Proyek Halte BRT Bandung: Ruang Jalan Sempit, Macet Mengintai

Proyek Halte BRT Bandung: Ruang Jalan Sempit, Macet Mengintai

Bima Bagaskara - detikJabar
Rabu, 07 Okt 2026 14:00 WIB
Pembangunan halte BRT di Bandung
Pembangunan halte BRT di Bandung (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar).
Bandung -

Pembangunan halte Bus Rapid Transit (BRT) di ruas Jalan Rajawali Timur hingga Jalan Kebon Jati, Kota Bandung, menuai sorotan. Bukan tanpa alasan, empat titik halte yang sedang dibangun di sepanjang ruas tersebut berada di tengah jalan.

Keberadaan proyek itu membuat ruang gerak kendaraan semakin terbatas. Padahal, Jalan Rajawali hingga Kebon Jati merupakan ruas satu arah yang selama ini kerap menjadi titik kemacetan, terutama pada pagi hari.

Pantauan detikJabar, Rabu (7/10/2026) pagi, kendaraan harus mengurangi kecepatan ketika mendekati titik pembangunan halte. Arus kendaraan yang melintas harus melewati ruang jalan yang menyempit akibat pekerjaan konstruksi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya pembangunan halte. Pengerjaan trotoar dan saluran air yang berlangsung di sejumlah titik turut membuat kondisi lalu lintas semakin padat.

ADVERTISEMENT

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan lebih jauh. Jika halte selesai dibangun dan BRT mulai beroperasi, ruang jalan yang sudah terbatas akan kembali digunakan untuk aktivitas bus ketika menaikkan dan menurunkan penumpang.

Jalan Rajawali Timur sendiri memiliki lebar sekitar 6-8 meter. Dengan kondisi tersebut, keberadaan halte di tengah jalan berpotensi membuat ruang kendaraan semakin sempit, terutama ketika bus berhenti di halte.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat 28 halte yang ditempatkan di koridor utama BRT atau berada di tengah jalan.

Pengendara Sudah Membayangkan Titik Penumpukan

Rizki (30), pengendara yang sehari-hari melintasi Jalan Rajawali Timur, menilai pembangunan halte di tengah jalan memang mengganggu aktivitas lalu lintas selama proses pengerjaan.

"Menurut pandangan saya untuk pekerjaan ini emang pastilah mengganggu untuk aktivitas," kata Rizki.

Sebagai pengendara yang rutin melewati kawasan tersebut, Rizki juga sudah memperkirakan kemacetan akan kembali muncul ketika BRT beroperasi.

"Kalau titik kemacetan pasti ada mungkin menumpuk di setiap halte-halte yang ada, itu pasti. Tapi untuk ke depan agak majunya lagi beberapa ratus meter itu mungkin agak normal lagi ya," ujarnya.

Menurutnya, titik perlambatan hampir tidak mungkin dihindari ketika bus berhenti di halte yang berada di tengah ruas jalan.

"Itu pasti itu. Itu udah pasti itu tiap halte pasti ada titik penumpukan pelambatan jalan, pelambatan jalan itu pasti ada," katanya.

Namun Rizki berharap pembangunan fasilitas transportasi publik tersebut tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Ia meminta pemerintah memastikan halte yang sudah dibangun benar-benar dirawat dan digunakan sebagaimana mestinya.

"Sebagai orang Bandung ya harapan saya tiap fasilitas yang dibangun terutama ini halte ya dirawat terus difungsikan dengan sebaik mungkin. Jangan sampai ngebangunnya aja bikin macet terus ke depannya nanti terbengkalai nggak jelas," tuturnya.

Proyek Kota Bandung Dinilai Terlalu Banyak Bersamaan

Selain halte BRT, Rizki juga menyoroti banyaknya proyek pengerjaan infrastruktur yang berlangsung bersamaan di Kota Bandung. Menurutnya, aktivitas konstruksi otomatis memberikan dampak terhadap pengguna jalan, mulai dari debu hingga penyempitan ruang lalu lintas.

"Kalau mengganggu sih ya jelas pasti semua terganggu karena ada pengerjaan debu lah atau kotoran. Yang saya aneh, ini pertanyaan untuk pemerintah, padahal kondisinya masih bagus kenapa diperbaiki lagi?" katanya.

Ia juga mempertanyakan pola pengerjaan sejumlah proyek yang menurutnya membuat jalan kembali dibongkar setelah sebelumnya sudah diperbaiki.

"Belum lagi galian-galian itu sering banget kan udah ditutup nanti beberapa bulan kemudian digali lagi," tegasnya.

Karena itu, ia berharap pembangunan infrastruktur di Kota Bandung dilakukan dengan perencanaan yang lebih matang agar tidak sekadar menghabiskan anggaran tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat.

"Harapannya cobalah lebih pinter sedikit gitu minimal untuk pemerintah sekarang gitu sampai ke depannya jangan cuma duitnya aja gitu," ucapnya.

Rizki juga menyampaikan pesan kepada Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. "Buat Walikota sekarang dan sampai seterusnya, situ makan dari hasil uang rakyat, cobalah kerja yang baik, yang bener sesuai dengan apa yang dijanjikan," tutur Rizki.

Halte Tengah Jalan Punya Keunggulan, Tapi Syaratnya Tak Sederhana

Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan, penempatan jalur khusus BRT di median atau tengah jalan sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan dari sisi operasional.

Menurutnya, jalur tengah dapat mengurangi gangguan dari kendaraan yang keluar-masuk bangunan, toko, maupun gang di sisi jalan. Posisi tersebut juga membuat jalur BRT lebih terbebas dari konflik dengan parkir di badan jalan serta aktivitas bongkar muat.

"Jalur eksklusif di tengah memungkinkan bus melaju konsisten tanpa terhambat oleh laju kendaraan lambat di sisi kiri. Proteksi fisik seperti separator beton lebih efektif dipasang di tengah jalan untuk mencegah kendaraan pribadi menyerobot masuk," ungkapnya.

Namun, keuntungan tersebut datang dengan konsekuensi. Halte yang berada di tengah jalan membutuhkan infrastruktur pendukung yang tidak sederhana.

Penumpang harus dapat mencapai halte dengan aman dari sisi jalan. Karena itu, dibutuhkan fasilitas penyeberangan seperti Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), pelican crossing, atau infrastruktur lain yang aman dan ramah bagi penyandang disabilitas serta lansia.

Persoalan lainnya adalah kebutuhan ruang. Penempatan jalur BRT di tengah jalan membutuhkan ruang yang cukup untuk dua jalur bus, separator, sekaligus pulau halte atau island platform.

"Membutuhkan lebar jalan yang memadai untuk menempatkan separator, dua jalur bus, dan pulau halte di bagian tengah," ujarnya.

Kemudian menurut Djoko, diperlukan anggaran pembangunan awal yang lebih besar untuk halte median, separator fisik, dan fasilitas penyeberangan yang aman.

Selain itu, halte tengah jalan juga berpotensi menimbulkan konflik pada gerakan memutar (u-turn) hingga diperlukannya akses armada khusus yang memiliki pintu kanan.

"Titik putar balik kendaraan pribadi dapat berpotensi memotong jalur bus jika tidak diatur dengan sinyal atau rekayasa lalu lintas yang ketat. Membutuhkan spesifikasi armada bus dengan pintu tinggi di sebelah kanan agar sejajar dengan halte median," kata Djoko.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video Dirut Setelah TransJ Terima detikcom Awards: Penambah Semangat"
[Gambas:Video 20detik] (bba/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads