Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa transformasi besar dalam berbagai sendi kehidupan, termasuk sektor pendidikan. Menanggapi fenomena ini, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tengah menggodok sistem pembelajaran transformatif untuk diterapkan di lingkungan kampus yang mengadopsi teknologi AI dan robotik.
Dirjen Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, menegaskan pentingnya adaptasi sistem pengajaran terhadap kemajuan teknologi agar tetap relevan tanpa menanggalkan nilai-nilai dasar.
"Termasuk di antaranya ini adalah bagaimana di dalam kaitannya dengan kedokteran, pembelajaran transformatif di kedokteran, bagaimana pembelajaran transformatif sistem pengajaran dan pembelajaran," ujar Najib saat berkunjung ke Universitas Persatuan Islam (UNIPI), Margaasih, Kabupaten Bandung, Minggu (30/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Najib menjelaskan bahwa pembelajaran transformatif dirancang agar dunia pendidikan dapat berjalan beriringan dengan AI secara tepat guna. "Jadi sistem dan strategi pembelajaran transformatif dan intinya itu adalah bagaimana AI dan sebagainya itu menjadi bagian yang integral di dalam sistem pendidikan," tambahnya.
Menurutnya, AI kini telah merambah berbagai aspek akademik, mulai dari penyusunan karya ilmiah hingga pengembangan kreativitas mahasiswa. Kesadaran kolektif dari seluruh sivitas akademika, termasuk di lembaga pendidikan Islam, menjadi kunci dalam menghadapi arus teknologi ini.
"Kita tidak bisa lepas dengan teknologi AI tersebut. Itu yang perlu untuk menjadi kesadaran bersama dari mahasiswa, dari dosen, termasuk yang ada di UNIPI dan juga gerakan seperti Persatuan Islam dan sebagainya," jelas Najib.
Ia juga mendorong perguruan tinggi dan umat Islam untuk tidak sekadar menjadi penikmat teknologi, tetapi juga mampu berkontribusi aktif dalam pengembangannya dengan tetap menjaga orisinalitas karya.
"Kadang kita hanya menjadi pasar atau pemanfaat, belum menjadi pengguna. Inilah yang kita perlu dari perguruan tinggi, dari umat Islam untuk kemudian memiliki kesadaran dan juga bangkit tidak sekadar sebagai konsumen, tetapi juga menjadi produsen," tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Rektor UNIPI Jajang A Rohmana menyatakan bahwa setiap perguruan tinggi wajib merespons perkembangan AI dengan meningkatkan kapasitas riset mahasiswa.
"Jadi memang bahwa memang penguatan dunia riset itu harus melibatkan kaum muslim ya, ormas dan juga pendidikan di lingkungan Ormas Islam ya, khususnya di Persatuan Islam," kata Jajang.
Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan AI tanpa landasan etika dapat memicu masalah serius di masa depan. Oleh karena itu, batasan yang jelas dan nilai-nilai Islam harus menjadi koridor utama dalam pemanfaatan teknologi ini di lingkungan akademik.
"Makanya perlu untuk mengenal rambu-rambu, batasan-batasan dan nilai etika Islam itu yang kemudian diharapkan dijunjung tinggi ya dalam pengembangan kecerdasan artificial ini," pungkas Jajang.
