Enam Buku dari Balik Jeruji Sukamiskin

Enam Buku dari Balik Jeruji Sukamiskin

Sudrajat - detikJabar
Sabtu, 26 Sep 2026 11:30 WIB
Kamis (24/9/2026) pagi, buku karya Joko T. Suroso diluncurkan dan dibedah di Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung.
Kamis (24/9/2026) pagi, buku karya Joko T. Suroso diluncurkan dan dibedah di Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung. (Foto: Istimewa)
Bandung -

Peluncuran dan bedah buku lazimnya berlangsung di toko buku, kampus, perpustakaan, atau ruang diskusi. Kamis (24/9/2026) pagi, sebuah buku justru diluncurkan dan dibedah dari balik tembok tinggi Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung. Tempatnya di Ruang Pesantren di dalam kompleks lapas. Penulisnya bukan akademisi atau sastrawan, meski punya sederet gelar akademis. Ia adalah Joko T. Suroso, yang sudah sekitar tiga tahun menghuni Sukamiskin. Sebelumnya ia menghuni lapas di Manado selama sekitar setahun.

Buku berjudul Doa Warisan Para Nabi dan Kekasih Allah: Khazanah Doa Istimewa Penembus Langit, Menghadapi Prahara Kehidupan itu merupakan karya keenam yang diselesaikan Joko selama berada di lapas.

Pihak Lapas bekerja sama dengan Yayasan Warga Binaan Indonesia Bangkit menggelar acara tersebut. Bahkan Kepala Lapas Sukamiskin Dr. Tr. Nanank Syamsudin menulis kata pengantar buku, sementara Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri dan KH Miftah F.R. tampil sebagai pembahas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Buku setebal 276 halaman tersebut menghimpun doa para nabi, Rasulullah, dan orang-orang saleh yang dikaitkan dengan berbagai persoalan kehidupan. Dalam pengantarnya, Joko menyebut buku itu lahir dari titik nadir kehidupannya setelah perkara hukum membawanya ke penjara.

ADVERTISEMENT

"Ia lahir dari cobaan luar biasa yang Allah Swt timpakan melalui penzaliman penegak hukum dan penguasa. Dari hari-hari ketika saya merasa dunia begitu gelap, begitu sempit, dan begitu tidak adil," tulis Joko.

Pernyataan itu merupakan pandangan Joko terhadap perkara yang menjeratnya. Namun, menjalani pidana kemudian mengubah cara ia menghadapi keadaan. Ketika kebebasan hilang dan kehidupan berubah drastis, ia menemukan ruang lain untuk bertahan: membaca, menulis, dan berdoa.

Merancang Draf di Manado

Ketika masih berada di Manado, ia mulai merancang beberapa buku dan menuangkan draft awal dengan tulisan tangan. Seluruh naskah itu kemudian diselesaikan setelah ia berada di Sukamiskin. Pilihan tema keagamaan juga bukan sesuatu yang baru muncul di penjara. Sejak mahasiswa, Joko mengaku aktif dalam kegiatan rohani Islam dan mengikuti berbagai pengajian. Pengalaman itulah yang kemudian banyak mewarnai buku-bukunya.

Lima buku sebelumnya berjudul "Shalawat Dahsyat: Jalan Cinta dan Keselamatan", "Shalat Ngasal atau Shalat Khusyu?", "Jatuh Itu Biasa, Bisa Bangkit Itu Baru Luar Biasa" (dua jilid), "Bulan Suci Ramadhan Jamuan Ilahi", dan "Jangan Pulang dengan Tangan Hampa".

Produktivitas itu dibangun melalui kebiasaan sederhana. Joko pernah mengikuti kursus menulis yang antara lain mengajarkan disiplin menghasilkan 500 hingga 1.000 kata setiap hari. Kebiasaan tersebut dibawanya ke dalam lapas. Pagi menjadi waktu favoritnya menulis. Jika berbenturan dengan kegiatan olahraga atau aktivitas pembinaan, pekerjaan dilanjutkan siang hari selepas salat Zuhur.

Seluruh proses penulisan dilakukan tanpa laptop. Aturan lapas tidak mengizinkan warga binaan membawa perangkat tersebut. Joko akhirnya kembali ke cara paling dasar seorang penulis: kertas dan pena. Setiap kali anggota keluarga membesuk, naskah-naskah diserahkan untuk disalin ulang ke komputer. Joko berharap kelak ada mekanisme yang memungkinkan warga binaan menggunakan laptop secara terbatas dan terkontrol untuk kepentingan produktif seperti menulis buku.

Mengajar hingga Pengajian

Selain menulis, kegiatan keagamaan yang telah dimulai sejak mahasiswa berlanjut di dalam lapas. Joko mendapat kesempatan mengisi materi sekali dalam sepekan. Ia juga pernah membuat kajian khusus mengenai salat khusyuk yang berlangsung setiap pekan selama beberapa bulan.

Sesekali ia mengisi kegiatan di masjid maupun kajian bersama warga binaan kasus pidana umum. Materinya tidak selalu tentang ibadah. Dua jilid Jatuh Itu Biasa, Bisa Bangkit Itu Baru Luar Biasa, misalnya, menjadi bahan kajian motivasi untuk mereka yang sedang menjalani masa pidana.

Menurut Joko, pihak Lapas Sukamiskin mendukung kegiatan menulis tersebut. Pada buku-buku sebelumnya, pejabat bidang pembinaan memberikan kata pengantar. Untuk buku keenam, kata pengantar ditulis langsung oleh Kepala Lapas Sukamiskin Nanank Syamsudin.

"Menulis itu sebagai bagian dari proses pembinaan. Masa pidana membawa beban, kehilangan, dan pergulatan batin yang tidak selalu mudah diceritakan kepada orang lain," tulisnya dalam pengantar buku.

Buku keenam Joko terutama ditujukan kepada orang yang sedang menghadapi persoalan berat dan ingin berdoa, tetapi kesulitan merangkai kata. Ada kalanya, menurut dia, seseorang sangat ingin menyampaikan kegelisahan kepada Tuhan, tetapi tidak tahu apa yang harus diucapkan.

Karena itu, isi buku tidak dikelompokkan berdasarkan kategori keilmuan, melainkan situasi yang mungkin sedang dialami pembaca. Antara lain Ketika Hati Terluka oleh Kezaliman, Ketika Ditimpa Sakit yang Menahun, serta Ketika Terlilit Kemiskinan dan Kebutuhan.

Setiap bagian memuat doa dalam teks Arab beserta terjemahan dan penjelasan mengenai keadaan maupun waktu yang sesuai untuk membacanya. "Buku ini saya tulis untuk teman-teman yang sedang menjalani ujian berat di lapas dan rutan, tetapi juga bisa dibaca siapa saja yang sedang menghadapi ujian sangat berat," ujar Joko.

Sebagian buku tersebut akan dibagikan gratis kepada warga binaan di Lapas Sukamiskin, Lapas Banceuy, Lapas Perempuan Bandung, Rutan Kebon Waru, dan Rutan Perempuan Bandung. Dari lima buku sebelumnya, Yayasan Warga Binaan Indonesia Bangkit telah menyalurkan hampir 3.000 eksemplar kepada penghuni lima lapas dan rutan tersebut.

Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung Lilis Sulastri dalam pengantar buku tersebut menyampaikan pendapat senada. Seseorang, kata dia, dapat bebas secara fisik, tetapi jiwanya masih terkurung oleh dendam, rasa bersalah, dan masa lalu. "Jeruji bisa membatasi gerak tubuh, tetapi tidak boleh membatasi pertumbuhan jiwa. Masa lalu mungkin tidak dapat dihapus, tetapi masa depan belum selesai ditulis," katanya.

Lilis menyebut keputusasaan sebagai "penjara kedua": keyakinan bahwa kehidupan telah selesai dan tidak ada lagi masa depan yang pantas diperjuangkan.

Joko mengaku menghadapi "penjara kedua" itu lewat menulis. Produktivitas dari balik jeruji memang bukan sesuatu yang baru. Buya Hamka mengerjakan sebagian besar Tafsir Al-Azhar dalam tahanan, sedangkan Pramoedya Ananta Toer merintis kisah yang kemudian dikenal sebagai Tetralogi Buru selama berada di Pulau Buru.

Konteks, perkara, dan karya mereka tentu berbeda. Namun, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa penjara dapat membatasi kebebasan fisik tanpa harus menghentikan seseorang membaca, berpikir, dan berkarya.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads