Situ Cisanti: Tujuh Mata Air dan Filosofi Hidup yang Harum

Situ Cisanti: Tujuh Mata Air dan Filosofi Hidup yang Harum

Yuga Hassani - detikJabar
Sabtu, 26 Sep 2026 09:00 WIB
Situ Cisanti Bandung
Situ Cisanti Bandung (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Bandung -

Mentari pagi menyapa lembut di balik rimbunnya pepohonan Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Di dataran tinggi ini, embusan angin sejuk menyatu dengan hamparan panorama alam yang memanjakan mata. Di balik ketenangan itu, tersimpan sebuah telaga bening yang bersandar di kaki Gunung Wayang: Situ Cisanti.

Hamparan air seluas lima hektare ini bukan sekadar pemandangan indah di Desa Tarumajaya. Bagi masyarakat Jawa Barat, Situ Cisanti adalah napas kehidupan. Di sinilah titik nol Sungai Citarum bermula, mengalirkan air sejauh hampir 300 kilometer melintasi berbagai kota hingga bermuara di Muara Gembong, Bekasi, dan berakhir di Laut Jawa.

Jika selama ini Citarum kerap identik dengan potret pencemaran di wilayah hilir, pemandangan di hulunya justru berbanding terbalik. Airnya begitu bening, memantulkan ketenangan hutan yang masih asri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juru Kunci Situ Cisanti, Atep Permana (54), mengisahkan bahwa area ini dulunya merupakan hamparan rawa alami di bawah kaki Gunung Wayang. Transformasi menjadi danau buatan baru dilakukan oleh pemerintah pada awal milenium kedua.

ADVERTISEMENT

"Jadi ini dulunya adalah danau buatan. Nah pada mulai tahun 2001 hingga 2002 dibangun lah dan diberi nama Situ Cisanti sampai sekarang," ujar Atep saat ditemui beberapa waktu lalu.

Meski bendungannya tergolong baru, sumber mata air di lokasi ini sudah melegenda sejak zaman nenek moyang. Jauh sebelum nama Situ Cisanti disematkan, mata air ini telah dijaga secara turun-temurun oleh keluarga Atep.

"Jadi dulu wilayah ini dijaga sama orang tua. Terus pas pembangunan, orang-orang dinas mau namain titik apa, titik apanya berdasarkan konsultasi dengan orang tua saya," katanya.

Di kawasan ini, terdapat tujuh sumber mata air utama yang menjadi tumpuan hidup masyarakat, yakni Citarum, Cikahuripan, Cikoleberes, Cihaniwung, Cisadane, Cikawudukan, dan Cisanti.

"Ini dari tujuh sumber mata air tertampunglah di Situ Cisanti. Kalau dulu mah langsung dari Kaki Gunung Wayang. Kalau sekarang mah dari Kaki Gunung Wayang tertampung di Situ Cisanti, lalu dari tujuh mata air, lalu ke Sungai Citarum," jelas Atep.

Situ Cisanti BandungSitu Cisanti Bandung Foto: Yuga Hassani/detikJabar

Ia menegaskan bahwa dari titik inilah perjalanan panjang Sungai Citarum dimulai. "Ini titik nolnya sungai Citarum. Jadi, awal mula Citarum itu dari sini, yang panjang sampai Bekasi," ucapnya.

Bagi wisatawan yang berkunjung, mata air Citarum dan Cikahuripan menjadi magnet utama. Keduanya terletak berdampingan di area terdalam Situ Cisanti, tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan.

"Jadi kalau masuk, yang kanan itu Citarum, kalau yang kirinya itu Cikahuripan. Jadi dua mata air ya itu yang tersekat sama pohon yang kalau kita masuk dari sini dari pintu," ungkap Atep.

Sementara itu, beberapa mata air lainnya tersebar di pinggiran danau. Bahkan, mata air Cisanti sendiri berada sekitar dua kilometer di luar gerbang utama, meski alirannya tetap bermuara ke situ tersebut.

Bagi masyarakat setempat, ketujuh mata air ini bukan sekadar sumber air, melainkan simbol filosofi kehidupan. Mata air Citarum, misalnya, dimaknai sebagai pengingat agar manusia saling mendoakan jika ingin hidupnya 'harum'. Sementara Cikahuripan melambangkan air untuk keberlangsungan hidup.

"Jadi Cikahuripan itu adalah kehidupan, maka hirupna jeung huripna. Nah, itu Cikahuripan. Terus Cikoleberes, maka kita harus beres, mungkin urusan hati, sehari-hari atau urusan kita ya yang baik ya pokoknya harus beres, gitu," kata Atep.

Filosofi mendalam juga tersirat dari Cihaniwung dan Cisadane yang membawa pesan agar manusia tidak melulu mengejar urusan duniawi dan melupakan bekal akhirat. Sedangkan Cikawudukan, mata air keenam, menjadi pengingat untuk menjauhi sifat keras hati.

"Terus mata air Cikawudukan itu mata air yang keenam. Nah, itu tapi kita jangan nyimpen kalau weduk itu keras hati. Dendam, iri, dengki itu jangan, enggak boleh. Maka itu kita harus kalau misalkan laki-laki harus saleh, kalau perempuan harus salehah. Nah, gitu, jangan menyimpan hati yang keras hati lah," tuturnya.

Atep menjelaskan bahwa memahami dan mengamalkan makna dari keenam mata air tersebut akan membawa seseorang pada 'Cisanti' yang sesungguhnya yakni ketenangan yang disimpan dalam hati sanubari.

Situ Cisanti BandungSitu Cisanti Bandung Foto: Yuga Hassani/detikJabar

"Maka yang dari 1 sampai 6 itu dibaca dan diartikan dan dilaksanakan, maka ketemulah dengan si Cisanti. Disimpan dalam hati sanubari. Jadi kita kan baca nih, arti yang sudah tadi dijelaskan berarti harus dibaca dan dilaksanakan, maka disimpan hati sanubari," lanjutnya.

Sebagai penjaga tradisi, Atep memegang teguh amanat keluarganya untuk terus merawat kawasan ini. Berkat penjagaan yang ketat terhadap kearifan lokal, air di Situ Cisanti tetap murni dan layak konsumsi.

"Maka alhamdulillah sampai sekarang mata air ini bisa diminum. Nah sampai sekarang itu alhamdulillah kita bisa menikmati dan bisa langsung minum, aman untuk diminum," kata Atep.

Selain nilai ekologis dan filosofis, Situ Cisanti juga menyimpan jejak sejarah sebagai petilasan Prabu Siliwangi dan Dipatiukur. Di dasar salah satu mata air, terdapat sebuah batu yang diyakini masyarakat sebagai jejak kaki kiri sang raja Pajajaran.

"Mungkin kembali lagi ke keyakinan masing-masing ya, ada yang apa kita menjaga kearifan lokal di sini dan tata krama di sini artinya untuk meneruskan amanatnya itu, jangan dilebihi jangan dikurangi," kata Atep.

Hingga kini, Situ Cisanti tetap menjadi tempat bagi mereka yang ingin mencari ketenangan atau sekadar mengucap syukur. Terutama pada bulan Maulud, kawasan ini ramai dikunjungi warga yang datang dengan niat tulus menghargai alam.

"Kita bersyukur kepada yang Maha Kuasa, kita juga harus punya peran atau harus benar-benar menjaga ini alam yang dikasih sama Allah Subhanahu wa taala. Nah, mungkin ajaran dari orang tua dan leluhur dulu seperti itu," pungkasnya.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads