Air Kencing Pendaki Disebut Picu Pencairan 154 Ton Es Everest

Air Kencing Pendaki Disebut Picu Pencairan 154 Ton Es Everest

detikINET - detikJabar
Minggu, 11 Okt 2026 08:30 WIB
Pendakian Mount Everest
Pendakian Mount Everest. (Foto: Site News)
Jakarta -

Setelah bertahan melewati ujian waktu selama 50 juta tahun, Gunung Everest kini menghadapi ancaman tak terduga: air kencing manusia.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Regional Environmental Change mengungkapkan bahwa urine yang mengendap di gletser Everest berpotensi mencairkan lebih dari 150 ton es dan salju setiap tahun.

"Urine, dengan suhu sekitar 37 derajat Celcius (suhu tubuh manusia), menyebabkan es mencair," tulis para peneliti studi tersebut, dikutip dari New York Post.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tim ilmuwan internasional meneliti Gletser Khumbu, kawasan yang menjadi lokasi base camp Everest di sisi Nepal. Setiap tahun, ratusan pendaki berkumpul di kawasan tersebut sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak Everest yang mencapai 8.848 mdpl.

ADVERTISEMENT

Lonjakan aktivitas manusia membuat kawasan base camp menghadapi persoalan lingkungan. Selain kebisingan dan tumpukan sampah, aktivitas pendaki juga menghasilkan limbah manusia dalam jumlah besar.

Sejak 2024, pendaki diwajibkan membawa kotoran mereka kembali menggunakan kantong khusus. Namun, masih ada pendaki yang buang air besar langsung di atas es.

Para peneliti kemudian memusatkan kajian pada musim semi 2023. Saat itu, sekitar 2.000 orang tiba di base camp yang berada pada ketinggian sekitar 5.473 mdpl.

Berdasarkan perhitungan peneliti, para pendaki menghasilkan sekitar 3.181 liter urine per orang selama periode tersebut. Dengan masa tinggal sekitar 50 hari, total urine yang terkumpul diperkirakan mencapai 338.299 liter atau lebih dari 89.000 galon.

Panas dari urine tersebut diperkirakan mampu mencairkan sekitar 154 ton es dalam satu musim.

Dampaknya menjadi jauh lebih besar jika memperhitungkan bahan bakar yang digunakan untuk pemanasan dan memasak. Menurut perhitungan peneliti, total pencairan dapat mencapai 2.492 ton es, setara dengan volume kolam renang ukuran Olimpiade.

"Meningkatnya jumlah pendaki, pejalan kaki, dan staf pendukung, khususnya di area perkemahan, telah memperparah dampak lingkungan pada Gletser Khumbu," tulis para peneliti.

Namun, peneliti memberikan catatan penting terhadap perhitungan tersebut. Estimasi itu mengasumsikan seluruh panas dari urine manusia berpindah langsung ke es.

Dalam kondisi sebenarnya, sebagian panas kemungkinan hilang melalui berbagai proses lain.

"Perkiraan ini kemungkinan merupakan batas atas, karena tidak memperhitungkan kehilangan panas melalui perkolasi ke dalam puing-puing, limpasan, transfer panas yang tidak sempurna, atau proses disipatif lainnya yang sulit diukur dalam kondisi lapangan," tulis tim tersebut.

Meski demikian, para ilmuwan mendorong pemindahan Base Camp Everest ke lokasi yang lebih kering dan memiliki potensi pencairan es lebih rendah.

"Memindahkan perkemahan utama ke lokasi yang bebas es dapat membantu mengurangi pencairan gletser akibat aktivitas manusia sekaligus mendorong praktik pendakian gunung yang lebih berkelanjutan," tulis mereka.

"Jika diterapkan, relokasi dapat mengurangi tekanan pada Air Terjun Es Khumbu, meningkatkan keselamatan ekspedisi, dan berkontribusi pada ekosistem pegunungan yang lebih tangguh," tambah para peneliti.

Sampah Juga Mengancam Everest

Ancaman terhadap Everest tidak hanya datang dari urine dan limbah manusia. Menurut National Geographic, kawasan tersebut dilaporkan dipenuhi lebih dari 50 ton sampah sehingga mendapat julukan tempat pembuangan sampah tertinggi di dunia.

Nepal bahkan menghentikan skema pemberian uang kepada pendaki yang membawa turun sampah dari Everest pada tahun lalu setelah program tersebut dinilai tidak menunjukkan hasil yang nyata.

Salah satu persoalannya, pendaki lebih banyak membawa kembali sampah dari perkemahan yang berada di ketinggian lebih rendah. Sementara itu, volume sampah terbesar justru ditemukan di lereng yang lebih tinggi.

Baca berita selengkapnya di detikINET.

(rns/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads