Luka-luka di tubuh bocah sembilan tahun itu memang mulai mengering, namun memori mencekam di Arjasari, Kabupaten Bandung, tampaknya belum benar-benar lekang. Setelah melewati masa kritis selama lima hari di RSUD Welas Asih, korban serangan anjing pitbull tersebut akhirnya diizinkan pulang. Kini, ia memilih tinggal di kediaman sang kakek guna mencari rasa aman yang sempat hilang.
Deilham Maulana (28), paman korban, menuturkan keponakannya telah meninggalkan rumah sakit sejak akhir pekan lalu. Langkah ini diambil agar proses pemulihan bisa berjalan lebih tenang di bawah pengawasan keluarga besar.
"Iya korban sudah pulang dari rumah sakit sejak hari Jumat tanggal 28 Agustus 2026. Sekarang posisi ada di rumah kakeknya (orang tua saya)," ujar Deilham kepada detikJabar, Senin (31/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara fisik, bocah malang itu menunjukkan perkembangan positif. Ia sudah mampu berkomunikasi dengan lancar dan mulai melakukan aktivitas ringan. Namun, balutan perban putih masih mendominasi beberapa bagian tubuhnya, menyembunyikan luka yang masih dalam proses penyembuhan.
"Cuma kondisi masih dibalut perban ya. Paling ya nunggu luka kering lah. Itu sih kalau untuk kondisi. Cuman kalau kondisi anaknya relatif bisa diajak bicaralah," katanya.
Serangan brutal tersebut memang meninggalkan jejak yang mengerikan. Area wajah, telinga, hingga kepala bagian belakang menjadi sasaran amukan sang anjing.
Deilham mengungkapkan, tim medis harus bekerja ekstra keras dengan mendaratkan puluhan jahitan untuk menutup luka-luka robek tersebut.
"Ada banyak lukanya juga kan 27 jahitan, terus dibalut lagi," jelasnya.
Namun, luka yang tak kasat mata justru jauh lebih dalam. Trauma hebat menjadi alasan utama keluarga memutuskan untuk tidak membawa korban pulang ke rumah asalnya di Arjasari.
Ternyata, bayang-bayang kejadian itu tidak hanya menghantui korban, tetapi juga saudara-saudaranya yang menyaksikan langsung peristiwa berdarah tersebut.
"Iya korban saat ini tinggal sementara di rumah kakeknya, jadi tidak di Arjasari. Karena korban tidak ingin tinggal di rumah termasuk saudaranya yang lain karena saat kejadian berlangsung ada tiga keponakan saya," ungkapnya.
Di tengah perjuangan untuk sembuh, pihak sekolah pun menunjukkan empati besar. Korban diberikan dispensasi khusus agar tidak terbebani oleh urusan akademik. Fokus utamanya saat ini hanyalah satu, yaitu pulih sepenuhnya, baik raga maupun jiwa.
"Sudah konfirmasi juga, apa kalau dari pihak sekolah nyarankan untuk memfokuskan saja pada kesembuhan. Cuman kalau misalnya emang butuh tugas, ya nanti bakal dikasih. Jadi sekarang masih istihat di rumah," kata Deilham.
Kini, keluarga tengah menyusun rencana untuk melakukan trauma healing. Meski sempat mendapat perhatian dari KPAI saat masa perawatan di rumah sakit, keluarga merasa perlu mencari bantuan profesional tambahan. Nama praktisi perlindungan anak, Kak Seto, menjadi salah satu harapan keluarga untuk membantu menghapus trauma mendalam sang bocah.
"Nah, pas awal-awal yang waktu di rumah sakit, yang waktu buka perban yang pertama, itu ada dari KPAI. Cuma untuk pihak luar saya belum ada informasi lebih lanjut. Tapi kayaknya saya bakal coba kontak dari timnya Kak Seto, gitu. Karena memang bagian dari KPAI juga, gitu. Untuk pemulihan, karena memang butuh juga sih, gitu," pungkasnya.
