Sebuah surat sederhana dari seorang bocah kelas 4 sekolah dasar berhasil sampai ke tangan penjaga gawang Persib Bandung, Teja Paku Alam. Surat yang ditulis dengan tangan itu bukan sekadar tugas sekolah, melainkan ungkapan kekaguman seorang anak yang menyimpan mimpi menjadi kiper seperti idolanya.
Bocah itu bernama El Abizar Saliem. Usianya baru 10 tahun. Putra pasangan Setia Sumarliem dan Adhisty tersebut menuliskan isi hatinya untuk Teja dalam sebuah surat yang dibuat saat mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolahnya, SDN 224 Cijambe, Kota Bandung.
Tak banyak yang istimewa dari kertas itu jika dilihat sekilas. Namun, rangkaian kalimat polos Abizar menyimpan harapan besar, mulai dari keinginannya mengikuti jejak Teja hingga permintaan sederhana untuk mendapatkan jersey sang penjaga gawang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kepada om Teja Paku Alam. Hai Om Teja idolaku di Persib. Om Teja, aku suka liat om di TV. Om keren banget ngeseve. Aku juga cita-citanya jadi kiper. Karena terinfirasi dari Om Teja. Aku pengen banget jadi kaya om Semoga om selalu keliyinsit terus dan Persib juara lagi Amin," ucap Abizar dalam suratnya untuk Teja.
Abizar juga menyelipkan pantun kecil di akhir suratnya. Dengan bahasa khas anak-anak, ia mencoba menyampaikan harapan agar suatu hari bisa mendapatkan jersey dari sang idola.
"Di kandang ada anak ayam. Di ambil ku Bu Siti. Jika Om Teja sedang bermain di kandang boleh lah kasih aku jersey," tuturnya.
Surat itu kemudian benar-benar sampai kepada Teja. Bahkan, penjaga gawang utama Maung Bandung tersebut mengunggah foto surat Abizar melalui akun media sosial pribadinya.
Bagi Abizar, surat yang awalnya hanya bagian dari kegiatan sekolah itu berubah menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Ia tak menyangka tulisan tangannya bakal dibaca oleh sosok yang selama ini dikaguminya.
Berawal dari Kunjungan ke Museum Pos
Ayah Abizar, Setia Sumarliem, menceritakan surat tersebut dibuat ketika putranya mengikuti kegiatan ekstrakulikuler bertema komunikasi. Dalam kegiatan itu, para siswa berkunjung ke Museum Pos Bandung dan mendapat tugas mengirimkan surat kepada orang yang mereka pilih sendiri.
Tidak ada ketentuan khusus mengenai siapa penerima surat maupun isi yang harus ditulis. Anak-anak diberi kebebasan menyampaikan pesan dengan kata-kata masing-masing.
"Jadi waktu itu ada kegiatan kurikuler di sekolahnya. Salah satu temanya itu berkomunikasi. Waktu itu kan memang ada kunjungan ke Museum Pos dan di situ ditugaskan buat ngirimin surat," kata Setia saat berbincang dengan detikJabar, Jumat (9/10/2026).
Surat Abizar untuk Teja Paku Alam Foto: istimewa |
"Memang dari sekolahnya bebas ya ngirim suratnya ke siapa aja. Cuma mungkin ya yang beda dari yang lain, El ini kebetulan mengidolakan Teja Paku Alam, jadi yang ada di pikirannya pada saat itu langsung Teja Paku Alam," sambungnya.
Yang membuat Setia semakin senang, seluruh isi surat tersebut ditulis sendiri oleh Abizar. Tidak ada naskah yang disiapkan orang tua ataupun arahan mengenai kalimat yang harus dicantumkan.
"Nulis sendiri. Jadi kegiatan kurikuler dadakan gitu ya. Jadi waktu kunjungan ke Museum Pos dan ditulisnya di sana. Ditulis dadakan di sana, memang nggak dikasih tahu sebelumnya harus nulis apa," ujarnya.
Bagi Setia, kegiatan tersebut menjadi cara bagi anak-anak untuk mengenal kembali surat-menyurat sebagai salah satu sarana komunikasi. Ia pun tak pernah menyangka surat yang ditulis spontan itu benar-benar sampai kepada penerimanya.
Awalnya, keluarga hanya menganggap kegiatan tersebut sebagai bagian dari tugas sekolah. Mereka bahkan sempat bertanya-tanya apakah surat yang dikirimkan Abizar akan benar-benar sampai kepada Teja.
"Tahunya pun ada yang ngasih tahu orang tua di SSB-nya, orang tua teman di SSB-nya. Ada yang repost. 'Ini El Abizar ya ngirim surat?' Baru pas dilihat, 'Oh ramai, oh iya bener.' Barulah dilihatin ini surat dari Aa, iya. Kita juga nggak nyangka sih," tutur Setia.
Kabar itu akhirnya sampai kepada keluarga setelah surat Abizar diunggah dan dibagikan di media sosial. Dari sebuah tugas sederhana, nama Abizar pun ikut menjadi perhatian di kalangan teman-temannya.
Setia mengatakan putranya sangat gembira mengetahui surat tersebut benar-benar sampai kepada Teja. Kini, Abizar menyimpan harapan baru: bisa bertemu dan berbincang langsung dengan idolanya.
"Senang banget, senang banget. Dan ya harapan dia sih bisa ketemu katanya. Pengen banget lah. Ya siapa tahu nanti datang ke sekolah atau misalkan ketemu langsung. Seneng banget lah excited, apalagi reaksi teman-temannya kan udah banyak yang tahu jadi banyak yang nanya-nanya juga," kata Setia.
Dari Bobotoh Jadi Calon Penjaga Gawang
Kekaguman Abizar kepada Teja bukan muncul begitu saja. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan Persib karena sering diajak ayahnya menonton pertandingan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).
Setia mengatakan putranya mengikuti kiprah Teja, termasuk saat sang penjaga gawang tampil konsisten bersama Persib pada musim lalu.
"Memang dari awal kan sering diajak nonton ke GBLA. Jadi memang sering ngelihat, apalagi musim lalu kan Teja full ya, clean sheet juga ya. Jadi memang udah familiar kayak clean sheet gitu istilah-istilah," ujar Setia.
El Abizar Saliem Foto: istimewa |
Kebiasaan menonton pertandingan membuat Abizar mengenal dunia sepak bola lebih dekat. Ia tak hanya mengagumi Persib, tetapi juga mulai memahami peran pemain di lapangan.
Menariknya, Abizar awalnya lebih senang menonton daripada bermain sepak bola. Kondisi asma yang dialaminya membuat keluarga harus berhati-hati dalam memilih aktivitas fisik untuknya.
Setia bercerita, Abizar sempat rutin berenang. Namun, ketertarikannya terhadap sepak bola semakin besar setelah sering diajak menyaksikan pertandingan Persib secara langsung.
Ketika melihat para ball boy di pinggir lapangan, Abizar mulai bertanya mengenai kegiatan sepak bola dan sekolah sepak bola atau SSB. Dari rasa ingin tahu itulah, keinginannya untuk ikut berlatih mulai tumbuh.
"Pada saat itu tuh mulai tanya-tanya kayak ngelihat ball boy di pinggir lapang kan suka banyak ya gantian, pakai bajunya tuh ada Sasco, Uni, mulai nanya-nanya itu apa, siapa, kenapa bisa ada di situ. Itu dijelasin satu-satu, itu SSB, barulah mulai mau masuk SSB," kata Setia.
Abizar kemudian bergabung dengan SSB di daerah Ujungberung dan mencoba berlatih sepak bola. Ia sempat menjajal posisi pemain, tetapi aktivitas berlari membuatnya lebih cepat lelah. Setelah diberi pilihan, ia akhirnya mencoba posisi penjaga gawang.
"Awalnya di SSB itu kan dikasih kesempatan trial dua kali pertemuan. Sempat jadi pemain dua kali pertemuan itu. Ya itu mungkin karena asmanya kerasa ya jadi capek. Jadi waktu itu dikasih opsinya udahlah kira-kira posisi yang nggak terlalu capek, banyak lari, ya mungkin di kiper," tuturnya.
El Abizar Saliem Foto: istimewa |
Pilihan itu justru membuat Abizar semakin menikmati sepak bola. Setia mengatakan putranya mulai mengikuti latihan SSB sekitar November tahun sebelumnya. Selama menjalani latihan, keluarga tetap memperhatikan kondisi fisiknya.
Ia bersyukur Abizar bisa menjalani kegiatan tersebut dengan baik. Menurutnya, putranya justru terlihat lebih nyaman beraktivitas melalui sepak bola.
"Malah sebelumnya berenang nggak ada perubahan, malah di bola. Mungkin lebih nyaman di situ sih di bola itu ya," ujar Setia.
Mimpi Kecil yang Ingin Dijaga
Bagi Setia, melihat anaknya memiliki cita-cita dan menekuni kegiatan positif merupakan kebahagiaan tersendiri. Ia tak ingin mimpi Abizar berhenti sebagai kekaguman sesaat kepada seorang pemain sepak bola.
Sebagai orang tua, ia berharap putranya dapat terus menjaga semangat berlatih dan konsisten menjalani apa yang sudah dipilihnya.
"Ya sangat bersyukur ya maksudnya ada impian yang diungkapkan anak itu di hobinya dia, kemudian masih di jalur yang positif ya. Karena kan kalau anak-anak sekarang tuh memang terpengaruh teknologi ya, gadget biasanya impiannya yang aneh-aneh. Kalau ini sih masih on the track masih positif," kata Setia.
"Ya kalau saya sih sangat senang dan mudah-mudahan El-nya bisa konsisten dengan apa yang dia jalani sekarang ya sampai terwujud cita-citanya," imbuhnya.
Simak Video "Video: Mampukah Timnas Indonesia Hancurkan Dominasi Thailand di Asia Tenggara?"
[Gambas:Video 20detik] (bba/dir)



