Kabupaten Cianjur luluh lantak usai diguncang gempa dangkal berkekuatan magnitudo 5,6 pada 2022 lalu. Sebanyak 105 ribu bangunan rusak, dan 600 orang meninggal dunia.
Namun selain gempa dahsyat pada empat tahun lalu, ternyata sejak tahun 1800-an, sudah terjadi belasan kali gempa merusak di Kabupaten Cianjur.
Berdasarkan data dari Badan Geologi, gempa merusak pertama terjadi pada 1834 tepatnya pada 10 Oktober yang terasa di Cianjur dan Bogor. Gempa tersebut menyebabkan kerusakan bangunan dan badan jalan. Tetapi pusat gempa dan kekuatannya belum diketahui lantaran tak ada catatan tertulis pada saat itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu pada 15 Februari 1844 juga terjadi gempa bumi yang merusak rumah penduduk di Cianjur. Berselang 66 tahun, kawasan Cianjur dan Rajamandala Kabupaten Bandung Barat juga dilanda gempa bumi dengan kategori VI MMI.
Pada 21 Januari 1912 juga terjadi gempa bumi yang merusak di Kecamatan Campaka dan Cibeber.
Pada arsip online KITLV/Universitas Leiden juga tercatat gempa yang merusak banyak bangunan di Cianjur pada Maret 1897.
Di sisi lain, dari situs Kementerian ESDM tercatat gempa dahsyat berkekuatan 7,3 skala Richter atau magnitudo juga pernah menguncang Cianjur pada 2009 lalu. Gempa yang berpusat di tengah laut selatan Cianjur itu menyebabkan longsor di Desa Cikangkareng Kecamatan Cibinong.
Gempa tersebut menyebabkan puluhan orang meninggal dan ribuan rumah di Cianjur rusak.
Intensitas gempa merusak dengan pusat berada di kedalaman dangkal pun semakin sering terjadi pada 2022 hingga 2026.
Pada 21 November 2022, terjadi gempa akibat aktivitas Sesar Cugenang berkekuatan magnitudo 5,6 yang meluluhlantakkan Cianjur.
Kurang dari sebulan kemudian, Cianjur juga diguncang gempa berkekuatan magnitudo 5,6, menyebabkan kerusakan bangunan di Cianjur dan Garut.
Gempa cianjur 1897 Foto: KITLV Leiden University |
Di 2023, terjadi dua gempa dengan masing berkekuatan magnitudo 4,1 pada 29 Maret yang berpusat di Cilaku dan kekuatan 5,1 magnitudo di Kecamatan Leles.
Pada 2024 terjadi satu gempa merusak berkekuatan magnitudo 3,0. Meskipun guncangannya tidak besar, pusat gempa yang ada di kedalaman 5 kilometer menyebabkan 7 sekolah rusak.
"Terbaru pada 1 September 2026 terjadi gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,3, akibat aktivitas sesar Cisokan," ujar Penyelidik Bumi Utama Badan Geologi Supartoyo, Rabu (23/9/2026).
Menurut dia, banyak gempa di Cianjur yang terjadi di darat dan dangkal, sehingga dampaknya sangat merusak.
"Kalau di laut, meskipun kekuatan guncangannya besar tetapi kedalaman pusat gempanya sangat dalam, sehingga dampaknya tidak terlalu besar. Berbeda dengan gempa Cianjur 2022, gempanya dangkal dengan kekuatan magnitudo 5,6, menyebabkan banyak rumah rusak dan korban jiwa," kata dia.
Dia menambahkan, ada siklus perulangan terkait gempa, tapi waktunya tidak menentu. "Siklus itu ada perulangan, tapi perulangannya pada kondisi ketidakaturan dalam ketidakaturan. Intinya tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi," kata dia.
Kepala BPBD Kabupaten Cianjur Iwan Karyadi, mengatakan Cianjur memang menjadi daerah dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di Indonesia, salah satunya rawan bencana gempa bumi.
"Baik gempa merusak atau tidak merusak kerap terjadi. Makanya kami selalu gencar sosialisasi terkait apa saja yang harus dilakukan jika terjadi gempa. Mitigasi bencana juga terus dilakukan," pungkasnya.
(yum/yum)

