Lift Luar Angkasa, Mimpi Naik ke Orbit Tanpa Roket

Kabar Internasional

Lift Luar Angkasa, Mimpi Naik ke Orbit Tanpa Roket

Rachmatunnisa - detikJabar
Sabtu, 12 Sep 2026 22:30 WIB
Ilustrasi AI tentang lift luar angkasa
Ilustrasi AI tentang lift luar angkasa (Foto: AI)
Jakarta -

Eksplorasi antariksa kini berada di ambang transformasi besar. Alih-alih bergantung pada roket konvensional dengan mesin pembakaran masif, kendaraan masa depan diproyeksikan mampu mencapai orbit hanya dengan menaiki kabel raksasa yang membentang puluhan ribu kilometer dari Bumi.

Konsep yang dikenal sebagai space elevator atau lift luar angkasa ini bukan lagi sekadar imajinasi fiksi ilmiah. International Space Elevator Consortium (ISEC) terus mematangkan rencana pembangunan infrastruktur permanen ini untuk mengangkut manusia dan kargo menuju orbit secara rutin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mekanisme Kabel Raksasa

Secara teknis, sebagaimana dilansir dari detikInet, lift luar angkasa bekerja dengan memanfaatkan kabel superkuat yang dipasang di titik khatulistiwa. Kabel ini membentang melewati orbit geostasioner (GEO) hingga ke ruang hampa. Di ujung kabel, terdapat struktur pemberat yang memanfaatkan gaya sentrifugal dari rotasi Bumi untuk menjaga kabel tetap tegang.

Kendaraan pengangkut yang disebut climber akan bergerak naik-turun menggunakan energi listrik. Sistem ini menawarkan efisiensi tinggi karena tidak memerlukan pembakaran propelan dalam jumlah besar seperti peluncuran roket tradisional.

ADVERTISEMENT

Pete Swan, Presiden ISEC, menganalogikan proyek ini sebagai pembangunan infrastruktur vital bagi peradaban manusia.

"Kami benar-benar mendorong pembangunan infrastruktur permanen, seperti jembatan yang menggantikan feri untuk menyeberangi sungai," kata Swan seperti dikutip dari The New York Post.

Namun, realisasi 'jembatan' antariksa ini menghadapi tantangan teknis yang berat, terutama pada material kabel. Kabel tersebut harus memiliki kekuatan tarik yang melampaui baja, namun dengan bobot yang sangat ringan agar tidak runtuh akibat gravitasi.

Harapan pada Graphene Polikristalin

Graphene telah lama diidentifikasi sebagai material kandidat utama karena struktur atom karbonnya yang tipis namun sangat kuat. Fokus saat ini beralih pada graphene polikristalin, yang terdiri dari butiran kristal yang saling terhubung, sehingga lebih memungkinkan untuk diproduksi dalam skala besar.

Kebutuhan material ini sangat masif. Berdasarkan konsep ISEC, kabel lift bisa mencapai panjang 100.000 kilometer. Kemajuan signifikan dilaporkan datang dari Korea Selatan, di mana para insinyur berhasil memproduksi graphene polikristalin sepanjang 1.000 meter dengan lebar setengah meter. Meski masih jauh dari target puluhan ribu kilometer, kemampuan produksi massal ini menjadi tonggak penting bagi para pendukung proyek ini.

Efisiensi Logistik ke Bulan dan Mars

Setelah kabel terpasang, perjalanan menuju orbit geostasioner diperkirakan memakan waktu sekitar dua minggu. Namun, setelah melewati titik GEO, kendaraan akan mendapatkan keuntungan dari momentum rotasi Bumi. Energi ini dapat dimanfaatkan untuk melontarkan muatan menuju ruang angkasa dengan kecepatan tinggi.

Dampaknya terhadap logistik antariksa akan sangat revolusioner. ISEC mengalkulasi bahwa muatan yang dilepaskan dari lift luar angkasa dapat mencapai Bulan hanya dalam waktu 14 jam-jauh lebih cepat dibandingkan teknologi roket saat ini yang membutuhkan waktu berhari-hari. Untuk misi ke Mars, durasi perjalanan dapat dipangkas menjadi 61 hingga 120 hari, tergantung pada posisi planet.

Meski demikian, implementasi teknologi ini akan dilakukan secara bertahap. Logistik barang akan menjadi prioritas utama sebelum sistem ini dinyatakan aman untuk penumpang manusia.

"Saya yakin sepuluh tahun pertama lift luar angkasa akan menjadi misi logistik, hanya memindahkan barang ke atas," ujar Swan dengan yakin.

"Setelah kita melewati tahap itu dan bulan mulai dihuni dan Mars membutuhkan lebih banyak lagi, kita akan mulai memiliki lift dua arah, membawa barang ke bawah. Setelah 15 atau 20 tahun, kita bisa mengangkut orang," tutupnya.

Jika proyek ambisius ini berhasil, wajah transportasi antariksa akan berubah total. Orbit Bumi tidak lagi menjadi wilayah yang sulit dijangkau, melainkan bagian dari jaringan transportasi permanen yang menghubungkan manusia dengan tata surya.

Artikel ini sudah tayang di detikInet

Halaman 2 dari 2
(rns/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads