Cerita Wahid Banting Setir dari Petani Jadi Tukang Rujak di Bandung

Cerita Wahid Banting Setir dari Petani Jadi Tukang Rujak di Bandung

Hakim Ghani - detikJabar
Rabu, 07 Okt 2026 07:00 WIB
Wahid, penjual rujak asal Garut yang mangkal di kawasan Lodaya, Bandung.
Wahid, penjual rujak asal Garut yang mangkal di kawasan Lodaya, Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Jarum jam menunjukan pukul 13.00 WIB, susana di kawasan Lodaya tepatnya di depan Masjid Mujahidin Muhammadiyah cuaca cukup panas. Sinar matahari siang itu terasa membakar kulit dan membuat tenggorokan kering.

Duduk di kursi taman samping Lapangan Baseball Lodaya bisa menjadi pilihan untuk sekadar beristirahat sejenak. Apalagi, di kawasan tersebut terdapat banyak penjual makanan dan minuman yang bisa diandalkan untuk melepas dahaga atau sekadar mengganjal perut yang keroncongan.

Di antara beragam pilihan kuliner di kawasan tersebut, rujak ulek yang dijajakan menggunakan gerobak bisa menjadi pilihan menarik. Kudapan satu ini sangat cocok untuk menyegarkan suasana di tengah teriknya cuaca siang hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

detikJabar, berkesempatan memesan satu porsi rujak ulek yang dibuat oleh seorang pedagang asal Garut bernama Wahid. Ada tiga pilihan rujak yang dijualnya, pertama rujak ulel, kedua rujak cuka dan ketiga rujak campur.

Pria berusia 31 tahun itu langsung meracik rujak ulek yang dipesan. Sebelum memasukan beragam jenis buah-buahan, Wahid menghaluskan bahan bumbu rujak di atas sebuah cobek berukuran cukup besar. Bumbu yang dilhaluskan terdiri dari cabai rawit, asem, kacang, terasi hingga pisang mentah.

ADVERTISEMENT

Setelah bumbu tercampur rata, Wahid langsung memasukkan aneka buah-buahan dari etalase gerobaknya. Buah-buahan itu meliputi mangga muda, jambu air, pepaya, ubi, nanas, hingga timun. Begitu semua bahan diaduk sempurna, seporsi rujak ulek buatan Wahid pun siap untuk dinikmati.

Saat dicicipi, rujak ulek racikan Wahid menawarkan sensasi yang cukup segar, diimbangi dengan sedikit rasa sepat dari pisang mentah yang dilebur bersama bumbu. Meski begitu, cita rasa rujak ini sangat pas dan diyakini cocok di lidah banyak orang.

Salah satu pembeli, Merlin (28) mengatakan, jika dia merupakan pelanggan tetap rujak ulek yang dijual Wahid.

"Sudah langganan. Seminggu bisa beli tiga kali, makannya barengan ama teman di tempat kerja," kata Merlin kepada detikJabar, Selasa (6/10/2026).

Merlin sebut, jika dia paling suka rujak ulek yang dipadukan dengan krupuk blek berwarna putih.

"Paling enak sama krupuk blek makannya, seger jam segini makan rujak," ujarnya.

detikJabar juga berkesempatan berbincang dengan Wahid, ayah satu anak ini mengatakan jika dia setiap hari mangkal didekat kawasan Lapang Lodaya. Namun untuk Sabtu dan Minggu pagi, dia berjualan di Lapang Tegalega.

"Saya jualan baru setahun, sebelum berjualan saya bertani di Garut. Jualan rujak ikut bareng mertua," kata Wahid kepada detikJabar.

Wahid sebut, jika di Lapang Lodaya sedang ada turnamen, dia kerap berjualan did alam kawasan namun jika tidak ada turnamen dia berjualan di luar, menunggu pembeli yang melintas di Jalan Sancang.

"Rujak ulek saya jual Rp25 ribu per porsi, rujak cuka Rp15 ribu, kalau campur Rp20 ribu," ucapnya.

Wahid sebut, berjualan rujak di kala musim kemarau memang cukup menggiurkan.

"Alhamdullilah di saat kemarau, ada kenaikan sekitar 20 persen, untuk penghasilan dapat Rp300-400 ribu, keuntungan tergantung, bisa mencapai Rp150 ribu," tuturnya.

Wahid menambahkan, alasan dia berjualan rujak di Bandung karena bertani di kampung tidak menentu, apalagi anaknya yang saat ini baru berumur 1 tahun yang tinggal bersama ibunya di Garut membutuhkan banyak biaya.

"Kebutuhan saja, harus ada penghasilan. Anak dan istri belum dibawa ke Bandung, paling kalau anak udah umur tiga tahunan," pungkasnya.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads