamatkan diri.

Di atas kapal tanker yang dibajak di Somalia itu, Fiki melompat dari tempatnya mengoperasikan alat tersebut. Tembakan berikutnya mengenai kaki ketika tubuhnya sedang melayang menuju dek sebelum jatuh dalam posisi tengkurap.

Fiki Mutakin menuturkan kejadian itu kepada detikJabar, Minggu (11/10/2026). Pelayaran yang tidak pernah ia lupakan itu merupakan pelayaran internasional pertamanya setelah sebelumnya bekerja di kapal kargo yang beroperasi di Indonesia. Fiki terhitung sudah dua tahun bekerja di laut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum terluka, Fiki bersama kru lainnya menghadapi baku tembak antara perompak dan tentara Puntland yang datang menyelamatkan. Menurut kesaksiannya, pembajak telah menerima informasi mengenai kemungkinan penyerangan sebelum membawa sandera menuju bagian bawah kapal.

Mereka kemudian dikembalikan ke anjungan menjelang pagi dan melaksanakan salat berjemaah setelah melewati malam tanpa tidur. Sekitar pukul enam, para awak kembali digiring menuju dek terbuka yang memiliki jalur menyerupai jembatan di atas tangki.

ADVERTISEMENT

Di tempat itulah pembajak meminta sandera membuka baju sebelum mengikat tangan mereka ke besi pembatas kapal. Para kru dijajarkan dengan jarak sekitar satu meter sehingga tidak memiliki keleluasaan bergerak ketika pertempuran dimulai.

"Jadi kita dijadikan tameng" tutur Fiki yang mengingat bagaimana para pembajak menempatkan sandera di ruang terbuka kapal.

Ia menduga keberadaan awak di tempat tersebut dimaksudkan untuk membuat pihak penyelamat mengurungkan tembakan ke arah pembajak.

Ikatan pada besi membuat tubuh para sandera tertahan sementara suara senjata terdengar selama sekitar dua jam lebih. Fiki mengingat peluru yang tampak merah dan percikan menyala ketika tembakan menghantam bagian besi di sekitar mereka.

"Sekalinya kena besi, menyala gitu kan" katanya saat menggambarkan tembakan yang masih membekas dalam ingatannya hingga sekarang.

Menurut Fiki, kru belum terkena peluru selama berlangsungnya baku tembak antara tentara dan para pembajak tersebut. Total ada 17 kru kapal yang saat itu disandera. Empat di antaranya adalah warga negara Indonesia dan seluruhnya selamat dalam drama penyanderaan lima bulan tersebut.

Sesudah pertempuran mereda, pemimpin perompak melepaskan ikatan Fiki karena mengenalnya sebagai awak yang biasa mengoperasikan alat pengangkat perahu. Ia kemudian diminta mengikuti pemimpin tersebut dan melihat sejumlah pembajak melarikan diri menggunakan perahu ataupun melompat ke laut.

Fiki sempat mengira ancaman telah berlalu karena suara tembakan berhenti sebelum kembali ke depan untuk menurunkan perahu. Namun, seorang pembajak berdiri sekitar satu meter di depannya lalu menyiapkan senjata ketika Fiki sedang menjalankan crane.

"Dia tembak kepala saya kan" ujar Fiki yang mengatakan peluru pertama mengenai besi di depan posisi kepalanya.

Ia langsung melompat ke belakang menuju dek, tetapi tembakan kedua mengenai kaki sebelum tubuhnya jatuh menimpa besi.

Setelah terjatuh, Fiki melihat luka menganga pada kakinya dan berusaha tidak bergerak sambil menunggu kemungkinan datangnya tembakan berikutnya.

"Atur nafas biar gak kelihatan gerakan" katanya mengenai upaya bertahan setelah jatuh dengan luka tembak di kaki.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, seorang pembajak mendatanginya dan menutupi tubuhnya tanpa penjelasan yang dapat ia pastikan. Fiki tidak mengetahui apakah tindakan itu bermaksud menolong dirinya atau dilakukan karena pembajak menganggap ia sudah meninggal.

"Ternyata gak ada yang tembak lagi" ucapnya ketika mengingat penantian setelah dirinya terjatuh dan memilih tetap diam.

Warga Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor ini selamat dari penyanderaan tersebut. Tetapi luka tembak membuatnya harus melanjutkan perawatan setelah kembali ke Indonesia.

Kru Berbagai Negara dalam Kapal yang Sama

Di kapal tersebut, Fiki menjadi bagian dari kru berbagai negara yang menjalani penyanderaan bersama selama berbulan-bulan. Menurut penuturannya, terdapat 17 awak keseluruhan dengan empat orang di antaranya merupakan warga negara Indonesia.

Kru lainnya berasal dari Pakistan, Sri Lanka, Myanmar, dan India yang bekerja bersama dalam pelayaran tersebut. Ia mengatakan lima awak meninggal sementara dua belas lainnya berhasil kembali dengan selamat setelah penyanderaan berakhir.

Fiki menyebut sejumlah rekannya ditembak ketika masih terikat, tetapi urutan kejadian itu belum seluruhnya dapat dipastikan. Kesaksiannya memperlihatkan bahwa ancaman belum berakhir meskipun baku tembak mereda dan sebagian pembajak sudah berusaha meninggalkan kapal.

Pembajak yang awalnya berjumlah dua belas orang disebut bertambah setelah kapal dibawa menuju kawasan pesisir dekat markas mereka. Jumlah terakhir yang diketahui Fiki mencapai sekitar empat puluh orang lebih sehingga pergerakan sandera semakin sulit dilakukan.

Selama ditawan, awak kapal makan dan tidur di anjungan dengan kebebasan bergerak yang dibatasi oleh penjaga bersenjata. Ke kamar mandi harus meminta izin dan bergantian sehingga kebutuhan sederhana sekalipun tidak bisa dipenuhi sesuka hati.

"Berdiri saja tidak diperbolehkan. Kalau kita berdiri langsung ditodong senjata," tutur Fiki.

Halaman 3 dari 2
(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads