Berbagai peristiwa menarik terjadi di Jawa Barat hari ini Rabu (2/9/2026), beberapa di antaranya memantik perhatian pembaca detikJabar.
Kabar soal sopir angkot yang dipaksa angkut dus berisi mayat, 10 pohon yang kembali dipasang dekat SixNine Padel hingga fakta viral Kopdes yang disebut berada di tengah makam.
Berikut ringkasan artikel yang dihimpun dalam Jabar hari ini,
Sopir Pikap Dipaksa Angkut Dus Berisi Mayat di Bandung
Hidup seolah menguji makna di balik namanya. Tegar, seorang sopir pikap daring, harus berlapang dada menerima kenyataan ketika ia harus mengangkut muatan yang tidak biasa dan belum pernah ia temui dalam kesehariannya.
Jasa Tegar disewa oleh seorang pria berinisial SDS (31). Dalam hal ini, Tegar mendapatkan pesanan untuk mengantarkan paket berisi besi dan baju yang dikemas menggunakan kardus berbentuk memanjang.
Saat membawa paket di kawasan Dunguscariang, Kecamatan Andir, Kota Bandung, Tegar tak menaruh curiga kepada SDS. Namun siapa sangka, Tegar bukan mengangkut barang seperti yang dikatakan pemesan jasanya. Mobil pikap hitam kesayangannya digunakan untuk mengangkut mayat wanita yang dikemas dengan dus tersebut.
Tegar mengaku tak mengetahui jika barang yang dia bawa merupakan mayat. Sebagai penyedia layanan, dia hanya menuruti keinginan pelanggan.
Tegar mengisahkan, paket kardus itu diketahui berisi mayat setelah Tegar menekan SDS dan menanyakan isi dari paket itu.
"Pas saya dia datang teh mau ngambil barang kan, saya tanya barangnya apa, di mana, terus tujuannya ke mana? Nah dia jelasin, pas barangnya tuh udah di jalan gitu, udah udah di pinggir jalan," kata Tegar, Rabu (2/9/2026).
Tegar menyebutkan dia tidak membantu mengangkat dus yang dibawa pelaku dari indekosnya, melainkan dus itu sudah ada di pinggir jalan.
"Enggak, kalau sampai dari kosan ke jalan mah saya enggak tahu, pokoknya udah di jalan, udah siap naik gitu. Terus dia bilang, 'A, ini berat katanya, minta tolong diangkat.' Nah, kata saya teh, 'A, kan itu ada trolinya di bawahnya, A, dorong aja deketin ke mobil.' Nah dia deketin, waktu naikin kan saya belum curiga, jadi saya bantu kayak sedikit ngangkat dikit gitu buat naikin. Nah dari situ udah udah naik, udah jalan, mulai kecium bau, saya curiga," ungkapnya.
Karena permintaan pelaku untuk jalan dulu, Tegar akhirnya menurut. Namun, dia penasaran dengan isi paket itu dan mengaku resah karena pelaku tak jujur.
"Saya makin curiga, saya tanya, saya pastikan lagi bahwa si barang ini apa dalamnya? Dia jawab, 'Ini dalamnya besi sama baju.' Saya masih curiga, saya tanya lagi, "Ini apa?" dia tetap jawabnya gitu. Terus saya bilang, "Kalau emang itu, gimana kalau kita buka?" Nah, dia bilang, "Jangan jangan jangan," dia kayak menolak itulah. Nah di situ saya semakin curiga, saya mulai takut juga, mulai panik juga kan tahu semakin yakin bahwa itu apa," ungkap Tegar.
Karena pelaku tak jujur dan menolak bungkusan paket itu dibuka, Tegar memilih menurunkan pelaku beserta paketnya.
"Pokoknya saya mau turunin dia, nah pas sebelum ke SPBU jalan agak padat, saya langsung ngambil kiri di depan toko wajan. Kebetulan ada orang juga di situ, saya langsung turun. Saya teriak-teriak ke dia, suruh dia turunin, pokoknya turunin-turunin, sama kamu turunin sendiri saya enggak mau ini. Saya langsung duduk sebelah orang-orang yang ada di sana, dia turunin sendiri, digusur dari bak itu, digusur sampai jatuh. Setelah itu saya naik lagi ke mobil, saya maju, saya masih sedikit jarak beberapa meter udah jauh dari lokasi, saya lihat ada satpam, di situ saya minta tolong buat ke satpam buat teleponin polisi," jelasnya.
Benar saja, kecurigaan Tegar selama perjalanan terungkap bahwa bungkusan paket itu berisi mayat. Apalagi salah satu tangan korban terlihat keluar dari bungkusan itu. Disinggung mengenai ke mana jasad korban akan dibawa oleh pelaku, Tegar menyebut akan dibawa ke Kopo, ke tempat travel.
"Dia pertamanya bilang mau ke Kopo, ke Kopo yang banyak travel dia bilangnya. Caringin ke depan katanya di kolong flyover itu," ujarnya.
Setelah itu, Tegar melakukan pelaporan kepada petugas. Kurang dari 12 jam, pelaku SDS berhasil ditangkap saat hendak kabur ke Palembang.
Pemkot Tanam Lagi 10 Pohon yang Ditebang di Depan SixNine Padel
Pemkot Bandung kembali menanam 10 pohon di depan SixNine Padel, Jalan LLRE Martadinata atau Jalan Riau. Kesepuluh pohon yang ditanam itu memiliki tinggi sekitar 5 meter.
Pantauan detikJabar, penanaman pohon tadinya diagendakan secara simbolis bakal dilakukan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Namun kemudian, Farhan batal datang ke acara tersebut.
"Hari ini ada 10 pohon yang ditanam, pohonnya jenis mahoni dengan tinggi 5-6 meter," kata Kabid Pertamanan pada Dinas Perumahan dan Permukiman (DPKP) Kota Bandung Nana Kurniawan, Rabu (2/9/2026).
Nana menyatakan, DPKP bakal memonitor terus setelah 10 pohon itu ditanam kembali. Perawatannya pun kata dia, membutuhkan waktu yang cukup panjang sebelum pohon itu bisa tumbuh rindang.
"Jadi supaya akarnya lebih kuat mencengkram, tidak berjamur, terserang hama dan sebagainya. Kita tetap monitoring, ada maintenance beberapa periode. Kalau misalkan mati ya kita ganti baru," ucapnya.
Selain di depan SixNine Padel, DPKP rencananya akan menanam pohon di lokasi lain yang telah dirusak. Sedangkan pelakunya di tempat itu, telah dihukum untuk membayar total Rp 100 juta sesuai aturan Perda.
"Nanti di tempat-tempat lain kita akan tanam ulang. Cuman mungkin waktunya menyesuaikan juga," pungkasnya.
Farhan mengatakan, pelaku dari penebangan pohon ilegal itu hanya satu orang. Dia merupakan vendor dari proyek videotron SixNine Padel yang kini telah disegel pemerintah.
"Pohon sudah ditanam kembali di Jalan Riau, tempat-tempat lain akan kita lakukan juga penegakan kedisiplinan dan juga penegakan peraturan," kata Farhan.
"Yang melakukannya, kalau yang kejadian di Jalan Riau, itu kan pelakunya sudah membayar denda. Itu adalah kontraktor dari videotron di belakangnya. Karena pemotongan pohon itu ada kaitannya dengan bisnis videotron tersebut, maka videotronnya yang kami segel," ungkapnya menambahkan.
Farhan menyatakan, pelaku penebangan pohon itu sudah membayar denda total Rp 100 juta, sesuai tindakan yang dia lakukan. Uang denda tersebut kemudian disetorkan ke kas daerah.
"Udah, makanya kemudian si 100 pohon itu kita konversi menjadi 10 bibit mahoni tinggi 5 meteran, diameter 30 sampai 40 cm. Kalau (denda) Rp 10 juta per pohon, itu masuk ke kas daerah," pungkasnya.
Viral Kopdes Cigobang Disebut Berdiri di Tengah Makam
Sebuah jalan setapak di antara deretan makam mendadak menjadi perhatian setelah sebuah video berdurasi 43 detik viral di media sosial. Kamera dalam video itu menyusuri jalur sempit di kawasan pemakaman hingga akhirnya mengarah ke sebuah bangunan bertuliskan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Cigobang.
Potongan gambar tersebut sontak memunculkan kesan seolah-olah gedung koperasi berdiri di tengah kompleks pemakaman.
"Duh apa ini Kopdes. Kopdes ada di kuburan guys," ujar perempuan yang merekam video tersebut dalam rekaman yang beredar.
Video itu kemudian ramai diperbincangkan warganet. Pertanyaan mengenai lokasi pembangunan Kopdes Merah Putih Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pun bermunculan.
Namun, setelah ditelusuri langsung ke lokasi, kondisi sebenarnya ternyata tidak seperti kesan yang muncul dalam video. Gedung Kopdes Merah Putih Cigobang memang berada tidak jauh dari area pemakaman umum. Akan tetapi, bangunan tersebut tidak berdiri di tengah makam.
Kepala Desa atau Kuwu Cigobang, M Abdul Zei, menegaskan bahwa bangunan koperasi berada di lahan desa yang terpisah dari area pemakaman. Ia menyebut kesan Kopdes dibangun di dalam kompleks makam muncul karena video tersebut direkam dari jalur alternatif yang berada di kawasan pemakaman.
"Saya akan mengklarifikasi permasalahan yang viral di media sosial, yaitu di akun TikTok, bahwa jalan akses utama masuk ke KDMP Desa Cigobang lewat pemakaman itu salah besar. Dan lokasinya pun tidak ada di dalam area pemakaman," ujarnya, Rabu (2/9/2026).
Menurut Abdul Zei, jalan yang terlihat dalam video memang benar-benar ada dan dapat dilalui masyarakat. Namun, jalur tersebut bukan akses utama menuju gedung Kopdes.
Jalan itu merupakan jalur alternatif yang biasa digunakan warga, termasuk para pelajar, karena lokasinya berdekatan dengan fasilitas pendidikan.
"Jalan itu jalan alternatif untuk masyarakat, untuk anak-anak sekolah, karena berdekatan dengan sekolah," ucapnya.
Sementara akses utama menuju gedung Kopdes berada di sisi barat bangunan. Di lokasi tersebut terdapat jalan yang lebih besar dan menjadi jalan utama menuju gedung koperasi sekaligus akses menuju kawasan pertanian.
"Yang aslinya, jalan intinya itu ada di sebelah barat. Di jalan barat, sebelah KDMP-nya, itu ada jalan besar. Itu jalan utama untuk masuk ke akses KDMP Desa Cigobang," jelasnya.
Dengan demikian, jalur setapak yang terlihat dalam video bukanlah satu-satunya jalan menuju Kopdes.
Pengambilan gambar dari sudut tertentu membuat hubungan antara makam dan gedung koperasi terlihat seolah-olah jauh lebih dekat dari kondisi sebenarnya. Abdul Zei tidak membantah bahwa masyarakat dapat melewati jalan yang berada di kawasan pemakaman tersebut. Hanya saja, jalur itu memiliki ukuran yang lebih sempit sehingga hanya dapat digunakan oleh sepeda maupun sepeda motor.
"Kalau lewat situ bisa, tapi cuma bisa akses itu antara sepeda dan motor, kalau mobil tidak bisa," katanya.
Ia menjelaskan, dari arah Balai Desa Cigobang, warga dapat berjalan lurus hingga menemukan area pemakaman. Dari titik tersebut terdapat jalur yang berbelok ke arah kawasan makam.
"Sebenarnya dari pintu, dari balai desa itu lurus, ada pemakaman langsung belok kiri. Itu kan akses pemakaman, bukan jalan utama untuk ke KDMP kalau di situ," ujarnya.
Jalur tersebut memang dapat membawa seseorang menuju area sekitar Kopdes. Namun, keberadaannya tidak lantas menjadikan gedung koperasi berada di dalam kompleks pemakaman.
Kedekatan lokasi Kopdes dengan makam menjadi bagian yang tidak dibantah oleh pemerintah desa. Abdul Zei mengatakan gedung tersebut memang dibangun berdekatan dengan area pemakaman. Namun, lahan pembangunan berada di luar area makam.
Pemilihan lokasi tersebut, kata dia, juga bukan keputusan sepihak. Pemerintah Desa Cigobang menyiapkan lahan desa berdasarkan hasil musyawarah dan kesepakatan bersama dengan pengurus koperasi.
"Nah, kita sesuai hasil musyawarah desa, kesepakatan bersama, bahwa Pemerintah Desa menyiapkan lahan desanya untuk pembangunan Kopdes," ucapnya.
Trotoar Tinggi di Gasibu Mulai Dibongkar
Trotoar tinggi di kawasan Gasibu, Kota Bandung, yang sebelumnya dikeluhkan pejalan kaki mulai dibongkar. Bagian trotoar yang berada tepat di titik penyeberangan atau zebra cross kini tengah disesuaikan.
Pantauan detikJabar, Rabu (2/9/2026), sejumlah bata pada bagian trotoar telah dibongkar. Pembongkaran dilakukan tepat di area yang menghubungkan trotoar dengan zebra cross.
Bagian tersebut sebelumnya menjadi sorotan karena memiliki perbedaan ketinggian yang cukup mencolok. Pejalan kaki yang hendak menuju zebra cross harus melewati trotoar dengan elevasi tinggi, sehingga akses penyeberangan dinilai kurang nyaman.
Kini, bagian tersebut mulai dibongkar. Trotoar yang sebelumnya menjulang di titik penyeberangan tampaknya akan dibuat lebih landai agar akses pejalan kaki menuju zebra cross menjadi lebih mudah.
Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Provinsi Jawa Barat, Agung Wahyudi, menjelaskan penataan kawasan Gasibu hingga saat ini masih berada dalam tahap pelaksanaan kontrak konstruksi.
Menurutnya, perbedaan elevasi antara trotoar dan titik penyeberangan terjadi karena adanya penyesuaian terhadap kondisi di lapangan.
"Saat ini paket pekerjaan penataan Gasibu masih dalam tahap pelaksanaan kontrak konstruksi. Perbedaan elevasi antara trotoar untuk pejalan kaki dan tempat penyeberangan diperlukan penyesuaian kondisi elevasi di lapangan," kata Agung saat dikonfirmasi.
Pemprov Jabar pun memastikan akan melakukan tindak lanjut terhadap kondisi tersebut. Penyesuaian akan dilakukan pada perbedaan ketinggian antara jalur trotoar dan tempat penyeberangan.
Tak hanya itu, akses bagi pejalan kaki menuju zebra cross juga akan dibuat agar konektivitas antara trotoar dan jalur penyeberangan menjadi lebih baik.
"Sebagai langkah tindak lanjut adalah penyesuaian elevasi antara trotoar untuk pejalan kaki dan tempat penyeberangan serta pembuatan akses pejalan kaki menuju zebra cross atau sebaliknya," ujar Agung.
Sebelumnya, keberadaan trotoar tinggi di kawasan Gasibu ramai dikeluhkan. Desain jalur pedestrian yang seharusnya memudahkan mobilitas pejalan kaki justru menjadi sorotan karena perbedaan ketinggiannya dengan titik penyeberangan.
Ojol di Bandung Dikeroyok Pelanggar Lalin
Seorang driver ojek online (ojol) menjadi korban penganiayaan yang dilakukan sejumlah orang di persimpangan Jalan Otista-Sudirman, Selasa (1/9) sekitar pukul 01.30 WIB.
Korban dalam kejadian ini bernama Kuswara Iskandar (61), warga Cilame, Kecamatan Ngamprah, Bandung Barat dan pelaku dalam kejadian ini, di antaranya Rizki Ananda (23), Reza Gunawan (22), dan Aldi Gunawan (29).
"Kronologi kejadian, pada jam 01.30 WIB, Kuswara sedang mengantar penumpang melewati perempatan Jalan Otista-Sudirman dan setelah lampu hijau melaju ke arah Jalan Sudirman dari arah Otista ada sebuah motor menobos lampu merah serta hampir bersenggolan," kata Kapolsek Astanaanyar Kompol Fetrizal dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).
Fetrizal menyebutkan, driver ojol ini menegur ketiga pelaku, namun mereka tidak terima.
"Kuswara berkata 'Heuhh.' sehingga menimbulkan perselisihan dan pelaku mengatakan 'ka sisi siah an****' dan melakukan pemukulan terhadap korban menggunakan tongkat besi," ujarnya.
Warga sekitar dan driver ojol lainnya yang ada di TKP langsung melerai, korban dan pelaku langsung diamankan ke Mapolsek Astanaanyar.
"Keributan tersebut dilerai oleh warga sekitar dan ojol serta dugaan pelaku diamankan oleh petugas kepolisian dan dibawa ke Mapolsek Astanaanyar," terangnya.
Fetrizal menyebutkan jika korban mengalami sejumlah luka dan sudah mendapatkan penanganan medis.
(orb/orb)