Apa yang Harus Dilakukan Jika Terpatuk Kobra? Ini Saran Dokter

Apa yang Harus Dilakukan Jika Terpatuk Kobra? Ini Saran Dokter

Tim detikTravel - detikJabar
Selasa, 22 Sep 2026 06:06 WIB
Proses evakuasi ular kobra yang patuk lansia di Kuningan
Proses evakuasi ular kobra yang patuk lansia di Kuningan (Foto: Istimewa)
Bandung -

Terpatuk ular berbisa termasuk kobra tentu bisa membuat panik. Dalam kondisi seperti itu, refleks pertama yang muncul justru sering kali melakukan tindakan yang dianggap dapat mengeluarkan bisa dari luka.

Padahal, dokter spesialis emergensi dan toksinologi Dr. dr. Tri Maharani M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K), mengingatkan korban agar tidak mengisap, menyayat, atau mengeluarkan darah dari luka gigitan ular.

"Jangan disedot, jangan disayat, jangan dikeluarkan darahnya. Karena bisa ular itu masuk melalui sistem getah bening, bukan lewat pembuluh darah," kata Maharani seperti dilansir detikTravel, Selasa (4/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Maharani, bisa ular menyebar melalui sistem limfatik atau getah bening. Karena itu, mengisap luka maupun mengeluarkan darah tidak akan membuat racun keluar dari tubuh. Gerakan berlebihan justru berisiko mempercepat penyebaran bisa.

ADVERTISEMENT

Setelah Terpatuk Kobra, Jangan Banyak Bergerak

Maharani menyarankan korban gigitan ular segera melakukan imobilisasi. Artinya, bagian tubuh yang terkena gigitan dibuat tetap diam dan tidak banyak digerakkan.

Jika memungkinkan, anggota tubuh tersebut dapat dipasang bidai sederhana sebelum korban dibawa ke fasilitas kesehatan.

"First aid yang benar adalah imobilisasi, kemudian segera ke fasilitas kesehatan," ujar Maharani.

Korban juga sebaiknya tidak berlari atau berjalan terlalu jauh. Aktivitas otot yang berlebihan dapat mempercepat pergerakan bisa melalui sistem getah bening.

Karena itu, setelah terpatuk kobra, korban perlu tetap tenang dan membatasi gerakan sambil menunggu atau menuju fasilitas kesehatan dengan bantuan orang lain.

Jangan Sibuk Memastikan Ular Berbisa atau Tidak

Maharani juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang waktu untuk memastikan jenis ular yang menggigit. Menurutnya, Indonesia memiliki ratusan jenis ular sehingga masyarakat awam tidak mungkin mengenali seluruhnya.

"Indonesia punya sekitar 300 jenis ular yang tidak berbisa dan sekitar 180 jenis ular berbisa. Kita tidak mungkin mempelajarinya satu per satu," kata dia.

"Anggap saja semua ular berbisa. Yang paling penting adalah segera melakukan pertolongan pertama dan menuju fasilitas kesehatan," katanya.

Jangan Coba Tangkap Kobra

Hal lain yang tidak kalah penting adalah jangan mencoba menangkap, memukul, atau mendekati ular setelah kejadian. Tindakan tersebut justru dapat membuat ular kembali menyerang.

"Jangan konfrontasi dengan ular. Ular itu menggigit untuk mempertahankan dirinya ketika merasa terancam," kata dia.

"Jika menemukan ular di jalur pendakian atau lokasi wisata, langkah paling aman adalah menjaga jarak dan memberi ruang agar satwa tersebut pergi dengan sendirinya," dia menegaskan.

Maharani juga menyebut teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperoleh panduan awal dalam kondisi darurat. Ia mengembangkan Virtual Poison Center, layanan konsultasi berbasis AI yang memberikan panduan awal terkait gigitan ular, sengatan hewan berbisa, hingga keracunan tanaman.

Namun, pertolongan tersebut bukan pengganti penanganan medis. Jika seseorang terpatuk kobra atau ular lain, langkah utama tetap membatasi pergerakan dan segera mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan.

Artikel ini telah tayang di detikTravel.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads