Sebelum Ada Internet, Begini Cara Berita Krakatau 1883 Menyebar ke Seluruh Dunia

Sebelum Ada Internet, Begini Cara Berita Krakatau 1883 Menyebar ke Seluruh Dunia

Tya Eka Yulianti - detikJabar
Rabu, 09 Sep 2026 14:57 WIB
Erupsi Gunung Anak Krakatau. Foto: PVMBG/Handout via REUTERS
Foto: Erupsi Gunung Anak Krakatau. Foto: PVMBG/Handout via REUTERS
Bandung -

Bagaimana dunia mengetahui kabar letusan Krakatau 1883 ketika internet belum ditemukan? Ternyata, bencana dahsyat yang terjadi di Hindia Belanda itu menjadi salah satu peristiwa pertama yang beritanya dapat menyebar ke berbagai belahan dunia dengan sangat cepat.

Gunung Krakatau meletus dahsyat pada 26 Agustus 1883. Letusannya menjadi salah satu bencana alam terbesar pada abad ke-19, menewaskan sekitar 36.000 orang dan memicu tsunami raksasa.

Namun, ada hal lain yang membuat peristiwa Krakatau 1883 begitu penting dalam sejarah. Untuk pertama kalinya, letusan gunung berapi besar dapat diketahui masyarakat di berbagai negara hampir bersamaan dengan terjadinya bencana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut dimungkinkan berkat perkembangan teknologi komunikasi pada masa itu, terutama kode Morse, kabel telegraf bawah laut, serta jaringan kantor berita yang mulai berkembang.

Krakatau Meletus, Dunia Langsung Mendapat Kabar

Letusan Krakatau 1883 terjadi pada era ketika komunikasi jarak jauh sedang mengalami perubahan besar.

ADVERTISEMENT

Jaringan kabel telegraf bawah laut telah menghubungkan berbagai wilayah di dunia. Pesan yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu untuk dikirim melalui kapal atau surat, dapat diteruskan dalam waktu jauh lebih singkat.

Profesor Nick Petford dari Fakultas Ilmu Bumi dan Geologi di Kingston University, London, menyebut letusan Krakatau sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah komunikasi.

"Ini adalah pertama kalinya gunung berapi meletus dan langsung diketahui saat itu juga. Kabel telegraf bawah laut merupakan jaringan komunikasi yang menjadi cikal bakal internet," katanya.

Teknologi tersebut membuat kabar mengenai letusan Krakatau dapat bergerak dari satu stasiun telegraf ke stasiun lainnya hingga menyeberangi benua.

Pesan Krakatau Menempuh Ribuan Kilometer

Salah satu pesan awal mengenai letusan Krakatau berasal dari agen Lloyd's, perusahaan finansial Inggris yang memiliki pemantau bencana di berbagai wilayah.

Agen tersebut melihat semburan api dari puncak Krakatau dan mengirimkan pesan singkat:

"Letusan gunung berapi yang kuat, Pulau Krakatowa."

Pesan itu kemudian dikirim melalui jaringan kabel telegraf. Meskipun jaringan di sekitar wilayah bencana kemudian terputus akibat tsunami, informasi tersebut sudah berhasil mencapai Batavia.

Dari Batavia, pesan diteruskan menuju Singapura. Setelah itu, informasi bergerak melalui jaringan telegraf menuju Madras, Trincomalee, Kolombo, dan Bombay.

Perjalanan pesan berlanjut melalui Terusan Suez menuju Port Said. Dari sana, kabar tersebut diteruskan melewati Malta dan Gibraltar, kemudian menuju Porthcurno di Cornwall, Inggris.

Pesan itu akhirnya menyeberangi Samudra Atlantik menuju stasiun penerima Reuters di Newfoundland dan Boston.

Rangkaian jaringan tersebut membuat kabar tentang bencana di Krakatau, yang berada ribuan kilometer dari Eropa dan Amerika, dapat diketahui dengan sangat cepat.

Hanya 4 Jam, Berita Krakatau Sudah Masuk Koran Amerika

Kecepatan penyebaran berita tersebut tergolong luar biasa untuk ukuran abad ke-19.

Surat kabar The Boston Globe bahkan memuat berita mengenai letusan Krakatau di halaman depan hanya sekitar empat jam setelah informasi tersebut diterima.

Keesokan paginya, masyarakat yang bepergian menggunakan kereta kuda di Boston dan New York sudah dapat membaca kabar mengenai bencana besar yang terjadi di Indonesia.

Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana teknologi komunikasi mulai mengubah cara manusia mengetahui kejadian di belahan dunia lain.

Sebagai perbandingan, ketika Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln dibunuh pada 1865, berita tersebut membutuhkan waktu sekitar 12 hari untuk mencapai London.

Hanya 18 tahun kemudian, kabar letusan Krakatau dapat melintasi jaringan komunikasi global dalam hitungan jam.

Letusan Krakatau Terdengar hingga Ribuan Kilometer

Cepatnya berita Krakatau menyebar bukan satu-satunya hal yang membuat letusan 1883 menjadi peristiwa bersejarah.

Kekuatan letusan Krakatau juga luar biasa. Suara ledakannya dilaporkan terdengar hingga Pulau Rodriguez di Samudra Hindia, sekitar 4.653 kilometer dari Krakatau.

Suara tersebut juga terdengar hingga Alice Springs, Australia, yang berjarak sekitar 4.800 kilometer.

Gelombang kejut akibat ledakan bahkan mengelilingi dunia hingga tujuh kali.

Letusan tersebut juga menyemburkan abu hingga sekitar 80 kilometer ke angkasa. Gas panas dan material vulkanik kemudian menyapu wilayah sekitar dengan kecepatan tinggi.

Namun, tsunami menjadi salah satu penyebab utama tingginya jumlah korban. Gelombangnya mencapai sekitar 40 meter dan bahkan mampu membawa bongkahan terumbu karang dengan berat mencapai 600 ton ke daratan.

Krakatau 1883 Mengubah Sejarah Ilmu Pengetahuan

Perkembangan teknologi komunikasi tidak hanya membuat berita Krakatau tersebar lebih cepat. Peristiwa tersebut juga membantu mendorong lahirnya kajian ilmiah modern mengenai letusan gunung berapi.

Ilmuwan Belanda Rogier Verbeek datang ke wilayah terdampak dan mencatat berbagai kondisi setelah bencana. Laporannya kemudian menjadi salah satu dokumentasi penting mengenai letusan Krakatau.

Tim ahli geologi dari Royal Society di London juga melakukan penelitian setelahnya.

Dari berbagai penelitian tersebut diketahui bahwa sebagian besar Pulau Krakatau hancur akibat letusan. Namun, setelah bencana, sejumlah pulau baru terbentuk.

Salah satunya kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau, yang terbentuk dari sisa-sisa aktivitas vulkanik Krakatau dan terus bertahan hingga sekarang.

Krakatau dan Awal Era Informasi Global

Sebelum Krakatau, dunia sebenarnya sudah pernah mengalami letusan gunung api besar, seperti Tambora dan Toba di wilayah Hindia Belanda, serta Santorini, Hekla, dan Mazama.

Namun, peristiwa-peristiwa tersebut terjadi ketika jaringan komunikasi global belum berkembang seperti pada 1883.

Krakatau hadir pada momentum yang berbeda. Kode Morse sudah digunakan, jaringan kabel telegraf bawah laut telah menghubungkan berbagai wilayah, dan kantor berita seperti Reuters memungkinkan informasi segera disebarkan kepada media.

Karena itu, letusan Krakatau 1883 bukan hanya dikenang sebagai salah satu bencana alam paling dahsyat dalam sejarah. Peristiwa tersebut juga menjadi tonggak penting dalam sejarah penyebaran informasi global.

Jauh sebelum masyarakat mengenal internet, media sosial, atau berita daring, kabar tentang sebuah gunung yang meletus di Indonesia ternyata sudah mampu menyeberangi lautan dan benua hanya dalam hitungan jam.



(tya/tya)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads