Sampah selama ini jadi masalah akut di Kota Bandung. Dengan timbulan 1.500 ton per hari, sampah kerap menimbulkan persoalan dengan kebijakan yang belum berdampak signifikan.
Kondisi ini kemudian mendorong koalisi masyarakat sipil untuk memberikan edukasi kepada warga. Melalui acara bertajuk 'Piknik Bebas Plastik' di Taman Panatayuda, Kota Bandung, mereka mengajak agar warga bisa mulai peduli mengolah sampah dari rumah tangga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koalisi yang menyusun acara ini adalah Greenpeace, Walhi, River Cleanup, Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan hingga komunitas Bike to Work. Sesuai konsepnya, warga diajak 'piknik' seharian lalu diberi edukasi masalah persampahan.
Juru Kampanye Plastik dan Sampah Greenpeace Indonesir Ibar Akbar mengatakan, gerakan ini tercetus sejak 2019. Namun hingga 4 tahun berjalan, gerakan ini berkonsep suara tuntutan kepada pemerintah mengenai masalah persampahan.
Mulai 2024, konsep program ini pun akhirnya diubah. Agenda 'Piknik Bebas Sampah Plastik' pun dipilih untuk memberi edukasi kepada warga melalui sejumlah workshop dalam mengolah persampahan.
"Terus kita mau tunjukin di satu event itu kita bisa kok bikin event yang enggak pakai plastik sekali pakai. Jadi tidak ada sampah plastik, sampah organik mungkin ada cuma kita bisa kelola," kata Ibar saat berbincang dengan detikJabar, Minggu (30/8/2026).
Kampanye 'Piknik Tanpa Plastik' di Bandung. Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar |
Menariknya, workshop tak hanya menyasar warga yang menjadi peserta pinik bebas plastik. Panitia juga mengajak sejumlah pedagang di area taman untuk menerapkan kebiasaan tersebut.
Hasilnya, ternyata di luar dugaan. Para pedagang sepakat untuk berjualan tanpa membawa plastik kemasan demi bisa mendukung kampanye tersebut.
"Dan mereka mau. Yang sehari-hari mereka pakai plastik, mereka mau kok untuk enggak pakai plastik. Kita tekankan kalau enggak bawa wadah, kita bisa pinjemin. Yang penting ada ekosistemnya, nyiapin wadah, balikin lagi dan sebagainya. Itu kalau konsep kampanye ini," ucapnya.
Di agenda itu, koalisi memberi edukasi kepada warga dalam menangani sampah. Salah satunya dilakukan melalui metode kompos, yang berfungsi menekan sampah organik di rumah tangga.
Lebih jauh, Greenpeace kata Ibar turut menyoroti masalah penanganan sampah di berbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali di Kota Bandung. Sebetulnya kata dia, setiap pemerintah daerah sudah memiliki regulasinya masing-masing, namun belum bisa dijalankan secara maksimal.
"Greenpeace melihat yang penting dan paling utama bagaimana membuat infrastruktur dan regulasi yang mendorong pemilahan. Karena sebagai manusia, ngomongin soal kompos, sampah sampah organik, tapi juga sebagian besar itu jadi masalah karena enggak dipilah dan tercampur semua," ujarnya.
"Kalau kami melihatnya dorong dulu pemilahan dari sumber, regulasi udah ada, cuma bagaimana anggaran itu bisa fokus ke pemilahan. Karena kita melihat anggaran pengolahan sampah di daerah tuh sangat kecil, Jakarta aja sebagai kota besar itu hanya 3-4 persen, bahkan di beberapa kota masih di bawah 1 persen. Ini sebenarnya komitmen political will untuk menaikkan anggaran pengolahan sampah yang mana itu juga fokus ke pemilahan," pungkasnya.

