Kemunculan ular di sekitar permukiman warga kembali terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis. Dalam dua pekan terakhir, menurut catatan detikJabar, sedikitnya lima kejadian ular masuk ke rumah warga dilaporkan di lima lokasi berbeda.
Jenis ular yang ditemukan cukup beragam, namun beberapa di antaranya merupakan ular berbisa seperti kobra dan king kobra. Beruntung, dari sejumlah kejadian tersebut tidak ada warga yang menjadi korban. Ular-ular yang masuk ke permukiman juga berhasil dievakuasi oleh petugas Damkar Ciamis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena ini turut mendapat perhatian dari komunitas Animal Lovers Ciamis (ALC). Joehanes Liem mengatakan kemunculan ular di sekitar rumah warga pada periode seperti sekarang tidak terlepas dari siklus hidup dan kondisi lingkungan.
Menurutnya, waktu kemunculan ular memang bisa berbeda tergantung jenisnya. Namun, secara umum, Mei hingga Juni merupakan periode yang banyak digunakan ular untuk kawin.
"Kalau musim kawin biasanya Mei dan Juni. Tapi tergantung jenisnya juga. Sekarang yang banyak ditemukan dan dibicarakan antara lain king kobra, weling, ular cincin emas, dan piton," kata Joehanes, Kamis (17/9/2026).
Memasuki Agustus hingga November, ular masuk dalam fase bertelur. Pada periode ini, ular betina akan mencari lokasi yang dianggap aman untuk menyimpan telurnya.
"Kalau Agustus sampai November itu musim bertelur. Jadi ular akan mencari tempat yang lembap dan tersembunyi untuk bertelur," ujarnya.
Joehanes menjelaskan, kondisi cuaca yang panas dan kering seperti sekarang dapat membuat tempat yang sebelumnya menjadi habitat atau persembunyian ular ikut mengering. Kondisi tersebut diduga mendorong ular mencari lokasi lain yang lebih lembap.
"Sekarang kan sudah masuk September, berarti masih dalam periode musim bertelur. Karena panasnya cukup terik, sarang atau tempat persembunyiannya bisa kering. Akhirnya ular mencari tempat yang lebih lembap untuk bersembunyi sekaligus bertelur," jelasnya.
Rumah warga, bisa saja menjadi salah satu tempat yang dianggap sesuai. Area di sekitar rumah terkadang memiliki bagian yang lembap dan tersembunyi, terutama jika terdapat tumpukan barang atau kondisi lingkungan yang kurang terawat.
"Perumahan atau rumah warga salah satunya. Bisa jadi ada tempat yang lembap dan tersembunyi sehingga ular masuk ke sana," katanya.
Joehanes mengingatkan warga untuk mulai memperhatikan kondisi lingkungan sekitar rumah. Hal sederhana seperti membersihkan pekarangan dan mengurangi tumpukan barang bisa membantu menghilangkan tempat persembunyian ular.
"Intinya lingkungan harus rutin dibersihkan supaya tidak rimbun dan tidak banyak barang menumpuk. Jangan membiarkan ada tumpukan genteng, kayu atau barang-barang bekas di sekitar rumah," tuturnya.
Bagian belakang rumah juga perlu diperhatikan. Tumpukan kayu, barang bekas, rumput tinggi, hingga area yang jarang disentuh bisa menjadi tempat ular bersembunyi.
"Kalau di belakang rumah ada tumpukan barang, apalagi dekat sumur atau tempat yang lembap, itu perlu diperhatikan. Karena tempat seperti itu bisa menjadi lokasi yang disukai ular untuk bersembunyi," ujarnya.
Selain membersihkan pekarangan, warga juga disarankan rutin memangkas rumput dan semak yang sudah meninggi. Lubang atau celah pada bagian rumah yang memungkinkan ular masuk juga sebaiknya ditutup.
"Ventilasi dan bagian rumah yang bolong-bolong juga perlu diperiksa dan ditutup kalau memang memungkinkan menjadi jalur masuk. Jadi jangan sampai ada celah yang bisa digunakan ular untuk masuk ke lingkungan rumah," kata Joehanes.
Menurutnya, pada kondisi cuaca yang panas dan kering, kewaspadaan memang perlu ditingkatkan. Terlebih saat ini bertepatan dengan periode yang disebut sebagai musim bertelur bagi sejumlah jenis ular.
"Jadi pada dasarnya ular sedang mencari tempat yang lembap dan tersembunyi. Kalau kondisi di alam kering, rumah warga bisa saja menjadi salah satu tempat yang mereka datangi," pungkasnya.
(sud/sud)
