Kritik Pengamat soal Desain Halte BRT di Cicadas Bandung

Kritik Pengamat soal Desain Halte BRT di Cicadas Bandung

Rifat Alhamidi - detikJabar
Jumat, 11 Sep 2026 15:30 WIB
Proyek halte BRT di Cicadas.
Proyek halte BRT di Cicadas (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar).
Bandung -

Proyek pembangunan halte on-corridor di Jalan Ahmad Yani, tepatnya di kawasan Cicadas, Kota Bandung menyisakan persoalan. Halte tersebut dibangun di tengah jalan yang akhirnya menimbulkan kemacetan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun detikJabar, halte BRT serupa dengan konsep on-corridor akan dibangun di 3 titik, yakni Cicadas, Stasiun Hall dan Pasar Baru. Namun kemudian, desainnya justru jauh dengan konsep yang diterapkan di Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Jakarta, halte busway biasanya didukung dengan fasilitas jembatan penyebrangan orang (JPO). Namun di Bandung, halte BRT on-corridor justru tidak dilengkapi JPO, melainkan hanya pelican crossing untuk pejalan kaki yang mau naik BRT.

Desain ini lah yang kemudian dikritik pengamat tata kota ITB, Frans Ari Prasetyo. Ia menyatakan, perancang BRT telah melakukan kesalahan dalam pembuatan desain halte dan tidak mempertimbangkan kondisi jalan di Kota Bandng.

ADVERTISEMENT

"Itu ada kesalahan tentang desain arsitektur dari haltenya itu sendiri, karena dia tidak mempertimbangkan koridor jalan tersebut," katanya saat berbincang dengan wartawan, Jumat (11/9/2026).

Pertama, Frans menyoroti pembangunan halte di Cicadas. Menurutnya, halte dengan desain tersebut seharusnya dibangun di jalan dengan skema dua arah seperti di Jalan Soekarno Hatta.

"Kalau di Jalan Soekarno Hatta, itu dimungkinakan. Kemudian kalau dia desainnya itu di tengah, dia harus bersanding dengan JPO, dengan jembatan penyeberangan seperti busway di Jakarta. Jadi jangan seenaknya juga bicara bahwa ini mengikuti halte-halte busway di Jakarta, enggak bisa gitu. Koridor jalan di Ahmad Yani itu dia pertama dia satu jalur, kalau di tengah itu untuk apa, melayani siapa dengan siapa," tegasnya.

"Berarti si desainer-nya dia tidak memahami dengan situasi jalan di situ. Koridor jalan di koridor busway di tengah itu hanya bisa terjadi kalau dia ada di dua koridor jalan yang berlawanan misalkan, kapasitas jalannya juga besar. Kalau ini akhirnya menurut saya jadi menunjukkan bahwa perencanaannya tidak matang," tambahnya.

Kemudian, Frans menilai perencanaan desain halte BRT itu terkesan terburu-buru. Pelaksananya kata dia, hanya mengejar target proyek pembangunan tanpa membuat perencanaan yang matang.

"Seharusnya kalau menurut saya pilihannya dua. Pilihannya kalau ini mau tetap di Ahmad Yani atau enggak, kalau untuk gini, halte di tengah, itu harus jalan yang dimensinya lebih lebar kayak Jalan Soekarno Hatta dan dia bersanding dengan JPO," katanya.

"Setiap tempat dia memiliki kekhasannya sendiri. Kekhasan jalan, kekhasan infrastruktur, kekhasan mobilitas orang. Harus dipikirkan itunya yang paling penting karena nanti mempergunakannya kan warganya sendiri," pungkasnya.

Ditargetkan Rampung 2 Pekan

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan merespons polemik proyek halte on-corridor BRT Bandung Raya di Jalan Ahmad Yani atau Cicadas. Konstruksi halte itu menimbulkan persoalan karena dibangun di tengah jalan.

Ditemui wartawan, Farhan mengaku saat ini sedang mengantisipasi agar dampak kemacetan di sana tidak begitu signifikan. Sebab, berdasarkan informasi yang dia terima, proyek halte itu ditarget rampung dalam 2 pekan.

"Itu sudah diduga sebelumnya, jadi saya sedang komunikasi bagaimana cara meminimalkan kemacetan. Tapi, ini kan hanya sementara saja, pengerjaannya akan cepat. Menurut kabar itu paling lama selama 2 minggu, setelah itu lancar persis seperti yang di Jalan Jakarta, itu juga cepat dalam 2 minggu selesai," kata Farhan, Jumat (11/9/2026).

Farhan juga menanggapi desain halte on-corridor BRT di Cicadas yang jauh berbeda dengan Jakarta. Di Jakarta, halte serupa didukung dengan fasilitas JPO untuk keperluan penumpang naik BRT.

Farhan pun menjelaskan bahwa JPO tidak memungkinkan dibangun karena lahannya yang sempit. Meski hanya menggunakan pelican crossing, ia mengantisipasi agar fasilitas tersebut juga bisa memudahkan penyandang disabilitas.

"Nah ini yang perlu kita perhatikan baik-baik. Kenapa tidak dibikin JPO? Karena terlalu sempit kalau untuk JPO, maka akhirnya dibikinlah jalan seperti itu. Tapi, kita akan amati terus, karena saya juga tidak mau sampai terjadi kecelakaan," ungkapnya.

"Ditambah lagi tentu saja dengan lantai yang tinggi, itu kan berarti akan ada kesulitan untuk disabilitas. Itu sebabnya sekarang saya lagi bolak-balik Jakarta ke Kementerian Perhubungan, ke Bappenas, untuk memastikan bahwa secara teknis ini memungkinkan dan tidak mengganggu keseharian masyarakat," ucapnya.

BRT Bandung Raya di Kota Bandung rencananya membutuhkan 28 halte. Masalahnya, selain minim informasi, proyek itu juga perlu diantisipasi dampaknya karena menimbulkan kemacetan.

"Itu sebabnya saya meminta kepada BRT melakukan sosialisasi lebih masif ke seluruh warga, karena kan yang tahu teknis pengerjaan semuanya BRT. Kalau saya kan mewakili warga, kenapa kita enggak dikasih tahu, kenapa kita enggak diberi alternatif. Ini yang kami lakukan terus untuk menekan BRT memberikan sosialisasi yang lebih baik, termasuk sosialisasi kepada parkir dan juga pedagang," katanya.

"Kalau dari Dishub bagaimanapun juga kita akan mengatur sedemikian rupa, sehingga, kalau kemacetan mah tidak terhindarkan. Ketika ada pekerjaan di pinggir jalan atau tengah jalan, pasti macet. Nah, maka pengaturan akan dilakukan sepagi mungkin sampai semalam mungkin. Akan ada petugas di setiap titik harus saya akan atur sedemikian rupa," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menemukan Uniknya Spot Gembok Cinta, Bandung"
[Gambas:Video 20detik] (ral/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads