Pemkot Bandung saat ini sedang gencar membongkar lapak PKL yang berdiri di atas trotoar. Penindakan itu pun dilakukan untuk mengembalikan fungsi trotoar sebagai fasilitas bagi pejalan kaki.
Dalam wawancara bersama awak media, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan membeberkan salah satu temuannya dalam upaya pembongkaran lapak PKL itu. Farhan bercerita bahwa ada lapak PKL di atas trotoar yang selama bertahun-tahun turut dibangun dengan tempat toiletnya.
"Jadi gini, salah satu dampak yang buruk dari adanya bangunan semi permanen dan permanen di atas trotoar adalah banyak yang kemudian membangun toilet di atas drainase atau selokan jalan," kata Farhan di Pendopo Kota Bandung, Kamis (17/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah, ini enggak boleh. Itu mah enggak bisa ditawar, hampura pisan, harus saya tertibkan sedemikian rupa. Begitu kira-kira aturan yang mesti kita penuhi," ungkapnya menambahkan.
Farhan menyatakan tidak melarang PKL berjualan. Namun, aktivitasnya harus diatur supaya tidak mengganggu kenyamanan.
Sejumlah contoh yang kemudian berhasil dilakukan dalam penataan PKL yaitu di kawasan Lengkong Kecil, Cikuray hingga Taman Pers Malabar. Menurut Farhan, PKL di sana sudah tertib aturan: datang bersih, dan pulangnya pun bersih kembali.
"Nanti kita akan bikin contoh juga mudah-mudahan segera berhasil di Pasar Baru. Hal ini artinya memberi pengertian dan wawasan baru kepada seluruh pelaku pedagang kecil, PKL, agar mulai berpikir melakukan penataan diri sendiri," ujarnya.
"Prinsip saya mah cuman satu, datang bersih, pulang bersih. Itu aja. Boleh dagang? Boleh. Datang bersih, pulang bersih. Saya kasih contoh nu ti baheula bagus pisan. Namanya Sate Ayam Jalan Anggrek. Begitu magrib dia jualan sampe jam 10 malam, selesai dagang, bersih deui," pungkasnya.
(ral/yum)
