Sesar Garsela, Ancaman Nyata di Balik Keindahan Garut

Sesar Garsela, Ancaman Nyata di Balik Keindahan Garut

Hakim Ghani - detikJabar
Minggu, 27 Sep 2026 09:00 WIB
- Lanskap Pasirwangi Garut
Lanskap Pasirwangi GarutLanskap Pasirwangi Garut (Foto: Hakim Ghani/detikJabar)
Garut -

Di balik lanskap alamnya yang indah, Kabupaten Garut menyimpan teror yang siap datang kapan saja. Di antaranya adalah bencana alam gempa bumi darat bermagnitudo 'kecil' dari Sesar Garsela yang siap meluluhlantakkan kota berjuluk Swiss van Java.

Gempa akibat Sesar Garsela bukan isapan jempol belaka. Justru, hal tersebut merupakan bahaya laten yang harus diwaspadai oleh berbagai pihak yang menghuni kota di selatan Bandung ini.

Dalam tiga tahun terakhir, gempa bumi darat yang disebabkan aktivitas Sesar Garsela di wilayah Garut setidaknya datang dua kali. Yakni, berkekuatan M 4,3 pada 1 Februari 2023, dan gempa M 4,2 di tanggal 7 Desember 2024.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di kejadian yang pertama, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut mencatat total ada sedikitnya 495 rumah yang mengalami kerusakan dalam insiden gempa bumi yang terjadi sekitar jam 22.57 WIB itu.

ADVERTISEMENT

Sedangkan di momen gempa kedua, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, dalam Katalog Gempa Bumi Signifikan Merusak 1821-2025, dilihat detikJabar Rabu, (23/9), ada 110 rumah rusak sangat ringan, 31 rumah rusak ringan, dan 9 rumah rusak sedang akibat kejadian itu.

Terkait bencana tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Garut Aah Anwar Saefulloh menuturkan, bantuan-bantuan untuk masyarakat yang menjadi korban dua kejadian tersebut sudah rampung didistribusikan. Duitnya bersumber dari anggaran pemerintah pusat dan daerah.

"Yang rusak ringan dan sedang dari BNPB. Rusak sangat ringan serta fasilitas umum dari Pemkab Garut. Pencairannya sudah selesai secara bertahap. 40 persen, 30, 20, dan 10 persen," ungkap Aah.

Potensi Kerugian Rp 39,7 Triliun di Dinding Bata Tanpa Tulang

Potret kerusakan gempa bumi yang terjadi di Pasirwangi Garut tahun 2024Potret kerusakan gempa bumi yang terjadi di Pasirwangi Garut tahun 2024 Foto: Hakim Ghani/detikJabar

Namun sayangnya, bantuan yang diberikan pemerintah tersebut hanya akan memperbaiki fisik bangunan rumah 'tanpa tulang' milik masyarakat. Sebab, hampir seluruh korban tidak membangun ulang rumahnya dengan standarisasi tahan gempa.

"Tidak (dibangun standar tahan gempa). Kalau rusak ringan, hanya memperbaiki yang ada. Kecuali kalau rusak berat, semuanya. Kalaupun ada yang swadaya, itu dipersilakan," katanya.

"Tidak ada yang rusak berat (akibat gempa bumi 2024). Itu hasil pendataan BNPB. Karena indikatornya itu dari BNPB," ucap Aah menambahkan.

Dua kali gempa bumi yang terjadi itu adalah sinyal tanda bahaya. Sebab, sesar Garsela bisa bergoyang kapan saja hingga menyebabkan gempa bumi itu muncul kembali. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan hari itu akan datang.

Di Garut sendiri, sedikitnya ada 3 kecamatan inti yang masuk ke dalam Zona Sesar Garsela. Yakni Pasirwangi, Samarang, dan Bayongbong. Yang membuat mencengangkan adalah data Kajian Risiko Bencana di Jawa Barat yang dirilis oleh BPBD Jawa Barat.

Dalam laporan setebal hampir 300 halaman itu, BPBD memprediksi Garut adalah kabupaten di Jawa Barat yang menanggung potensi kerugian fisik tertinggi yang disebabkan oleh gempa bumi.

Nilainya mencapai Rp 39.765.786.760.000 atau Rp 39,7 Triliun, dengan luas bahaya tinggi gempa mencapai 185.637 hektar. Parahnya dari nominal tersebut, dari total 2,75 juta jiwa warga Garut, 66 persen di antaranya, atau 1,82 juta jiwa merupakan masyarakat dengan klasifikasi ekonomi menengah ke bawah.

Pasirwangi Menjadi Pusatnya

Di antara kecamatan-kecamatan yang masuk zona rawan paparan Sesar Garsela, Kecamatan Pasirwangi adalah yang paling rentan. Dari kedua gempa yang pernah terjadi saja... kecamatan dengan luas 4.670 hektar yang dihuni 67.975 jiwa itu adalah daerah yang paling banyak kerusakannya.

"Yang terpapar paling parah itu ada dua desa. Yakni Barusari, dan Padaawas. Itu sampai sempat dievakuasi sebagian, warga yang ada di daerah sesar dan retakan," ungkap Bambang Rudijanto, Camat Pasirwangi.

Bambang sedikit bercerita mengenai pengalamannya mengevakuasi masyarakat yang terdampak bencana. Tapi justru, dampak terparah dari gempa bumi yang terjadi malah ketika gempa M 5.0 Bandung terjadi di tanggal 18 September 2024, kata Bambang.

Saat itu, warga di Barusari dan Padaawas bahkan hingga seminggu mengungsi di tempat yang aman karena khawatir terjadinya gempa bumi susulan, di kecamatan yang menjadi permukiman warga tertinggi di Garut, dengan ketinggian 1.300 Meter di Atas Permukaan Laut (MDPL) itu.

"Atas instruksi dari PVMBG, seminggu saat itu baru boleh kembali. Setelah safety. Setelah tidak ada lagi pecahan atap yang akan terindikasi jatuh, kemudian tanah dipastikan tidak ada retakan atau sesar lagi," ungkap Bambang.

Miris memang. Daerah yang tampak asri di pinggiran kota Garut ini menanggung potensi kerusakan fisik termahal di Jawa Barat. Namun, 2 dari 3 warga yang mendiaminya adalah penduduk kelas ekonomi bawah yang tidak mampu membangun rumah yang tahan gempa.

Tahan gempa yang dimaksud adalah standarisasi bangunan dengan 'tulang', atau beton yang menjadi penyangga bangunan agar tetap kokoh. Bahkan, bisa dikatakan hanya ada dua bangunan saja yang tercatat direnovasi dengan standarisasi keamanan usai dihantam gempa bumi itu.

Kedua bangunan tersebut adalah ruangan kelas di SD Negeri 3 dan 4 Barusari, Kecamatan Pasirwangi. Kedua bangunan ini diperbaiki kembali setelah gempa M 5.0 Bandung tanggal 18 September 2024.

Kabarnya, bangunan tersebut menggunakan teknologi mutakhir, yakni batu-bata yang lebih ringan namun kokoh karena terbuat dari plastik daur-ulang. Namun, inisiatif tersebut bukan berasal dari pemerintah, melainkan bantuan swasta dari salah satu yayasan terkemuka.

Jadi, intinya, di Kabupaten Garut yang sudah diprediksi akan menanggung potensi kerugian fisik tertinggi akibat gempa bumi di Jawa Barat saja, tidak ada yang tahu mereka harus berbuat apa. Tak berdaya menunggu bencana, bahkan untuk sekadar mengubah struktur bangunan menjadi tahan gempa, hanya karena kurang biaya.

"Kalau bencana, kita tidak bisa menilai. Baik itu ancaman, kerugian, materi dan mitigasi. Kita hanya koordinator, memfasilitasi penyaluran penanganan kewilayahan. Terkait besaran kerugian, prediksi, kita tidak bisa menilai itu. Yang jelas itu, kita menunggu instruksi dari atas," ungkap Bambang.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads