Sebanyak 40 penyakit beserta obatnya tertulis lengkap dalam manuskrip asal Cianjur yang sudah berusia 134 tahun. Buku berjudul 'Ngaran Ubar-ubaran Urang Gunung' tidak hanya menjadi catatan luar biasa karena sudah ada sebelum rumah sakit berdiri di Cianjur, tetapi juga memiliki keunikan dalam penulisan karena menggunakan aksara Arab Pegon Sunda.
Filolog Munawar Holil mengatakan buku tersebut merupakan satu-satunya dari 789 manuskrip Sunda di perpustakaan Leiden di Belanda yang menjelaskan tentang pengobatan.
"Buku ini unik sekali, dari ratusan buku hanya buku ini yang membahas pengobatan, tidak hanya nama penyakit, tetapi juga jenis obat yang bisa digunakan, hingga keterangan cara penggunaannya," kata dia, Rabu (16/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, manuskrip tersebut diperoleh peneliti Belanda Snouck Hurgronje saat berada di Kabupaten Cianjur pada tahun 1892.
"Kala itu, Snouck yang tertarik dengan kebiasaan warga dalam pengobatan meminta agar seorang Penghulu Besar Cianjur menuliskan dan menyusun penyakit yang kerap diderita warga Cianjur serta metode pengobatan yang digunakan," tuturnya.
Dia menuturkan jika manuskrip ini juga ditulis dengan menggunakan aksara unik yang berkembang di masa itu. Pasalnya, bukan aksara Sunda kuno yang digunakan, melainkan aksara Arab Sunda Pegon.
Pria yang akrab disapa Kang Mumu ini menjelaskan jika aksara Arab Pegon Sunda ini merupakan aksara yang berkembang setelah Islam masuk ke tanah air, terutama di tatar Sunda.
"Meskipun penulisannya menggunakan aksara Arab, ada penyesuaian tanda dan pelafalan. Sehingga dari huruf-huruf yang ada dibaca dengan bahasa Sunda, bukan bahasa arab," kata dia.
Menurut dia, aksara ini berkembang di Cianjur yang memiliki budaya pendidikan pondok pesantren.
"Cianjur ini banyak pondok pesantren, sehingga Arab Pegon Sunda umum digunakan. Baru kemudian tergantikan oleh alfabet yang digunakan sehari-hari saat ini," kata dia.
Kang Mumu mengatakan, tidak hanya aksaranya yang unik, tetapi metode penulisannya juga dibuat dengan sistematis, di mana tersusun dalam tiga kolom.
"Kolom pertama nama penyakit, kolom kedua nama obatnya, dan kolom ketiga cara pengobatannya. Jadi susah sangat sistematis penulisannya, berbeda dengan manuskrip lain. Sehingga ini manuskrip yang sangat mudah dipahami untuk diaplikasikan," kata dia.
Dia menuturkan, manuskrip tersebut menjadi bukti jika masyarakat Cianjur yang dikenal sebagai penduduk pegunungan lantaran tinggal di kaki Gunung Gede sudah mengenal berbagai pengobatan tradisional untuk menyembuhkan beragam penyakit.
"Betapa hebatnya pendahulu di Cianjur. Karena rumah sakit itu baru ada di 1925, tapi naskah ini ditulis puluhan tahun sebelumnya. Dan tentu tidak mungkin bisa tercatat dan ada obatnya jika jauh sebelumnya tidak dilakukan untuk mengobati. Apalagi 90 persennya menggunakan herbal," kata dia.
Menurut dia, metode pengobatan itu dapat diteliti lebih dalam untuk mengetahui penyakit apa saja yang banyak dialami warga dan pengaplikasian pengobatan tradisional untuk penyembuhan.
"Tentu manuskrip ini penting, terutama untuk bidang kesehatan di Cianjur," kata dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur Made Setiawan mengatakan pihaknya berencana untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait adanya manuskrip pengobatan tersebut.
"Kami juga akan coba terjemahkan dalam alfabet, sehingga lebih mudah dipahami," pungkasnya.
(sud/sud)
