Pemerintah Kota Tasikmalaya memperketat pelacakan kasus tuberkulosis (TB) hingga ke lingkup keluarga menyusul tingginya temuan kasus di wilayah tersebut. Berdasarkan pendataan langsung ke rumah warga, tercatat 852 penduduk kini tengah menjalani pengobatan TB, dengan mayoritas pasien berasal dari kelompok usia produktif.
Data Tim Penggerak PKK menunjukkan penderita terbanyak berada pada rentang usia 15 hingga 64 tahun. Mobilitas harian yang tinggi pada kelompok usia ini diduga menjadi faktor utama cepatnya penyebaran kuman. Selain faktor interaksi sosial, kondisi lingkungan yang tidak sehat turut memperburuk situasi.
Ketua TP PKK Kota Tasikmalaya, Elvira Kamarrow Putri, menyoroti kaitan erat antara buruknya sanitasi pemukiman dengan lonjakan kasus TB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rata-rata sanitasinya buruk, sekitar 79 persen belum punya septic tank. Kasus TB-nya tinggi," kata Elvira di sela kegiatan tracing TB terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kelurahan Siaga TB Cilembang RW 15, Kecamatan Cihideung, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan ini turut ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus dan Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus.
Elvira menjelaskan, sejauh ini sebanyak 4.487 anggota Dasawisma telah menyisir sekitar 508.623 warga atau 66 persen dari total sasaran skrining. Dari pemetaan tersebut, pola penularan pada usia kerja terlihat sangat dominan.
"Kasus TB itu tertinggi antara usia 15 sampai 64. Penyakit ini menular di saat dia mulai bekerja, dia banyak berinteraksi," katanya.
Dalam teknis di lapangan, setiap anggota Dasawisma memantau 10 hingga 20 kepala keluarga. Mereka bertugas mencatat kondisi fisik rumah, fasilitas sanitasi, hingga mendeteksi gejala awal TB pada warga.
"Peran Dasawisma ini selain untuk pendataan, mereka juga promosi kesehatan, PHBS, dan juga skrining kesehatan," tutur Elvira.
Sebagai langkah intervensi, pemerintah kini mengubah strategi penanganan. Fokus pemeriksaan tidak lagi hanya menyasar warga yang menunjukkan gejala sakit, tetapi juga menyisir kontak erat yang tinggal serumah dengan pasien.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa penanganan TB merupakan prioritas nasional mengingat posisi Indonesia dalam peta kesehatan global.
"Indonesia negara nomor dua kasus TBC-nya di dunia. Indonesia nomor dua tertinggi di dunia," kata Benjamin.
Ia juga menyampaikan pesan khusus dari Presiden Prabowo Subianto yang menaruh perhatian serius terhadap isu ini.
"Pak Prabowo bilang, masa mau jadi negara maju kasus TBC-nya banyak, kasihan rakyat Indonesia," ujarnya.
Benjamin optimistis angka TB bisa ditekan asalkan pasien memiliki disiplin tinggi dalam menjalani pengobatan. Menurutnya, peluang sembuh bagi pasien TB sangat terbuka lebar.
"Yang diobati sembuhnya di atas 95 persen, kecuali yang enggak taat," katanya.
Untuk memutus rantai penularan di klaster keluarga, pemerintah akan memberikan obat pencegahan bagi mereka yang tinggal satu atap dengan penderita.
"Kalau di rumah kita ada kakak kita sakit, tiap hari makan bareng, itu harus dapat obat pencegahan," bebernya.
Benjamin menekankan bahwa penyelesaian masalah TB memerlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari perbaikan infrastruktur sanitasi hingga memastikan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat.
