Cerita pilu menyelimuti kehidupan Beti Sri Wahyuni (43), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Lebaksiuh, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sudah 26 tahun lamanya Betty bertahan di Riyadh, Arab Saudi, tanpa kepastian gaji dan ruang untuk pulang ke tanah air.
Dalam video yang diterima detikJabar, Beti mengungkapkan kondisinya di tanah perantauan. Ia mengaku sudah tak tahan berada di Riyadh karena tak diberi gaji selama bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Assalamualaikum, saya Beti dari Sukabumi. Saya sudah 26 tahun (bekerja) selama ini saya tidak dapat gaji dan tidak boleh berkomunikasi dengan keluarga. Saya ingin pulang, tolong bantuannya kepada pemerintah," ucap Beti dalam video tersebut.
Kakak Beti, Lukas (59) menceritakan bahwa Beti berangkat mencari nafkah sejak tahun 2000, tak lama setelah ia menyelesaikan pendidikannya di tingkat Aliyah. Bermodalkan izin dari keluarga, Beti diberangkatkan melalui jalur sponsor resmi di Cisaat.
Namun, impian memperbaiki taraf hidup justru berubah menjadi belenggu panjang. Sejak menjejakkan kaki di Riyadh hingga kini, komunikasi antara Betty dan keluarga di tanah air sempat terputus total.
"Dari situ sampai tahun 2024, tidak ada kabar sedikit pun. Surat atau apa nggak ada, kan dulu belum ada telepon. Kami menganggap, orang tua atau keluarga di sini tuh udah, ya udah meninggal lah atau apa, karena nggak ada kabar," ujar Lukas kepada detikJabar, Rabu (9/9/2026) malam.
Titik terang baru muncul pada kurun 2024-2025. Sebuah panggilan telepon dari sesama pekerja asal Bekasi menjadi penyambung asa, memberikan kabar mengenai keberadaan Beti di Riyadh.
Niat Pulang Ditahan, Hak Gaji Tak Terpenuhi
Secara fisik dan perlakuan harian, Beti mengaku tidak mendapatkan kekerasan fisik dari majikannya. Namun, persoalan pemenuhan hak pekerja dan kebebasan menjadi penderitaan tersendiri yang harus ia panggul puluhan tahun. Selama lebih dari dua dekade bekerja, hak atas gaji bulanan nyaris tak pernah ia nikmati secara utuh.
"Dulu pernah satu kali katanya dapat gaji satu bulan, tapi dipinjam lagi, diambil lagi sama majikannya. Ya sama aja nggak ada," tutur Lukas meratapi nasib adiknya.
Kini, majikan yang dulu mempekerjakan Betty telah meninggal dunia, dan tanggung jawab mempekerjakannya beralih ke anak sang majikan. Seiring usianya yang terus bertambah tua, desakan rindu dan keinginan Beti untuk kembali ke kampung halaman kian membuncah. Sayangnya, niat tersebut selalu bertepuk sebelah tangan.
"Dia mau minta pulang berulang kali, bahkan berpuluh-puluh kali lah. Mau pulang tapi nggak diizinan, nggak ada respon apa-apa dari majikannya. Maksudnya disekap atau ditahan, bukan disiksa atau apa tapi tidak boleh keluar dan tidak boleh berkomunikasi sama keluarga. Tidak pernah dibuatkan iqamah (izin tinggal) Arab dan tidak pernah diperpanjang paspor," lanjutnya.
Keluarga di Kampung Lebaksiuh tidak tinggal diam. Lukas bersama relawan kemanusiaan telah mengadukan nasib adiknya ke Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Sukabumi untuk mencari keadilan.
Iktikad keluarga untuk memulangkan Beti telah menempuh jalur administratif formal. Berkas kependudukan, data identitas majikan, hingga dokumen penanggung jawab di Riyadh telah diserahkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).
Meski sponsor lokal yang dulu memberangkatkan Beti lepas tangan dan enggan bertanggung jawab, keluarga kini menggantungkan harapan penuh kepada pemerintah Indonesia di Arab Saudi.
"Kami dari keluarga sangat berharap adik saya ini bisa segera dipulangkan ke Sukabumi," pungkas Lukas.
(orb/orb)
