Potret Kekeringan di Tasikmalaya, Sawah Kering Kerontang

Potret Kekeringan di Tasikmalaya, Sawah Kering Kerontang

Faizal Amiruddin - detikJabar
Rabu, 16 Sep 2026 16:30 WIB
Kondisi area pertanian di Tasikmalaya akibat musim kemarau.
Kondisi area pertanian di Tasikmalaya akibat musim kemarau. (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar)
Tasikmalaya -

Sebanyak 15 wilayah irigasi di Kota Tasikmalaya mengalami kekeringan akibat penyusutan debit air sungai selama musim kemarau.

Kondisi kerontang pada belasan jaringan irigasi tersebut menghentikan pasokan air ke lahan pertanian setempat, hingga membuat ratusan hektare sawah kini berada di bawah ancaman kekeringan.

Berdasarkan data pemantauan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUTR) Kota Tasikmalaya hingga pertengahan September 2026, dampak kemarau telah meluas secara signifikan pada sektor pertanian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sawah kering kerontang mencapai 878,99 hektare, sementara sawah yang terancam kekeringan seluas 388,50 hektare.

ADVERTISEMENT

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUTR Kota Tasikmalaya, Rino Isa Muharam, mengimbau para petani agar tidak memaksakan diri memulai penanaman pada Musim Tanam (MT) III.

Langkah menunda tanam atau beralih komoditas dianggap vital demi menghindari risiko puso.

"Kami mengimbau petani jangan memaksakan untuk tanam di MT III karena kondisi air sangat minim. Disarankan untuk diganti ke palawija," ujar Rino, Rabu (16/9/2026).

Dampak keterbatasan air ini turut dirasakan langsung oleh masyarakat. Adang Danu (50), petani asal Kecamatan Tamansari, membenarkan kondisi itu. Sejak kemarau melanda dia sudah berhenti menanam padi. Kolam ikan miliknya pun sudah dipanen lebih awal dan kini dalam keadaan kering kerontang.

"Sudah lama kering irigasi di wilayah kami, sejak Juni atau Juli. Mudah-mudahan saja hujan segera turun. Tadi malam sudah mulai ada gerimis-gerimis," kata Adang.

Opsi untuk menanam palawija bagi Adang masih menyimpan risiko, karena lahan terlampau kering.

"Kalau ada sedikit saja sumber air mungkin masih bisa tanam palawija atau sayuran. Ini kering sekali, riskan," kata Adang.

Dia menjelaskan menanam palawija tetap membutuhkan modal yang lumayan. Mulai dari benih, pupuk, pompa untuk menjangkau sumber air hingga ongkos kerja.

"Kalau saya lebih baik tiarap (membiarkan lahan tak produktif). Soalnya saya modalnya terbatas, sementara risiko masih besar," kata Adang



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads