Dana yang terbatas hingga visa yang ditolak tak menyurutkan langkah Adam Armandhany, Iyas Bachrul, dan Tantan Kurnia untuk membawa nama Indonesia ke komunitas dry tooling Asia.
Dengan modal patungan dan peralatan seadanya, para pemanjat asal Bandung tersebut terbang ke Korea Selatan untuk mengikuti Drytooling Club Summer Festival di Yongin Sport Climbing Center pada Juli silam.
Festival tersebut mempertemukan para pegiat dry tooling dari berbagai negara Asia. Di sana, tim Indonesia berkesempatan bertukar pengetahuan teknis dan taktik memanjat bersama atlet dari Jepang, Taiwan, Hong Kong, Mongolia, China, hingga Korea Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan tim Indonesia menuju Korea Selatan bermula dari informasi mengenai festival dry tooling yang diterima Tantan dan rekan-rekannya. Awalnya, mereka tak yakin bisa berangkat karena keterbatasan dana dan belum adanya komunitas dry tooling yang berkembang di Indonesia.
"Berawal dari info ada kegiatan festival di Korea waktu itu. Awalnya sih ragu-ragu, bisa nggak ya berangkat, gitu kan?" ujar Tantan pada detikJabar belum lama ini.
Awalnya, hanya empat orang yang bergerak untuk mewujudkan keberangkatan tersebut. Mereka mulai mengumpulkan dana secara mandiri sambil mencari dukungan dari pembina dan pihak lainnya.
Sambil mengumpulkan biaya perjalanan, mereka juga belajar dry tooling secara autodidak karena belum memiliki mentor khusus olahraga tersebut di Indonesia.
"Sambil ngumpulin dana, kita di sini belajar otodidak. Karena nggak ada yang ngajarin juga, kan. Nggak ada penggiat dry tooling lain di Indonesia," katanya.
Pengetahuan tentang dry tooling mereka dapatkan dari internet dan buku-buku yang tersedia. Dengan waktu kurang dari satu bulan, tim kemudian mulai menyusun proposal untuk mencari dukungan tambahan.
"Akhirnya ada beberapa produk yang masuk, juga ada support dari para pembina," jelas Tantan.
Sesampainya di Korea Selatan, pengalaman yang mereka dapatkan ternyata melampaui ekspektasi. Tim Indonesia datang sebagai peserta dari negara baru, sekaligus juga menjadi perhatian komunitas dry tooling Asia.
Tantan menuturkan, para pemanjat dari negara lain antusias mengetahui kehadiran Indonesia. Pasalnya, momen itu menjadi kali pertama nama Indonesia muncul di tengah festival mereka.
"Waktu saat kita sampai sana, kita langsung disambut sama tuan rumahnya. Atlet-atlet Korea ada di sana. Hari H-nya ada tujuh negara dari Asia semua," ucapnya.
Ia memaparkan, para pemanjat dari berbagai negara saling bertukar informasi mengenai teknik, peralatan, hingga strategi dalam melakukan dry tooling.
"Yang kita rasain waktu ke sana banyak sharing session, terus tukar-tukar informasi soal dry tooling. Mereka sangat terbuka jika ada yang ingin serius menekuni olahraga ini," ungkapnya.
Raih Special Award
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi tim Indonesia adalah ketika mereka menerima special award dari penyelenggara festival.
Salah satu pemanjat, Adam Armandhany menjelaskan, penghargaan tersebut diberikan karena tim Indonesia dinilai "nekat" dan memiliki semangat tinggi untuk menekuni dry tooling di tengah keterbatasan fasilitas.
Terlebih, Indonesia menjadi satu-satunya peserta dari negara tropis yang berpartisipasi.
"Sebenarnya poin kita pun sangat jauh lah dibanding dengan orang-orang yang memang penggiat dry tooling yang lama," kata Adam.
"Tapi kita latihan bukan pakai alat yang benar-benar dry tooling. Mungkin mereka melihat dari sisi situ. Nah kita mendapatkan special award untuk mengembangkan olahraga ini Indonesia," lanjutnya.
Sebagai bagian dari penghargaan tersebut, tim Indonesia menerima satu alat khusus untuk dry tooling berupa "kapak" es yang digunakan untuk memanjat.
Iyas Bachrul mengatakan, peralatan itu merupakan produk buatan pegiat Korea Selatan yang diharapkan dapat membantu perkembangan olahraga tersebut di Indonesia.
"Kita rencananya memang mau membeli alat ini, eh ternyata dikasih. Ini apresiasi dari panita, untuk dikembangkan. Ketika makin banyak orang Asia yang bermain dry tooling, mungkin bisa berkompetisi di tingkat dunia," jelas Iyas.
Apa Itu Dry Tooling?
Dry tooling merupakan salah satu perkembangan dari olahraga panjat tebing dan ice climbing.
Berbeda dengan panjat tebing biasa yang umumnya mengandalkan tangan dan kaki untuk mencengkeram permukaan tebing atau hold, dry tooling menggunakan alat bantu khusus.
Dalam olahraga ini, pemanjat menggunakan kapak es atau alat serupa yang dilengkapi bagian tajam seperti cakar pada ujungnya. Alat tersebut digunakan untuk mencengkeram hold buatan maupun permukaan tertentu saat memanjat.
Tantan menjelaskan, secara dasar teknik penggunaan kaki dalam dry tooling masih memiliki kesamaan dengan panjat tebing biasa. Namun, adanya alat tambahan membuat tingkat kesulitan dan risikonya meningkat.
"Kalau bedanya mungkin lebih ke penggunaan alat tambahan sih. Kalau biasanya panjat tebih pakai tangan, dry tooling ada alat tambahan alatnya. Terlihat mudah, tapi waktu dicoba ternyata susah banget," ungkap Tantan.
Menurutnya, dry tooling bukan sekadar panjat tebing dengan tambahan peralatan. Pemanjat perlu menguasai teknik baru, memahami cara menggunakan alat, sekaligus memiliki kontrol tubuh yang baik.
"Manjat tebing biasa aja udah susah, ya. Sekarang ditambah alat. Resikonya memang meningkat drastis kalau dari manjat tebing biasa ke dry tooling," lanjutnya.
Karena itu, ia mengatakan, olahraga ini membutuhkan persiapan fisik, teknik, mental, serta pemahaman keselamatan yang lebih matang.
Berharap Dukungan Pemerintah
Keberangkatan ke Korea Selatan membuat tim Indonesia semakin yakin bahwa dry tooling memiliki peluang untuk berkembang. Namun, keterbatasan fasilitas dan anggaran masih menjadi tantangan utama.
Iyas mengatakan, dukungan pemerintah terhadap cabang olahraga panjat tebing seperti sport climbing dan speed climbing sudah mulai berkembang seiring dengan prestasi atlet Indonesia.
Namun, dry tooling masih belum banyak mendapat perhatian karena tergolong olahraga baru.
"Kalau dari dry tooling mungkin karena olahraganya masih baru, ya. Jadi belum ada lah (dukungan) untuk saat ini," kata Iyas.
Saat ini, mereka masih mengandalkan fasilitas pribadi maupun tempat latihan milik komunitas lain yang memiliki papan bouldering.
Adam berharap pemerintah dapat melihat potensi olahraga tersebut sebagai salah satu cabang yang bisa membawa prestasi baru bagi Indonesia.
"Saya harap olahraga dry tooling ini berkembang dan bisa dilirik pemerintah lah. Karena cukup menarik bagi dunia panjat di Indonesia ini, kita sudah langkah lebih maju di negara-negara yang lain," ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara tropis yang mulai serius menekuni dry tooling.
Sementara itu, negara-negara tropis lain seperti Thailand, Myanmar, dan Malaysia disebut belum memiliki pegiat yang aktif di bidang tersebut.
"Namanya orang Indonesia, nekat banget. Fasilitas nggak ada, uang nggak ada, tapi ada suatu mimpi, Indonesia bisa maju," kata Adam.
Tips Belajar Dry Tooling untuk Pemula
Bagi masyarakat, khususnya Gen Z yang tertarik mencoba panjat tebing maupun dry tooling, Iyas menyarankan agar memahami prosedur keselamatan terlebih dahulu.
Meski saat ini informasi soal teknik dry tooling mudah diakses lewat internet, namun, ia mengatakan, olahraga panjat tebing pada dasarnya memiliki risiko keselamatan tinggi yang tidak bisa disepelekan.
"Intinya lakukan panjat tebing sesuai dengan prosedurnya," tutur Iyas.
Ia juga menyarankan pemula untuk terlebih dahulu menguasai panjat tebing biasa sebelum beralih ke dry tooling.
"Karena olahraga dry tool ini lebih ekstrem lah, lebih berbahaya. Jadi ini next step untuk yang sudah bisa memanjat, bisa mulai mengembangkan dry tooling," ungkapnya.
Adam pun memiliki pandangan serupa. Menurutnya, dry tooling dapat menjadi tahap lanjutan bagi seseorang yang telah memahami dasar-dasar panjat tebing.
"Dry tooling ini level berikutnya dari panjat tebing. Kalau biasanya hanya pakai tangan kosong, ini pakai alat bantu. Saran saya pelajari dulu basic memanjat biasa,karena teknik dan keamanannya tidak berbeda jauh," paparnya.
Bagi yang ingin mencoba, tim Indonesia terbuka untuk masyarakat yang tertarik belajar.
Tempat latihan dry tooling saat ini berada di kawasan Curug Tilu Leuwi Opat, Kabupaten Bandung Barat. Selain itu, mereka juga berlatih di bouldering Skygers Puncak Lutung dan kampus Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung.
"Kalau sudah bisa basic memanjat dan punya mental juga keberanian, saya yakin pasti bisa untuk belajar dry tooling," pungkas Adam.
Simak Video "Menginap di Hotel Nyaman di Bandung, Menikmati Liburan "
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
