Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat kualitas udara di Kabupaten Bandung dalam kategori tidak sehat. Hal tersebut terjadi setelah pasca menyebarnya dampak abu vulkanik dari Gunung anak Krakatau.
Kepala DLH Kabupaten Bandung, Ruli Hadiana mengatakan saat terus melakukan pemantauan kualitas udara di Kabupaten Bandung dalam setiap hari. Menurutnya proses pemantauan dilakukan setelah dampak abu vulkanik sudah mulai terasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya pengujian (kualitas udara) dilakukan setiap hari di Kantor kami di Soreang," ujar Ruli, kepada awak media, Selasa (8/9/2026).
Pihaknya menjelaskan pemantauan kualitas udara dilakukan dengan beberapa alat. Diantaranya manual aktif High Volume Air Sampler (HVAS) dan Low Volume Air Sampler (LVAS).
"Dilakukan selama satu jam (tidak realtime)," katanya.
Dia menyebutkan yang diuji dalam kualitas udara tersebut parameter SOx, NOx, PM 2,5 dan PM 10 (Partikulat). Kata dia, hasil pengujian parameter PM 10 (Pertikulat) menunjukan angka 110 mikrometer.
"Itu termasuk kategori tidak sehat dan melebihi baku mutu >75 nm," jelasnya.
Ruli mengungkapkan saat ini kualitas udara di Kabupaten Bandung masuk dalam kategori tidak sehat. Sehingga dirinya meminta masyarakat untuk menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.
"Jadi hasil pemantauan dan pengujian kesimpulannya bahwa kondisi udara dalam kategori tidak sehat. Jadi penggunaan masker masih perlu dilakukan untuk kondisi di luar ruangan," pungkasnya.
(sud/sud)
