Ngatiyana Pindah ke Golkar, Ini Kata PKB

Ngatiyana Pindah ke Golkar, Ini Kata PKB

Mochamad Solehudin - detikJabar
Senin, 21 Sep 2026 22:06 WIB
For Banner Quick Count Purpose
PKB (Foto: Google).
Bandung -

Kabar mengejutkan datang dari panggung politik Kota Cimahi. Wali Kota Ngatiyana secara resmi didapuk menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kota Cimahi untuk masa bakti 2026-2030. Langkah ini sontak memicu reaksi dari DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Barat, partai yang selama ini menaunginya.

PKB mengaku kaget sekaligus menyayangkan keputusan tersebut. Padahal, sejak awal PKB sengaja tidak memberi beban jabatan struktural partai kepada Ngatiyana. Tujuannya jelas, agar sang Wali Kota bisa habis-habisan bekerja membereskan masalah di Cimahi, terutama soal angka pengangguran yang masih menjadi "juara" di Jawa Barat.

Bukan tanpa alasan, data Survei Angkatan Kerja Nasional BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka di Cimahi menyentuh angka 8,97 persen atau sekitar 27.979 orang. Angka ini jauh di atas rata-rata Jawa Barat yang berada di level 6,74 persen pada Februari 2025.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekretaris Wilayah DPW PKB Jawa Barat, Acep Jamaludin, menyebutkan bahwa fokus pada rakyat seharusnya menjadi prioritas utama Ngatiyana ketimbang mengurus kursi ketua partai.

ADVERTISEMENT

"Sejak beliau terpilih, amanat PKB hanya satu, fokus melayani dan menyelesaikan persoalan Kota Cimahi. Yang paling utama pengangguran, baru kemudian kemiskinan, banjir, kemacetan, dan permukiman. Karena itu kami tidak menjadikan beliau ketua di PKB, supaya tidak direpotkan urusan mengurus partai dan bisa penuh bekerja untuk rakyat," kata pria yang akrab disapa Kang Ajam ini.

PKB merasa kecolongan karena proses kepindahan ini terkesan sangat mendadak. Kang Ajam membeberkan bahwa Ngatiyana baru menghubungi pihak DPW PKB Jabar pada Minggu (20/9/2026) sore, melalui telepon. Itu artinya, kabar tersebut baru sampai ke telinga pengurus partai kurang dari 24 jam sebelum Musda Golkar digelar.

"Kami terkejut dan menyesalkan keputusan Pak Ngatiyana. Beliau kader yang diusung PKB, dimenangkan PKB bersama koalisi, dan dikukuhkan langsung oleh Ketua Umum sebagai pengurus DPW PKB Jawa Barat," tuturnya.

"Beliau menghubungi kami by phone hari Minggu sore, 20 September 2026. Sehari sebelum Musda. Jadi memang kami baru tahu sebatas itu," tambah Kang Ajam.

Langkah Ngatiyana ini pun membawa konsekuensi logis secara organisasi. Begitu ia resmi memegang tongkat komando di Golkar Cimahi, statusnya di PKB otomatis gugur.

"Dengan menjadi Ketua Golkar Cimahi, secara otomatis beliau tidak lagi menjadi anggota Partai Kebangkitan Bangsa dan diberhentikan sebagai pengurus DPW PKB Jawa Barat," tegasnya.

Meski merasa ditinggalkan, PKB menyatakan tidak akan memperpanjang urusan ini dan memilih menghormati hak politik Ngatiyana. Menurut Kang Ajam, fenomena "loncat pagar" adalah hal biasa dalam dinamika demokrasi.

"Pilihan Pak Ngatiyana adalah hak politik beliau dan PKB menghormatinya, sebagaimana dulu kami juga menghormati ketika beliau berpindah dari PDI Perjuangan ke PKB," ucapnya santai.

Di sisi lain, Ngatiyana mengklaim proses dirinya menjadi orang nomor satu di Golkar Cimahi berlangsung sangat cepat, hanya sekitar sepekan. Ia juga mengaku sudah berpamitan kepada partai-partai yang mengusungnya pada Pilkada 2024 lalu, termasuk PKB, Gerindra, dan PAN.

Kepindahan ini tentu mengubah peta politik di Cimahi secara drastis. Menariknya, pada Pilwalkot 2024, duet Ngatiyana-Adhitia Yudisthira yang diusung koalisi PKB justru berhasil menumbangkan pasangan yang diusung Golkar. Kini, Ngatiyana justru memimpin partai yang dua tahun lalu menjadi rival politiknya.

Padahal, pada akhir 2024, Ngatiyana sudah dikukuhkan langsung oleh Muhaimin Iskandar sebagai pengurus DPW PKB Jabar bersama beberapa kepala daerah lainnya. Namun kini, jalan politiknya telah berbelok.

Menutup keterangannya, Kang Ajam mengingatkan bahwa yang terpenting bukanlah seragam partai, melainkan janji kepada warga Cimahi yang harus dituntaskan hingga 2029.

"Apa pun partainya, mandat dari warga Cimahi tetap melekat pada beliau sampai 2029. Dua puluh tujuh ribu orang yang menganggur itu menunggu, dan mereka tidak peduli lambang partai apa yang dipakai. Itu yang akan terus kami ingatkan," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Presiden Prabowo dan Sejumlah Ketum Parpol Hadiri Puncak Harlah ke-28 PKB"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads