Kabupaten Bandung Barat

Buram di Balik Layar, Kisah Iqbal Melawan Mata Minus

Whisnu Pradana - detikJabar
Kamis, 08 Okt 2026 21:12 WIB
bocah smp di KBB kini banyak yang berkacamata gegara mata minus kecanduan ponsel (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Bandung Barat -

Di salah satu sudut ruang kelas SMP Negeri 3 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Muhammad Iqbal Juliansyah seringkali harus menyipitkan mata. Huruf-huruf di papan tulis yang seharusnya terbaca jelas, belakangan tampak seperti bayangan yang berpendar dan sulit ditangkap indra penglihatannya.

Bocah laki-laki berusia 14 tahun itu menyadari ada yang tidak beres. Di usianya yang masih sangat belia, Iqbal harus menerima kenyataan bahwa matanya kini menyandang status minus 2.

Jarak pandangnya terbatas, objek-objek jauh tak lagi setajam dulu. Kondisi ini kerap menyulitkannya saat mengikuti pelajaran, terutama ketika ia duduk di barisan tengah. Papan tulis putih di depan kelas seringkali hanya menyisakan keremangan, memaksanya untuk terus bergantung pada catatan teman sebangku agar tidak tertinggal materi guru.

"Sudah tiga tahunan, mulai enggak bisa melihat jelas itu pas kelas 5 SD. Tapi baru hari kemarin dites mata ternyata minus 2," kata Iqbal saat berbincang dengan detikJabar, Kamis (8/10/2026).

Kabar itu menyentak batinnya. Ada rasa kaget yang sulit disembunyikan, meski ia sendiri belum sepenuhnya paham seberapa buruk kategori minus 2 bagi kesehatan mata jangka panjang. Namun, yang pasti, dunianya kini tak lagi sama tanpa bantuan lensa.

"Kaget, orangtua juga kaget dengar saya matanya minus 2. Soalnya kan di keluarga enggak ada yang pakai kacamata," kata Iqbal.

Iqbal tak menampik penyebab di balik menurunnya fungsi matanya tersebut. Ia mengakui bahwa radiasi layar ponsel telah menjadi 'teman akrab' yang mengkhianati kesehatannya. Saban hari, ia bisa menghabiskan waktu lebih dari enam jam menatap layar ponsel pintar pemberian orang tuanya tanpa jeda sedikit pun.

"Iya, kata yang tes mata saya juga kebanyakan main handphone. Saya kalau main game hampir tiap hari, paling lama 6 jam itu enggak berhenti. Ya sekarang mulai diatur waktunya biar minusnya enggak bertambah dengan cepat," kata Iqbal.

Kini, sepasang kacamata minus 2 bertengger di hidungnya. Meski ada rasa bahagia karena bisa melihat dunia dengan lebih jernih, Iqbal masih bergelut dengan rasa canggung. Ada proses adaptasi yang harus ia lalui, sebuah konsekuensi yang harus ia terima demi masa depannya.

"Belum terbiasa, masih kagok cuma lihat dari jauh sekarang lebih jelas. Karena masih baru, mungkin ada penyesuaian terus pusing-pusing sedikit," kata Iqbal.

Cerita Iqbal bukanlah kasus tunggal di lingkungannya. Alufia Putri, rekan sebayanya, juga merasakan keresahan serupa. Matanya sering terasa lelah, kabur, hingga berair. Setelah menjalani pemeriksaan, diagnosanya serupa yakni kesehatan mata yang merosot akibat ketergantungan pada layar gawai.

"Iya saya kaget juga, matanya minus 1,75. Sekarang mulai membatasi melihat ponsel," kata Alufia.



Simak Video "Video: Membuka Akses, Menguatkan Potensi"

(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork