Cerita Nekat Pemanjat Bandung Tembus Cabor Dry Tooling Korea

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Kamis, 17 Sep 2026 09:00 WIB
Pegiat olahraga dry tooling, Adam Armandhany dan Iyas Bachrul (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar).
Bandung -

Dana yang terbatas hingga visa yang ditolak tak menyurutkan langkah Adam Armandhany, Iyas Bachrul, dan Tantan Kurnia untuk membawa nama Indonesia ke komunitas dry tooling Asia.

Dengan modal patungan dan peralatan seadanya, para pemanjat asal Bandung tersebut terbang ke Korea Selatan untuk mengikuti Drytooling Club Summer Festival di Yongin Sport Climbing Center pada Juli silam.

Festival tersebut mempertemukan para pegiat dry tooling dari berbagai negara Asia. Di sana, tim Indonesia berkesempatan bertukar pengetahuan teknis dan taktik memanjat bersama atlet dari Jepang, Taiwan, Hong Kong, Mongolia, China, hingga Korea Selatan.

Perjalanan tim Indonesia menuju Korea Selatan bermula dari informasi mengenai festival dry tooling yang diterima Tantan dan rekan-rekannya. Awalnya, mereka tak yakin bisa berangkat karena keterbatasan dana dan belum adanya komunitas dry tooling yang berkembang di Indonesia.

"Berawal dari info ada kegiatan festival di Korea waktu itu. Awalnya sih ragu-ragu, bisa nggak ya berangkat, gitu kan?" ujar Tantan pada detikJabar belum lama ini.

Awalnya, hanya empat orang yang bergerak untuk mewujudkan keberangkatan tersebut. Mereka mulai mengumpulkan dana secara mandiri sambil mencari dukungan dari pembina dan pihak lainnya.

Sambil mengumpulkan biaya perjalanan, mereka juga belajar dry tooling secara autodidak karena belum memiliki mentor khusus olahraga tersebut di Indonesia.

"Sambil ngumpulin dana, kita di sini belajar otodidak. Karena nggak ada yang ngajarin juga, kan. Nggak ada penggiat dry tooling lain di Indonesia," katanya.

Pengetahuan tentang dry tooling mereka dapatkan dari internet dan buku-buku yang tersedia. Dengan waktu kurang dari satu bulan, tim kemudian mulai menyusun proposal untuk mencari dukungan tambahan.

"Akhirnya ada beberapa produk yang masuk, juga ada support dari para pembina," jelas Tantan.

Sesampainya di Korea Selatan, pengalaman yang mereka dapatkan ternyata melampaui ekspektasi. Tim Indonesia datang sebagai peserta dari negara baru, sekaligus juga menjadi perhatian komunitas dry tooling Asia.

Tantan menuturkan, para pemanjat dari negara lain antusias mengetahui kehadiran Indonesia. Pasalnya, momen itu menjadi kali pertama nama Indonesia muncul di tengah festival mereka.

"Waktu saat kita sampai sana, kita langsung disambut sama tuan rumahnya. Atlet-atlet Korea ada di sana. Hari H-nya ada tujuh negara dari Asia semua," ucapnya.

Ia memaparkan, para pemanjat dari berbagai negara saling bertukar informasi mengenai teknik, peralatan, hingga strategi dalam melakukan dry tooling.

"Yang kita rasain waktu ke sana banyak sharing session, terus tukar-tukar informasi soal dry tooling. Mereka sangat terbuka jika ada yang ingin serius menekuni olahraga ini," ungkapnya.

Simak Video "Menginap di Hotel Nyaman di Bandung, Menikmati Liburan "


(mso/mso)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork