Petak rel kereta api Cisaat-Cibadak di wilayah Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, kembali memakan korban jiwa.
Tragedi tewasnya Mimin (63), seorang nenek pemulung yang tertemper kereta api sepulang menjual rongsokan di Kampung Babakan RT 05/07, Kamis (24/9/2026), membuka kembali luka lama sekaligus memicu desakan keras warga terkait minimnya pengamanan jalur rel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jalur rel di kawasan Karangtengah tercatat berulang kali menjadi saksi peristiwa kecelakaan maut. Pada pertengahan Juni 2026 lalu, tabrakan maut antara KA Pangrango dan sebuah truk boks terjadi di perlintasan sebidang resmi tidak terjaga JPL 36 KM 43+200/300.
Pentalan truk saat itu merenggut nyawa seorang pemotor serta melukai parah sopir truk dan seorang warga yang tengah membuang sampah. Palang pintu di lokasi tersebut diketahui rusak bertahun-tahun dan hanya mengandalkan penjagaan sukarela warga setempat.
Belum reda ingatan publik, petaka serupa kembali merenggut nyawa Een Suhaeni (50) di lintasan KM 40+700 dekat jembatan Kampung Kamandoran pada awal September 2026.
Korban terpental ke jurang sedalam 15 meter usai tersambar KA Pangrango relasi Sukabumi-Bogor saat hendak mengambil air bersih di sekitar jalur rel.
Kini, insiden maut kembali terulang menimpa Mimin yang tewas terpental di dekat jembatan gorong-gorong usai tertemper kereta api dari arah Sukabumi menuju Bogor.
Rentetan peristiwa berdarah ini kian mempertegas sorotan warga terhadap fasilitas palang pintu di perlintasan yang dinilai hanya menjadi pajangan belaka.
Kondisi tersebut dikeluhkan oleh Vanvan, salah seorang warga yang kerap melintas di perlintasan rel Karangtengah. Ia menyebutkan bahwa infrastruktur palang pintu dan pos penjagaan sebenarnya telah berdiri, namun sama sekali tidak pernah difungsikan.
"Memang enggak digunakan. Ada mah ada, cuman enggak digunakan. Enggak ada sirine. Kan biasanya kalau ada palang pintu itu digunakan, ditutup gitu kan. Ini mah enggak ditutup, enggak, enggak digunakan," keluh Vanvan saat ditemui di lokasi perlintasan.
Kepala Dusun Desa Karangtengah, Ferdi, menegaskan bahwa titik perlintasan di wilayahnya sudah sangat mendesak untuk mendapatkan penjagaan resmi.
"Sama yang sekarang, berarti sudah dua kali, Pak. Saya sudah pernah mengingatkan untuk di penjagaan di sana ya, di perlintasan, tapi belum terealisasi juga hingga sekarang juga akhirnya kan kejadian lagi korban gitu, korban berikutnya," ungkap Ferdi di lokasi kejadian.
Ferdi pun mendesak adanya langkah konkret dari pihak PT KAI maupun pemerintah daerah agar rasa cemas masyarakat tidak terus berlarut.
"Harapannya sih ada tindakan langsung ya dari pihak PT KAI dan dari pemerintah yang setempat juga, dari para tokoh juga ya, agar warga kami tidak cemas dan takut terjadi lagi kejadian bertabrakan ini," pungkasnya.
(sya/orb)
