Misbah Dwiyanto, santai menyesap rokok dari tembakau yang ia linting sendiri. Ditemani beberapa kawan pria 42 tahun itu berbincang ngalor ngidul di halaman 'rumah tanah', hunian ramah lingkungan yang ia tinggali.
Sebutan 'rumah tanah' muncul bukan tanpa alasan. Sebab hunian yang kini ia tinggali bareng istri dan dua anaknya itu memang berdiri bermodal material utama berupa perpaduan tanah, jerami, lalu diperkuat dengan rangka bambu.
Hunian ramah lingkungan itu lahir dari cita-cita Misbah yang ingin menghabiskan hari-harinya bareng keluarga di rumah ramah lingkungan alias natural building. Ketertarikannya terhadap natural building, tumbuh sejak 2018 lalu. Berawal saat ia bereksperimen membuat bangunan berukuran kecil di tanah pribadinya dengan material alami.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebelum membangun rumah, saya bikin dulu eksperimen bangunan kecil. Ternyata berhasil, bahkan tahan terhadap getaran juga. Sempat juga kebanjiran waktu itu, tapi bangunannya tetap bertahan. Materialnya hanya tanah dengan rangka bambu, ditambah jerami," kata Misbah saat ditemui, Rabu (9/9/2026).
Keberhasilan eksperimen itu kian menumbuhkan ketertarikannya, meskipun ada beberapa hal yang harus disempurnakan. Hingga Misbah memutuskan memperdalam pengetahuan mengenai teknik pembangunan berbasis material alami. Perjalanan panjangnya dimulai dengan mengunjungi sejumlah negara mempelajari natural building.
Ia memulai langkahnya ke Austria lalu Thailand. Sepulang dari dua negara itu, Misbah merasa semakin percaya diri untuk menerapkan pengetahuannya dalam membangun hunian ramah lingkungan sendiri.
Proyek 'rumah tanah' resmi dimulai tahun 2024 silam. Tak cuma karena hasratnya, namun juga didorong kebutuhan hunian yang lebih besar untuk istri dan anak-anaknya. Banyak yang terlibat saat proyek ambisius itu berjalan.
"Proses bangun rumah ini sekitar satu tahun, melibatkan tukang, volunteer, dan teman-teman arsitektur dari luar negeri. Mereka datang dan pergi sehingga memantik pembangunan rumah secara gotong royong," tutur Misbah.
Rumah Tanah, hunian berkonsep natural building di Cimahi Foto: Whisnu Pradana/detikJabar |
Material tanah yang digunakan bukan sekadar ditempelkan ke dinding begitu saja. Dalam praktiknya, pembangunan hunian itu mengadopsi teknik konstruksi yang memadukan material tanah, pasir, jerami, lalu struktur bambu, dan anyaman sebagai penguat. Teknik tersebut membuat material tanah dapat tetap berdiri kokoh sebagai bagian dari struktur dinding.
"Jadi saya sempat coba racikan tanah dicampur jerami dan tanah dengan pasir saja, hasilnya yang pakai jerami itu lebih aman enggak ada retak. Rumah saya waktu gempa kemarin juga aman, karena tulangan bambunya fleksibel," kata Misbah.
Perbedaan hunian natural building dengan bangunan konvensional terletak pada permukaan rumah yang tak boleh menapak pada tanah. Hal itu terproyeksi dari 'rumah tanah' yang memiliki rongga dengan penopang beton sebagai konstruksinya.
Kemudian, pada bagian dinding hingga ke plafon, semua menggunakan campuran tanah, jerami, dan pasir. Ini merupakan kombinasi yang menurutnya paling tepat untuk membuat dinding kokoh, tanpa retak.
Bambu yang dipakai pun sudah direndam terlebih dahulu untuk menghilangkan gula yang sering mengundang rayap datang. Tangga rumahnya juga menggunakan rangka bambu yang diisi dengan tanah. Pada lantai di atas memakai dua material, yakni kerangka bambu dan multiplek (plywood).
"Kalau perhitungan kasar rumah ini bisa tahan sampai 50 tahun. Cuma tetap perlu diperhatikan perawatannya, seperti di bagian atap itu harus lebih panjang supaya air hujan tidak langsung kena dinding rumah. Kemudian diaci ulang dengan tanah supaya lebih kokoh," kata Misbah.

