Benarkah Kopi Baik untuk Menyembuhkan Kecemasan?

Elmy Tasya Khairally - detikJabar
Jumat, 04 Sep 2026 07:00 WIB
Kopi hitam (Foto: Getty Images/iStockphoto/stefanilouise)
Bandung -

Penelitian yang dimuat di Journal of Affective Disorders pada April 2026 menunjukkan adanya kaitan antara kebiasaan minum kopi dalam jumlah sedang dan kondisi kesehatan mental yang lebih baik.

Orang yang mengonsumsi sekitar dua hingga tiga cangkir kopi per hari tercatat memiliki risiko lebih rendah mengalami gangguan suasana hati maupun gangguan yang berhubungan dengan stres, termasuk depresi dan kecemasan.

Menurut laporan Verywell Health, manfaat tersebut tidak terlihat pada konsumsi kopi kurang dari dua hingga tiga cangkir sehari. Sebaliknya, asupan kopi yang melebihi tiga cangkir per hari berpotensi memicu kecemasan sekaligus mengganggu kualitas tidur. Kondisi itu dapat mengurangi efek positif yang mungkin diperoleh dari konsumsi kopi.

Para peneliti juga menemukan pola hubungan berbentuk huruf J antara jumlah kopi yang diminum dan kesehatan mental. Artinya, konsumsi kopi dalam kadar tertentu dapat memberikan manfaat, tetapi efek tersebut tidak terus meningkat ketika jumlahnya ditambah.

Dengan demikian, konsumsi secara moderat dinilai menjadi titik yang paling optimal untuk memperoleh manfaat kopi terhadap kesehatan mental.

"Studi ini mendukung bahwa asupan dalam jumlah sedang merupakan 'titik ideal', yang sejalan dengan rekomendasi umum mengenai asupan kafein saat ini," ujar Morgan L. Walker, MS, RD, ahli diet terdaftar di Lebanon Valley College.

Menurut Walker, ketika konsumsi mulai melebihi jumlah tersebut, efek samping negatif cenderung lebih sering muncul, seperti kualitas tidur yang buruk, rasa gelisah, serta peningkatan kecemasan, terutama pada orang yang lebih sensitif terhadap kafein.

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa perbedaan genetik dalam cara tubuh memetabolisme kafein tidak mengubah hasil penelitian secara keseluruhan. Selain itu, ditemukan perbedaan berdasarkan jenis kelamin, dengan efek perlindungan yang sedikit lebih kuat pada pria.

Hasil penelitian juga konsisten pada berbagai jenis kopi, termasuk kopi tanpa kafein atau decaf. Walker mengatakan hal ini mengindikasikan bahwa manfaat kopi mungkin berasal dari komponen lain selain kafein, seperti antioksidan atau senyawa bioaktif lainnya.

Walker mengatakan temuan ini memperkuat apa yang sering ia sampaikan, bahwa kopi bisa menjadi bagian dari rutinitas sehat dan dapat memberikan manfaat kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah sedang. Namun, lebih banyak bukan berarti lebih baik.

Terlepas dari temuan tersebut, Walker mengatakan bahwa toleransi individu terhadap kafein tetap penting dalam praktiknya.

"Sebagian orang merasa nyaman dengan dua cangkir, sementara yang lain mungkin merasakan efek samping dengan jumlah tersebut atau bahkan kurang," katanya.

Kopi Tidak Boleh Digunakan untuk Menyembuhkan Kondisi Mental

Menurut profesor dan direktur Program Magister Sains dalam Nutrisi Klinis & Dietetik di Johnson & Wales University, Luciana Soares, MS, RDN, kopi bisa menjadi bagian dari gaya hidup yang mendukung kesehatan mental. Namun, jangan berharap bahwa minuman ini bisa menyembuhkannya.

"Penting untuk dipahami bahwa konsumsi kopi tidak boleh digunakan untuk mengobati depresi atau kecemasan," kata Soares.

"Konsumsi kopi tidak akan langsung membuat seseorang merasa lebih baik."

Menurutnya, penelitian ini juga memiliki beberapa keterbatasan, seperti bersifat observasional dan tidak menunjukkan hubungan kausal. Jadi, meski menunjukkan bahwa konsumsi kopi berhubungan positif dengan kesehatan mental dalam jumlah tertentu, penelitian ini tidak menjelaskan alasannya.

"Konsumsi kopi juga dapat mencerminkan gaya hidup tertentu karena biasanya melibatkan struktur, rutinitas, dan keterlibatan sosial," kata Soares.

Selain itu, peserta juga melaporkan sendiri asupan mereka. Studi juga tidak memberikan detail tentang persiapan kopi dan metode penyeduhan atau penggunaan bahan tambahan, seperti susu, krim, gula, atau perasa lainnya. Informasi mengenai rincian konsumsi kopi juga masih kurang.

"Secara keseluruhan, penting untuk melihat hasil penelitian ini dalam konteksnya," kata Walker.

"Penelitian ini juga tidak sepenuhnya memperhitungkan faktor-faktor kunci lainnya, seperti kualitas diet secara keseluruhan," tambahnya.

Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.




(elk/yum)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork