Pemandangan memprihatinkan terlihat jelas saat melangkahkan kaki ke dalam kediaman Emak Jijah di Kampung Selaawi Hilir, RT 01/RW 06, Desa Cibunarjaya, Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi.
Begitu pintu depan dibuka, tatapan langsung tertuju pada langit-langit ruang tengah yang kondisinya sudah sangat kritis.
Plafon anyaman bambu (bilik) berwarna cokelat tua dan putih tampak melengkung ke bawah, kehilangan daya sangganya. Rangka kaso kayu terlihat rapuh dan lapuk, meninggalkan celah sobekan besar serta serabut bambu yang menjuntai ke arah lantai keramik bermotif pecahan batu hijau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebuah bohlam lampu tampak menggantung pasrah tepat di bawah cekungan bilik yang sewaktu-waktu bisa runtuh menimpa meja dan lemari dapur di bawahnya.
Kondisi ruang tidur tak kalah mengkhawatirkan. Di atas kasur sederhana yang berselimut kain merah, bagian atap bilik bambu sudah terkelupas dan amblas. Sorot cahaya matahari siang bahkan menembus langsung ke dalam kamar melalui celah genting dan reng kayu yang patah.
Tepat di bawah celah tersebut, dinding semen polos memperlihatkan retakan vertikal yang panjang dan menganga, mempertegas struktur dinding yang kian rapuh.
Kerusakan parah ini membuat Emak Jijah tidak lagi memiliki keberanian untuk memejamkan mata di rumahnya sendiri saat malam tiba. Ia memilih mengungsi ke tempat sang anak.
"Kalau malam tidur di rumah anak. Takut, merasa was-was," ujar Emak Jijah sembari menatap langit-langit rumahnya, Rabu (2/9/2026).
Jijah menuturkan, ia hanya datang ke rumah tersebut saat siang hari. Ketika cuaca mendung dan hujan deras turun, rumah tersebut praktis tak lagi mampu menjadi pelindung.
"Bocor, baskom sampai penuh semua di sini. Kan atapnya sudah pada gorowong (bolong). Dulu juga pas lagi di dalam pernah ada material atap yang jatuh," ucap Jijah seraya mengusap air mata dengan ujung kerudungnya.
Meski pihak keluarga kerap membujuknya agar pindah secara permanen, ikatan emosional membuat lansia tersebut tetap bertahan menghabiskan siang harinya di sudut rumah lamanya.
Ketua RT 01 Wahyu Mansur membenarkan bahwa ancaman ambruknya atap rumah tersebut sangat nyata. Pihaknya mengaku telah mengupayakan permohonan bantuan ke tingkat desa sejak lama.
"Pengajuan sudah pernah masuk ke desa, sudah ada sekitar tiga tahunan lebih. Anak-anaknya sebenarnya sudah merangkul untuk pindah, tapi orang tua memang berat ninggalin rumah lamanya. Makanya kalau malam rumah ini dikosongkan demi keselamatan," tutur Wahyu Mansur.
Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Kecamatan Ciambar Heri menyatakan telah memerintahkan kepala desa setempat untuk meninjau langsung ke lokasi. Pihak kecamatan menyebut rumah Emak Jijah tengah diajukan melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) untuk periode akhir tahun hingga awal tahun 2027.
(sya/yum)
