Warga Cidadap, Kota Bandung mengeluhkan kepulan asap yang terjadi di kawasan tersebut. Kepulan asap itu berasal dari kebakaran lahan yang terjadi di lokasi pembuangan brangkal yang berada di kawasan Puncak Ciumbuleuit atau Punclut, tepatnya di Jalan Rereongan Sarupi.
Pakar pengelolaan sampah dari Universitas Islam Bandung (Unisba) Mohamad Satori mengatakan, Pemkot Bandung harus memberikan tindakan tegas kepada pemilik lahan atau pihak yang memanfaatkan lahan tersebut sebagai tempat pembuangan sampah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau menurut saya memang harus tegas. Ini salah satu bentuk dari yang harus direalisasikan ketika sekarang krisis sampah (kebakaran) itu terjadi," kata Satori kepada detikJabar, Selasa (16/9/2026).
Satori mengungkapkan, pengolahan sampah dari sumber mutlak harus dilakukan. Bukan hanya di Kota Bandung, tapi juga di Bandung Raya.
"Khususnya di Kota Bandung memang tidak ada pilihan lain kecuali menggerakkan pengolahan di sumber sampah itu. Nah, yang harus dilakukan tentunya ya warga masyarakat sekitarnya harus diberdayakan dan warga terdekat bikinlah semacam satgas gitu ya. Satgas yang dimaksud itu tentunya adalah satu, untuk meng-clear-kan lahan itu," ungkapnya.
Selain itu, Satori menyebut jika lokasi tersebut harus ditutup agar kejadian kebakaran lahan tidak terulang.
"Nah, sampai kemudian ada penutupan, entah dipagar atau bagaimana gitu ya. Nah, langkah berikutnya tentunya ya bikin pemberdayaan. Kalau misalnya yang punya lahan itu setuju bahwa sampahnya diolah, itu kan malah lebih bagus. Jadi memang enggak ada cara lain kecuali masyarakatnya dibina, di-edukasi, disosialisasikan melakukan pengolahan," jelasnya.
Selain itu, sejumlah warga mengeluhkan sesak napas hingga harus dilarikan ke fasilitas kesehatan akibat menghirup asap yang ditimbulkan kebakaran lahan tersebut.
"Kalau misalnya sampah organik yang ditimbun di situ ya betul, akan menghasilkan gas metan. Tapi yang dikhawatirkan sekarang ketika terjadi kebakaran pada saat kemarau, kebakaran atau pembakaran sengaja menimbulkan Co2 gitu ya, sebenarnya bukan gas metannya. Dan itu bisa menyebabkan ISPA dan lain-lain," terangnya.
Satori mencurigai adanya aktivitas sektor informal yang memanfaatkan dan mengumpulkan sampah di kawasan tersebut.
"Jadi mungkin kalau kalau saran saya itu perlu ada ketegasan di aparat kewilayahan. Ini seperti pembiaran gitu kan ya. Jadi perlu ada ketegasan aparat kewilayahan untuk melakukan penindakan," pungkasnya.
(wip/sud)
