Bukan Bola Sempurna, Bentuk Bumi Terus Berubah Drastis

Kabar Internasional

Bukan Bola Sempurna, Bentuk Bumi Terus Berubah Drastis

Rachmatunnisa - detikJabar
Jumat, 18 Sep 2026 05:31 WIB
Ilustrasi bumi, bulan, dan matahari di luar angkasa
Ilustrasi bumi (Foto: Getty Images/photovideostock).
Bandung -

Pernah membayangkan Bumi sebagai bola yang bentuknya abadi? Ternyata tidak juga. Planet tempat kita tinggal ini perlahan-lahan sedang "bersalin rupa". Uniknya, perubahan ini membuat Bumi terlihat lebih bulat sekaligus lebih gepeng di saat bersamaan, tergantung dari sisi mana kita mengukurnya.

Fakta menarik ini diungkap oleh Christopher Kotsakis, seorang geolog dari Aristotle University of Thessaloniki, Yunani. Lewat analisis mendalam pada data pergerakan permukaan dari jaringan satelit navigasi global, ia menemukan bahwa wilayah kutub Bumi semakin lama semakin terangkat. Sebaliknya, area di sekitar ekuator atau khatulistiwa justru terpantau semakin turun. Efeknya, bagian batuan padat Bumi menjadi tidak sepepat dulu di area kutub.

Sebenarnya, sejak awal Bumi memang tidak berbentuk bola sempurna. Gara-gara rotasi, planet ini agak "buncit" di bagian tengah dan sedikit rata di bagian atas serta bawah. Namun, bentuk tersebut terus bergeser karena massa di permukaan Bumi memang tidak pernah benar-benar diam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu pemicu utamanya adalah mencairnya lapisan es raksasa di Greenland dan Antarktika. Bayangkan beban es yang sangat berat itu menghilang; otomatis kerak Bumi di bawahnya yang tadinya tertekan jadi perlahan naik kembali. Fenomena ilmiah ini dikenal dengan istilah glacial isostatic adjustment.

Dalam studinya, Kotsakis membedah data Global Navigation Satellite System (GNSS) dari rentang tahun 1997 hingga 2015 untuk memantau perubahan vertikal permukaan Bumi. Hasilnya cukup mengejutkan.

Pada periode 1997-2000, wilayah kutub rata-rata terangkat sekitar 0,5 milimeter per tahun. Namun saat memasuki tahun 2015, kecepatannya melonjak menjadi sekitar 1 milimeter per tahun. Artinya, laju "pengangkatan" kutub ini naik dua kali lipat hanya dalam waktu kurang dari dua dekade. Di saat yang sama, wilayah ekuator juga mengalami penurunan dengan kecepatan yang ikut meningkat.

"Hasil kami menunjukkan percepatan pengangkatan kutub yang disertai peningkatan laju penurunan ekuator yang sebanding," tulis Kotsakis sebagaimana dikutip dari Science Alert.

Ia kemudian memberikan gambaran akhirnya: "Ini berarti bentuk keseluruhan Bumi padat menjadi sedikit kurang pepat," pungkasnya.

Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Badan Geologi Ingatkan Potensi Bahaya Gunung Tangkubanparahu"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads