Terjebak di Zona Merah Sukabumi: Antara Ancaman Gempa-Tembok Kemiskinan

Terjebak di Zona Merah Sukabumi: Antara Ancaman Gempa-Tembok Kemiskinan

Siti Fatimah - detikJabar
Sabtu, 26 Sep 2026 13:30 WIB
Ilustrasi Gempa Bumi.
Ilustrasi gempa (Foto: Jens Aber/Unsplash).
Sukabumi -

Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat paling aman untuk pulang. Namun bagi warga di Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, rumah sering kali menjadi saksi bisu dari kecemasan yang berulang. Setiap kali bumi bergetar, dinding-dinding yang baru ditambal kembali retak, menyisakan pertanyaan lama yang tak pernah tuntas, yaitu sampai kapan harus bertahan di tempat yang sama?

Kecemasan itu dirasakan betul oleh Rodiyah (45), warga Desa Cisarua, Kecamatan Nagrak. Ingatannya masih sangat membekas pada guncangan gempa tahun 2000 yang membuat panik warga di tempat tinggalnya.

Data 'Gempa Bumi Signifikan Merusak tahun 1821-2025' yang dirilis BMKG menyebutkan bahwa tahun 2000 terjadi gempa bumi terbesar di Sukabumi. Saat itu, 470 rumah rusak berat, 2.375 rusak ringan, dan 24 masjid rusak berat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski tahu wilayahnya berada di jalur sesar dan masuk dalam kategori rawan gempa, Rodiyah dan keluarganya memilih abai dan tetap tinggal di rumah yang sama. Plafon ambruk dan dinding retak rambut sudah menjadi pemandangan biasa yang terus disiasati dengan perbaikan mandiri.

ADVERTISEMENT

"Mau pindah pun bingung ke mana, mau beli tanah lagi uang dari mana? Belum lagi seluruh penghidupan kami ada di sini. Jadi kalau ada kerusakan seperti plafon ambruk atau dinding retak, ya diperbaiki sebisa mungkin pakai uang sendiri ketimbang harus pindah," kata Rodiyah kepada detikJabar, Sabtu (26/9/2026).

Cerita getir ini juga disaksikan oleh Milky, petugas Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (P2BK) Nagrak dari BPBD Kabupaten Sukabumi. Bertugas sejak 2019, Milky telah melihat bagaimana hantaman gempa-mulai dari Gempa Banten pada Agustus 2019 hingga dahsyatnya Gempa Cugenang pada November 2022-kembali meninggalkan luka di wilayah kerjanya.

"Dari 2019 semenjak saya menjadi P2BK Nagrak, Gempa Banten 2 Agustus 2019 dan Gempa Cugenang 21 November 2022 berdampak cukup signifikan," kata Milky kepada detikJabar.

Namun, siklus ini kian mengkhawatirkan bukan sekadar karena frekuensi gempa, melainkan kerentanan bangunan yang seolah diwariskan turun-temurun. "Kerusakan yang terjadi seringkali disebabkan rumah tidak tahan getaran, rumah sudah tua, atau konstruksi bangunan yang tidak sesuai, seperti dibangun tanpa sloof besi dan menggunakan material kayu yang sudah lapuk," ujarnya.

Di sisi lain, relawan PMI Kabupaten Sukabumi, Wahyu Wahyudin, merekam sisi lain dari bencana tahun 2000 lalu, yaitu kelelahan mental warga. Setibanya di lokasi 1,5 jam pascagempa, pemandangan yang menyambut para relawan bukanlah isak tangis histeris, melainkan kepanikan yang membeku dalam sunyi.

"Kita bisa lihat kepanikan dari mereka dengan raut wajah pandangan yang kosong. Hampir semua begitu, dan anak-anak banyak yang menangis," kenang Wahyu.

Seiring waktu, warga memang mulai terbiasa meredam kepanikan. Namun di balik kebiasaan itu, tersimpan kelelahan mental menahun.

"Kelelahan tentu ada, karena mereka menghadapi kejadian yang berulang. Yang menjadi perhatian, sebagian warga sebenarnya belum terlalu memahami fenomena alam yang sering terjadi di wilayah mereka. Karena sudah sering terjadi, akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang biasa," ungkapnya.

Tembok Kemiskinan dan Keterbatasan Mitigasi

Di sinilah batas antara kesadaran mitigasi dan realitas ekonomi berbenturan telak. Menurut Milky, warga Nagrak sebenarnya menyadari bahaya tinggal di zona rawan dan mendambakan tempat yang lebih aman. Namun, impian itu terkunci oleh tembok kemiskinan.

"Dari segi finansial korban, ketika ada anggaran pun terpaksa membangun di tempat semula karena tidak mempunyai tanah kosong di lokasi lain," ungkap Milky. Ketidakmampuan finansial membuat mereka merasa tidak punya pilihan selain terus bertahan, meski maut mengintai.

Kendala serupa juga dihadapi para relawan di lapangan. Wahyu menceritakan bagaimana PMI Kabupaten Sukabumi harus berjuang dengan keterbatasan sarana transportasi hingga minimnya personel.

"Kendala yang kami hadapi saat itu salah satunya adalah transportasi. PMI Kabupaten Sukabumi belum memiliki sarana kendaraan yang memadai untuk mobilisasi, sehingga kalau membutuhkan kendaraan kami harus menyewa. Selain itu, jumlah relawan juga masih terbatas," kata Wahyu.

Celakanya lagi, perhatian publik dan negara kerap surut begitu masa tanggap darurat tujuh hari pertama usai, meninggalkan lubang besar pada fase pascabencana akibat keterbatasan biaya.

Meski demikian, secercah kesiapsiagaan mulai tumbuh berkat pembinaan intensif relawan di Nagrak dan Caringin. Kendati demikian, edukasi mitigasi struktural jangka panjang-seperti sosialisasi peta rawan bencana dan standar bangunan tahan gempa-diakui Milky baru menjangkau fasilitas publik seperti sekolah dan kantor desa.

Jejak Panjang Gempa Sukabumi

Ancaman gempa berulang di Sukabumi bukanlah fenomena baru. Menurut peta kawasan rawan bencana (KRB), Sukabumi dibagi ke dalam 4 kawasan rawan bencana gempa bumi, yaitu KRB gempa bumi Tinggi, Menengah, Rendah, dan Sangat Rendah. Pusat gempa bumi di Sukabumi tersebar di laut maupun di darat.

Dalam peristiwa yang melanda Sukabumi, sesar yang berpengaruh besar adalah Sesar Cimandiri dan Sesar Citarik. Penelitian dari Forum Geosaintis Muda Indonesia menyebutkan bahwa peristiwa gempa bumi di Jawa Barat seperti pada tahun 1900, 1962, 1969, 1973, 1975, 1977, 1982, 2000, 2006, 2007 memiliki keterkaitan dengan Sesar Cimandiri.

Menghadapi siklus kebencanaan ini, solusi tak bisa sekadar berhenti pada penanganan darurat sepekan. Pemerintah daerah dituntut hadir membawa ketegasan regulasi tata ruang, standar bangunan tahan gempa, serta program relokasi jangka panjang yang humanis dan berbasis pendekatan kultural.

"Untuk program relokasi atau pemindahan warga ke daerah yang lebih aman, tentu perlu dilakukan dengan pendekatan yang baik. Tidak cukup hanya memindahkan masyarakat, tetapi harus ada komunikasi dan pendekatan kepada warga agar mereka memahami alasan dan manfaat dari relokasi tersebut," kata Wahyu.

Menurutnya, selama negara belum hadir memberikan solusi perumahan yang aman bagi masyarakat kecil, warga di zona merah Sukabumi akan terus menjadi penonton setia di rumah mereka sendiri, menunggu retakan berikutnya datang tanpa punya kuasa untuk melangkah pergi.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Gempa di Jepang: Rumah Terbakar, Kereta Terguling-Mal Runtuh"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads