Kenapa Bandung Disebut Paris Van Java? Ini Sejarah dan Asal-usulnya

Kenapa Bandung Disebut Paris Van Java? Ini Sejarah dan Asal-usulnya

Zaenab Nurhabibah - detikJabar
Jumat, 25 Sep 2026 22:30 WIB
Suasana Kota Bandung
Suasana Kota Bandung (Foto: Wisma Putra/detikJabar).
Bandung -

Bandung dikenal sebagai salah satu kota di Indonesia yang memiliki banyak julukan, salah satu yang paling populer adalah Paris van Java, yang secara harfiah berarti "Paris-nya Jawa".

Dari berbagai versi yang berkembang, julukan Paris van Java memiliki sejarah yang cukup panjang. Namun, dari mana sebenarnya sebutan Paris van Java berasal?

Sebelum mendapat berbagai julukan, Bandung sendiri memiliki cerita mengenai asal-usul namanya. Ada beberapa versi yang berkembang di masyarakat, salah satunya mengaitkan nama Bandung dengan kata "Bendung" atau bendungan yang berkaitan dengan terbentuknya Danau Bandung Purba akibat aliran lava Gunung Tangkuban Parahu yang menutupi Sungai Citarum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada pula cerita yang berhubungan dengan kondisi geografis Bandung pada masa lampau dan terbentuknya wilayah cekungan yang kemudian menjadi tempat berkembangnya kota.

Kenapa Bandung Dijuluki Paris van Java?

Salah satu versi mengenai asal-usul Paris van Java dijelaskan dalam jurnal Nandang Rusnandar berjudul Sejarah Kota Bandung Dari "Bergdessa" (Desa Udik) Menjadi Bandung "Heurin Ku Tangtung" (Metropolitan).

ADVERTISEMENT

Menurut catatan tersebut, istilah Paris van Java berkaitan dengan perkembangan Bandung pada awal abad ke-20 yang saat itu terdapat pembangunan Jalan Raya Pos atau De Grote Postweg pada 1810 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels.

Pembangunan jalan yang membentang sekitar 1.000 kilometer dari Anyer hingga Panarukan tersebut melewati Bandung dan membuat wilayah ini semakin terhubung dengan daerah-daerah lain di Pulau Jawa.

Seiring meningkatnya mobilitas orang dan barang, aktivitas ekonomi di Bandung pun ikut berkembang menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, perkebunan, hingga permukiman, sehingga bangunan-bangunan baru mulai bermunculan dan tata kota juga semakin diperhatikan.

Sejumlah kawasan di sekitar Bandung ditata dan dilestarikan, termasuk wilayah Cikapundung, Lembang, Tamansari, Palasari, Jayagiri, Ciumbuleuit, hingga Manglayang dan Arcamanik. Beberapa situ dan air terjun di sekitar Bandung juga mendapat perhatian sebagai bagian dari kawasan alam.

Menariknya, menurut versi Nandang Rusnandar, istilah Paris van Java justru awalnya memiliki nuansa sindiran.

Cerita tersebut berkaitan dengan Congrès Internationaux d'Architecture Moderne (CIAM) atau Kongres Internasional Arsitektur Modern yang berlangsung di Château de la Sarraz, Swiss, pada Juni 1928.

Dalam catatan Nandang, arsitek Belanda, Hendrik Petrus Berlage, menilai perkembangan arsitektur Bandung saat itu terlalu berkiblat pada gaya Barat dan dianggap kurang memperlihatkan karakter Hindia atau ciri khas daerah tropis.

Bandung pun kemudian disebut "Bandoeng Parijs van Java" yang menggambarkan Bandung sebagai kota yang pembangunan dan gaya arsitekturnya dianggap terlalu dekat dengan Paris.

Jadi, berdasarkan versi ini, Paris van Java pada awalnya bukan semata-mata pujian terhadap keindahan Bandung. Namun, seiring waktu sebutan tersebut justru semakin dikenal dan melekat sebagai identitas Bandung.

Jalan Braga Ikut Memperkuat Julukan Paris van Java

Perkembangan Bandung juga tak dapat dipisahkan dari aktivitas perkebunan di wilayah Priangan pada awal abad ke-20. Kehadiran para pengusaha perkebunan turut mendorong pembangunan berbagai fasilitas seperti hotel, kantor, pertokoan, tempat hiburan, hingga sekolah.

Salah satu kawasan yang kemudian berkembang pesat adalah Jalan Braga yang dulunya hanya berupa jalur pedati, namun kemudian berubah menjadi pusat perdagangan dan hiburan, terutama bagi masyarakat Eropa.

Suasana pertokoan di kawasan Braga menyerupai pusat kota di Eropa, dengan berbagai barang jualan yang juga mengikuti tren Eropa. Bahkan sejumlah bangunan bergaya kolonial masih berdiri hingga kini dan menjadi jejak perkembangan tersebut.

Beberapa bangunan yang pernah menghiasi kawasan Braga dan sekitarnya antara lain gedung Javasche Bank yang kini menjadi Bank Indonesia, gedung Van Dolph yang kemudian dikenal sebagai Landmark, serta Gedung Gas Negara.

Selain itu, dalam buku Deritapun Dapat Ditaklukkan, Entin Supriatin menyebut bahwa julukan Paris van Java turut berkaitan dengan banyaknya toko di Jalan Braga yang menjual produk fashion dari Paris.

Salah satu toko yang dikenal adalah Au Bon Marché Modemagazijn yang menawarkan pakaian dan busana yang mengikuti tren mode Paris. Kehadiran toko semacam ini membuat masyarakat Bandung, khususnya kalangan tertentu pada masa itu, dapat mengikuti gaya fesyen yang sedang berkembang di Eropa.

Berbagai Julukan Kota Bandung

Paris van Java bukan satu-satunya julukan yang melekat pada Bandung. Kota ini juga dikenal sebagai Kota Kembang yang berkaitan dengan citra Bandung sebagai kota yang hijau dan memiliki banyak tanaman serta bunga.

Bandung juga mendapat sebutan Kota Konferensi atau Kota Asia Afrika karena menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika pada 1955. Ada pula sebutan Kota Kreatif yang berkaitan dengan perkembangan industri kreatif di kota ini.

Sementara itu, istilah Bandung Lautan Api memiliki latar belakang sejarah perjuangan. Sebutan tersebut merujuk pada peristiwa pembumihangusan sebagian wilayah Bandung pada 1946 dalam rangka perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Kini, jejak-jejak sejarah masih dapat dilihat melalui bangunan-bangunan lama, kawasan Braga, ruang terbuka hijau, hingga berbagai peninggalan arsitektur yang tersebar di Kota Bandung.

Tak heran jika sebutan Paris van Java masih bertahan sebagai salah satu identitas yang paling dikenal dari Kota Bandung.



(mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads