Jangan Terkecoh! Ini 6 Ciri Pembohong Ulung Menurut Pakar

Jangan Terkecoh! Ini 6 Ciri Pembohong Ulung Menurut Pakar

Kalila Untsa - detikJabar
Minggu, 20 Sep 2026 05:00 WIB
Business man carrying white mask to his body indicating Business fraud and faking business partnership
Ilustrasi pembohong (Foto: Ilustrasi/thinkstock)
Jakarta -

Berbohong sering kali menjadi instrumen komunikasi untuk menghindari situasi sulit. Namun, tidak semua orang memiliki kemahiran yang sama dalam menyembunyikan kebenaran. Sementara sebagian orang tampak gugup, pembohong ulung justru mampu mengemas narasi palsu dengan sangat meyakinkan.

Melansir detikEdu, Profesor psikologi dari Texas Woman's University, Christian L. Hart, PhD, mengungkapkan bahwa pembohong mahir tidak ragu melakukan manipulasi. Mereka cenderung tampil sangat meyakinkan meski sedang menyampaikan informasi fiktif.

"Mereka percaya diri, dominan, dan santai saat mereka mengeksploitasi orang lain," ujar Hart, sebagaimana dikutip dari CNBC.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan riset Hart, terdapat sejumlah karakteristik utama yang melekat pada individu yang pandai berbohong:

ADVERTISEMENT

1. Kontrol Emosi yang Kuat

Pembohong mahir tidak hanya menjaga lisan, tetapi juga piawai mengatur respons emosional. Ekspresi seperti terkejut, bahagia, atau sedih dapat dimanipulasi agar selaras dengan cerita yang dikarang. Menurut Hart, hal ini dilakukan sebagai "(Itu) cara meyakinkan dengan menutupi emosi mereka yang sebenarnya," demi memastikan lawan bicara tidak menaruh curiga.

2. Piawai Memainkan Peran

Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan menjadi kunci. Pembohong ulung mampu membangun citra positif dan menyesuaikan diri dengan lawan bicaranya agar lebih mudah dipercaya.

"Pembohong yang baik, naik (ke) panggung dan memainkan peran sebagai orang yang jujur," jelas Hart.

3. Berani Melakukan Kontak Mata

Anggapan bahwa pembohong selalu menghindari tatapan mata ternyata tidak sepenuhnya benar. Drew A. Curtis, PhD, pakar psikologi dari Angelo State University, menyebut pembohong mahir justru sering mempertahankan atau meningkatkan kontak mata untuk memperkuat kesan jujur pada ceritanya.

4. Pengaturan Nada Bicara

Alih-alih terbata-bata, mereka justru mengontrol intonasi suara agar terdengar otoritatif dan meyakinkan.

"Misalnya, dengan mencoba memiliki nada suara yang terdengar percaya diri, menggunakan nada serius, dan mencoba untuk tidak menaikkan nada suara mereka," kata Curtis.

5. Ketenangan yang Stabil

Kepanikan jarang terlihat pada pembohong profesional. Mereka tetap bersikap tenang dan menjaga bahasa tubuh agar tetap wajar, seperti mempertahankan postur tubuh yang santai untuk menyamarkan kegelisahan yang mungkin muncul.

6. Manipulasi Ekspresi Wajah

Raut wajah dikendalikan sedemikian rupa agar tetap tenang dan kredibel. Curtis menjelaskan bahwa mereka mampu memanipulasi ekspresi untuk menampilkan reaksi yang dianggap paling sesuai dengan konteks situasi saat itu.

Cara Mendeteksi Kebohongan

Mengenali kebohongan dari pakarnya bukan perkara mudah. Curtis menyarankan untuk membiarkan subjek terus berbicara. Semakin banyak detail yang diberikan, semakin besar peluang untuk melakukan verifikasi data. Meminta mereka mengulangi cerita juga bisa menjadi strategi efektif, karena menjaga konsistensi narasi fiktif jauh lebih sulit daripada mengarangnya secara spontan.

Meski demikian, tanda-tanda fisik seperti kontak mata atau nada bicara bukan bukti absolut kebohongan. Karakteristik ini hanyalah indikator yang sering ditemukan pada pembohong mahir, sehingga verifikasi informasi tetap menjadi langkah krusial dalam mencari kebenaran.


Artikel ini sudah tayang di detikEdu



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads