Banyak orang menganggap melewatkan sarapan sebagai jalan pintas untuk menurunkan berat badan. Pola ini bahkan sering kali disalahartikan sebagai praktik intermittent fasting atau puasa intermiten. Padahal, memangkas waktu makan tanpa perhitungan yang matang justru berisiko merusak program diet dan memicu kekurangan nutrisi penting.
Melansir detikHealth, Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menegaskan bahwa intermittent fasting memiliki protokol waktu yang ketat. Sekadar tidak sarapan tanpa mengatur pola makan di sisa hari tidak akan memberikan hasil yang diinginkan.
"Kalau intermittent fasting kan ada jam-jamnya. Kalau ini cuma cut (skip) makan pagi, terus makan siangnya juga masih berantakan, ya percuma sih," kata dr Yaze.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu ancaman yang sering terabaikan adalah merosotnya asupan protein harian. Ketika frekuensi makan berkurang, tubuh berisiko tinggi kekurangan protein yang sangat dibutuhkan untuk menjaga komposisi tubuh selama proses penurunan berat badan.
"Biasanya kita punya kebutuhan protein tadi, misalnya sehari itu 70 gram. Kalau misalnya ada cut makan pagi, terus di siang sama di malam saja makannya, enggak nyampe di 70 gram (proteinnya). Itu yang menyebabkan akhirnya target protein harian kamu itu enggak tercapai," paparnya.
Oleh karena itu, dr Yaze menyarankan bagi mereka yang memilih tidak sarapan untuk tetap menghitung kebutuhan protein secara cermat. Kekurangan asupan akibat absennya sarapan harus dikompensasi pada waktu makan lainnya agar keseimbangan nutrisi tetap terjaga.
"Jadi kadang itu harus aku hitung. Kalau memang enggak mau makan pagi, aku harus hitung berarti di 70 gram itu dipenuhi di makan siang, sama di makan malam, sama di snack sore misalnya," terangnya.
Meskipun penurunan berat badan bertumpu pada defisit kalori, dr Yaze mengingatkan agar kualitas makanan tidak diabaikan. Defisit kalori yang dilakukan secara asal-asalan tanpa memperhatikan kecukupan protein dapat berdampak fatal pada kesehatan, mulai dari penurunan massa otot hingga melemahnya sistem imun.
"Jadi jangan langsung main cut-cut aja. Defisit kalori iya, tapi misalnya proteinnya kurang, akhirnya ya gampang sakit sampai otot ikut hilang," tegasnya.
Melewatkan sarapan pada dasarnya bukan masalah besar asalkan dibarengi dengan strategi nutrisi yang tepat. Fokus utama diet seharusnya bukan hanya pada pengurangan jumlah kalori, melainkan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi harian yang lengkap dan seimbang.
Artikel ini sudah tayang di detikHealth
(sao/dir)
