Rumah Tahan Gempa dan Ikhtiar Warga Kampung Muril Melawan Bencana

Whisnu Pradana - detikJabar
Senin, 28 Sep 2026 09:00 WIB
Rumah tahan gempa di Kampung Muril (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Bandung Barat -

Kampung Muril Rahayu, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjadi saksi bisu betapa gempa yang timbul karena aktivitas Sesar Lembang menyisakan luka dan kerusakan yang tak sedikit.

15 tahun lalu, tepatnya 28 Agustus 2011, jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WIB. Tanah tiba-tiba bergerak tanpa diawali dengan peringatan terlebih dahulu. Peringatan BMKG saat itu menunjukkan gempa 3,3 magnitudo terjadi akibat pergerakan Segmen Cimeta Sesar Lembang.

Suasana gembira menyambut Hari Idulfitri, seketika berubah menjadi kepanikan warga. Anak-anak hingga lansia berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri ke tempat yang aman sembari memastikan bumi tak lagi berguncang.

Meski magnitudonya terbilang kecil, dampak guncangan di permukaan tak main-main. Sebanyak 113 rumah warga mengalami kerusakan, dengan rincian 8 rumah rusak berat dan 105 rusak ringan.

Ade, saksi hidup Sesar Lembang, syok kala mendapatkan panggilan telepon dari anak istrinya yang mengabarkan bahwa rumah mereka ambruk usai gempa Sesar Lembang mengguncang. Saat itu ia sedang berada di kampung sebelah, bekerja sebagai tukang bangunan.

"Untungnya waktu itu anak istri lagi di luar, cuma kan rumahnya rusak. Ya sekarang ramai isu itu lagi pastinya ada kekhawatiran. Tapi mau gimana lagi," kata Ade kepada detikJabar beberapa waktu lalu.

Kebahagiaan menjelang Idulfitri berubah menjadi duka. Ratusan Kepala Keluarga (KK) terpaksa tinggal di pengungsian selama hampir dua bulan. Terlebih dirinya yang rumahnya tak bisa ditinggali akibat terdampak Sesar Lembang.

"Jadi waktu itu ya lebarannya di pengungsian, tinggal lumayan lama cuma saya lupa. Soalnya trauma kan warga juga pas ke rumah, setelah gempa itu ya ada beberapa kali gempa kecil," kata Ade.

Di sebelah rumahnya yang rusak, ia kemudian membangun rumah dari bambu untuk sementara waktu. Sembari menunggu kabar dari pemerintah daerah yang akan membantu memperbaiki rumahnya yang rusak karena bencana alam.

"Saya di rumah bambu itu sekitar 5 bulan, terus beberapa kali datang dari dinas survei untuk perbaikan rumah. Alhamdulillah rumah akhirnya diperbaiki dibantu sama pihak swasta juga," kata Ade.

Rumahnya kini jadi salah satu rumah tahan gempa di Kampung Muril. Konstruksinya dibuat lebih tahan guncangan dengan fondasi cakar ayam ditambah dengan pemasangan ram kawat di dinding rumah.

"Jadi isi konstruksi bangunan itu ram kawat biar enggak gampang ambruk dan berjatuhan materialnya. Kemudian fondasi juga diperkuat. Saya kebetulan ikut membantu pembangunan, ada 4 rumah yang saya bantu pembangunannya," kata Ade.

Namun kejadian Sesar Lembang yang berlangsung lumayan lama, membuat warga jadi terlena. Kebanyakan para penyintas gempa tahun 2011, mencoba menyembunyikan dulu pengalaman menegangkan yang mereka rasakan.

"Ya sekarang lagi santai saja, tenang meskipun sempat teringat sedikit waktu booming Sesar Lembang tahun kemarin. Sebetulnya sosialisasi itu sudah ada, cuma beberapa waktu ini belum ada lagi ya," kata Yetti.

Warga berjalan di Kampung Muril, yang pernah didera gempa akibat Sesar Lembang pada 2011 lalu Foto: Whisnu Pradana/detikJabar

Yetti, kini didapuk sebagai koordinator penanggulangan bencana gempa Sesar Lembang bilamana terjadi. Menghadapi ancaman Sesar Lembang, dirinya mengaku sudah menyiapkan upaya mitigasi bagi warganya.

"Minimal kita sudah paham untuk memitigasi diri sendiri agar tak jadi korban saat bencana terjadi. Harus lari kemana, titik kumpul dimana, tidak panik," ungkap Yetti.

Beruntung, saat ini penanda petunjuk arah jalur evakuasi sudah terpasang di sudut-sudut kampung. Marka-marka ini menjadi sarana vital bagi warga untuk mengarahkan diri menuju titik kumpul aman apabila guncangan kembali terjadi.

"Sudah ada penanda jalur evakuasi, alhamdulillah. Dari mahasiswa juga yang datang ke sini untuk sosialisasi tentang kebencanaan lumayan banyak. Cuma mungkin kita ingin ditingkatkan lagi ya mitigasi ke warganya, supaya bukan takut tapi waspada," kata Yetti.



Simak Video "Video Tito Sebut Ada Pemda Nggak Kompak Koordinasi Antisipasi Bencana"

(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork