Pasar Cihapit menyajikan simfoni aroma khas yang melekat erat dalam memori pada Jumat (9/10/2026). Aroma tanah dari sayuran segar yang baru dipetik, keharuman rempah-rempah yang digiling, dan bau amis tipis dari jongko ikan berbaur harmonis dengan wangi mentega pekat dari pastry yang baru matang serta semerbak seduhan kopi arabika.
Pasar legendaris di pusat Kota Bandung ini bukan sekadar tempat transaksi harian biasa. Lantai semen yang lembap khas pasar tradisional bersanding apik dengan kedai-kedai kuliner modern bergaya estetik. Langkah kaki para ibu yang berbelanja kebutuhan rumah tangga berpapasan ramah dengan tawa anak muda yang berburu bakmi viral, menciptakan denyut kehidupan yang hangat dan autentik di tengah hiruk-pikuk kota.
Di tengah harmonisasi dua zaman tersebut, terselip sebuah sudut yang menawarkan hal berbeda, yakni kios literasi bernama Berkawan Sekebun. Diinisiasi oleh Dinda Anindita (40), kios ini menembus batasan konvensional tentang fungsi pasar. Tempat ini bukan sekadar toko yang menjual buku bacaan atau pernak-pernik seni. Lebih dari itu, Berkawan Sekebun hadir sebagai ruang alternatif independen bagi warga, seniman, hingga pedagang untuk membaca, bertemu, dan melahirkan karya kreatif tepat di jantung ekonomi rakyat.
Harmoni Literasi Visual dan Tekstual
Berkawan Sekebun mulai menancapkan akarnya di Pasar Cihapit sejak tahun 2024. Pemilihan nama kios ini terinspirasi dari judul lagu "Bersemi Sekebun" milik grup musik Efek Rumah Kaca. Nama tersebut dimaknai sebagai pengingat personal bagi pendirinya bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia di tengah berbagai tantangan kehidupan.
"Berkawan Sekebun merupakan ruang belajar literasi visual dan tekstual. Literasi visual ini mencakup gambar, sedangkan literasi tekstual mencakup tulisan," kata Dinda saat menceritakan konsep dasar kiosnya.
Sebagai kendaraan utama untuk menyebarkan semangat tersebut, kios ini menggunakan zine atau bacaan alternatif berskala kecil. "Kami memanfaatkan zine untuk mengenalkan kepada anak-anak dan remaja bahwa kegiatan membaca, menggambar, dan menulis itu sebenarnya sangat menyenangkan," ujarnya.
Memberdayakan Anak Pasar Lewat Karya
Kehadiran Berkawan Sekebun tidak berjarak dengan lingkungan sekitarnya. Alih-alih menjadi ruang eksklusif, kios ini justru merangkul erat anak-anak dari para pedagang Pasar Cihapit. Mereka secara aktif dilibatkan untuk belajar membuat hingga memproduksi zine mereka sendiri.
"Anak-anak di sekitar pasar telah berhasil menghasilkan karya zine mereka sendiri. Zine buatan mereka ini kami terbitkan secara mandiri dalam jumlah yang terbatas," tutur Dinda dengan bangga.
Langkah pemberdayaan ini tidak berhenti pada proses penciptaan karya saja. Kios ini turut mendidik anak-anak tentang nilai keekonomian melalui sistem bagi hasil yang adil. "Pembagian hasil ini kami berikan sebagai bentuk apresiasi atas karya mereka sekaligus menjadi uang jajan untuk anak-anak tersebut," ucapnya.
Memantik Keberanian Tanpa Sekat Sosial
Mengajak anak muda atau masyarakat awam untuk mulai menulis bukanlah perkara mudah. Sering kali ada keraguan atau ketakutan akan aturan baku sebuah tulisan. Untuk mengatasi hal ini, Dinda menerapkan pendekatan yang sangat cair dan personal kepada setiap pengunjung yang mampir.
"Kami membebaskan gaya penulisan mereka sepenuhnya. Tulisan bisa berupa curahan hati, catatan harian, maupun monolog tanpa ada aturan formal yang mengekang," kata Dinda.
Sebagai pendampingan teknis di lokasi, ia menyediakan mini modul yang dirancang khusus. Modul sederhana ini berisi sejumlah pertanyaan pemicu untuk membantu mendorong pengunjung mulai berani bercerita dan merangkai kata, menangkap momen keberanian pertama mereka dalam menulis.
Di sisi lain, pemilihan pasar sebagai lokasi utama ternyata membawa keuntungan sosial yang besar. "Pasar memberikan akses yang sangat mudah dan inklusif bagi siapa saja. Pasar benar-benar menjadi ruang terbuka tanpa sekat sosial, sehingga semua orang dapat duduk dan berinteraksi secara setara," ujarnya.
Evolusi Ruang dan Runtuhnya Stigma
Keterbukaan ruang di Pasar Cihapit perlahan meruntuhkan pandangan keliru tentang kebiasaan generasi muda. Stigma bahwa kaum muda enggan menjejakkan kaki ke pasar tradisional terbantahkan dengan sendirinya di tempat ini. Para remaja berdatangan silih berganti setiap harinya tanpa dorongan promosi buatan.
"Stigma bahwa generasi muda enggan berkunjung ke pasar runtuh secara organik. Pengunjung datang sendiri dan membagikan pengalaman mereka ke media sosial seperti TikTok," tutur Dinda.
Tingginya antusiasme tersebut mendorong kios ini untuk terus berbenah. Berkawan Sekebun yang berawal dari ruang sempit, perlahan berevolusi. "Sekitar dua bulan terakhir, ruang perluasan baru mulai kami fungsikan. Ruang baru ini kami manfaatkan sebagai perpustakaan mini zine, area pameran mini, serta tempat diskusi para seniman," ucap Dinda, yang sebelumnya aktif terlibat dalam proyek zine Patpat Dilipat Zindikat ini.
Sentuhan Hangat di Balik Pintu Gulung
Di dalam ruang yang semakin memadai tersebut, aktivitas kreatif mengalir tanpa henti. Pengunjung tidak hanya bisa membeli zine dengan rentang harga terjangkau mulai Rp5.000 hingga Rp35.000 atau sekadar berburu stiker, pin, gantungan kunci, dan art print. Kios ini juga rutin mengadakan kegiatan pop-up, lokakarya (workshop), hingga berkolaborasi dengan ragam komunitas kreatif lokal lainnya.
Ada pula interaksi intim bertajuk 'digambarin', di mana Dinda membagikan pesan atau kata-kata harian lewat gambar kepada pengunjung. Kreativitas ini meresap hingga ke detail fisik bangunan kios itu sendiri agar senantiasa terasa hidup.
Bagian pintu gulung (rolling door) kios sengaja dihiasi dengan lukisan dan gambar-gambar kreatif. "Hal ini dilakukan agar saat kios dalam kondisi tutup, area tersebut tetap memiliki kehangatan visual dan menjadi penanda khas di dalam pasar," kata Dinda.
Di tengah bisingnya tawar-menawar harga sayur dan pekatnya aroma kopi, Berkawan Sekebun kokoh berdiri menyuburkan benih-benih ide segar. Kehadirannya menjadi bukti nyata bahwa literasi tidak melulu membutuhkan gedung megah atau dinding perpustakaan yang hening. Lewat lembaran zine sederhana, ruang kecil di Pasar Cihapit ini sukses mengubah sudut yang bising menjadi ladang subur bagi tumbuhnya keberanian berekspresi.
(yum/yum)