SPPG di KBB Diduga Picu 2 Kali Keracunan Massal, SLHS Terancam Dicabut

SPPG di KBB Diduga Picu 2 Kali Keracunan Massal, SLHS Terancam Dicabut

Whisnu Pradana - detikJabar
Senin, 05 Okt 2026 17:06 WIB
Suasana SPPG Panyandaan KBB yang diduga sebabkan siswa 2 kali keracunan
Suasana SPPG Panyandaan KBB yang diduga sebabkan siswa 2 kali keracunan (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Bandung -

Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Bandung Barat mengkaji pencabutan izin operasional satu SPPG Panyandaan, di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, yang diduga kembali memicu keracunan siswa.

SPPG itu sebelumnya sempat dikatikan dengan kasus keracunan massal yang menimpa siswa SDN 1 Garuda, SMPN 1 Cisarua, dan SMKN 1 Cisarua pada 15 Oktober 2025. Hampir setahun berselang, SPPG itu kembali dikaitkan dengan kasus dugaan keracunan 14 siswa SDN 1 Garuda, pada 30 September 2026.

Ketua Satgas MBG Bandung Barat, Fauzan Azima, mengatakan operasional SPPG itu kini dihentikan selama 20 hari. Tak cuma penghentian sementara operasional, pihaknya juga mempertimbangkan pencabutan Sertifikat Laik Hygiene Sanitasi (SLHS) yang menjadi salah satu persyaratan dalam operasional SPPG.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk SPPG itu sebetulnya sudah ada SLHS, mereka operasi dari Februari 2025. Ya (ancamannya) mungkin SLHS-nya dicabut juga," kata Fauzan saat dikonfirmasi, Senin (5/10/2026).

Namun pencabutan SLHS dan penghentian operasional SPPG tersebut mesti menunggu hasil pengujian sampel makanan di laboratorium. Pihaknya belum bisa memastikan apakah pemicunya memang menu MBG SPPG Panyandaan atau hal lain.

ADVERTISEMENT

"Kami saat ini belum bisa memastikan penyebabnya, apakah karena menu MBG atau bukan. Saat ini sample masih dalam uji laboratorium," kata Fauzan.

Fauzan mengatakan pihaknya bersama Dinas Kesehatan, serta TNI dan Polri sudah melakukan pengecekan ke SPPG tersebut. Hasilnya, tim menemukan fasilitas di SPPG itu sebagian belum memenuhi standar operasional prosedur (SOP) Badan Gizi Nasional (BGN).

"Belum ada gudang ompreng, ruang persiapan makanan yang masih menyatu dengan ruang persiapan porsi besar, belum terpisahnya jalur makanan bersih dan kotor. Itu kan berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kontaminasi," kata Fauzan.

Belum lagi gudang bersih yang berada di bagian depan masih menyatu dengan garasi. Kondisi tersebut perlu diperbaiki karena kendaraan yang keluar-masuk garasi berpotensi menghasilkan paparan karbon monoksida.

"Kemudian IPAL, harusnya bersih kalau tidak ada produksi. Ini menjadi catatan juga, sehingga bagaimana mekanisme IPAL, mekanisme pembuangan sampah, dan sebagainya, banyak catatannya," kata Fauzan.

Di sisi lain, para siswa SDN 1 Garuda yang diduga mengalami keracunan sudah menjalani perawatan di rumah masing-masing. Satu siswa sempat dirujuk ke RSUD Lembang namun sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik.

"Kami bersama tim dari puskesmas terus memantau kondisi siswa, semua sudah ada di rumah masing-masing. Alhamdulillah sekarang tidak ada lagi laporan tambahan siswa bergejala," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Bandung Barat, Yana Mulyana.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads