Sebuah rakit bambu alakdarnya terparkir di ujung Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Di atasnya sudah berdiri seorang pria dewasa yang jadi juru kemudinya.
Seperti hari-hari lainnya, alat transportasi non-industri itu bergerak membelah tenang permukaan perairan Waduk Saguling, dari aliran Sungai Citarum. Berpacu dengan waktu mengantarkan bocah-bocah SD merajut mimpi lewat pendidikan.
Agus Sumpena, sang nakhoda telaten menarik tambang agar rakit eretan itu bergerak meninggalkan dermaga Kampung Sadang bisa tiba lalu bersandar di ujung tanah Kampung Gombong, tempat SD Negeri Budiharja berdiri. Perjalanan yang ditempuh para penumpangnya cukup singkat, sekitar 5 sampai 10 menit saja.
Dalam keadaan rapi mengenakan seragam putih merah, Imam, Dian, dan belasan bocah sekolah dasar dari kampung yang sama turun lalu menapaki jalan menuju tempat mereka menuntut ilmu. Suasana pelosok Bandung Barat itu sudah ramai, tapi masih terasa sejuk karena angin musim kemarau.
Bagi bocah Kampung Sadang, rakit menjadi moda transportasi utama mereka agar bisa bersekolah. Justru jika menempuh perjalanan darat, rute yang mereka tapaki lebih memutar dengan waktu tempuh sekitar 30 menit berjalan kaki dan 15 menit menggunakan sepeda motor.
"Saya dan beberapa orang di sini, setiap hari mulai dari pagi dan siang hari mengantarkan anak-anak ke sekolah naik rakit. Saat ini, yang naik rakit ada 16 anak, kalau dulu lebih bisa sampai puluhan," kata Agus Sumpena, Ketua RT 05, Desa Budiharja yang berperan juga sebagai pengemudi rakit, saat ditemui, Jumat (28/8/2026).
Penyeberangan menggunakan rakit demi mengantarkan bocah-bocah mengenyam pendidikan dasar itu sudah berlangsung sejak tahun 90-an, tepat setelah Waduk Saguling diresmikan pemerintah di zaman Presiden Soeharto.
Sejak saat itu, rakit menjadi andalan. Moda transportasinya berkembang dengan perahu kecil atau sampan. Ada yang digerakkan dengan dayung, lalu jika pemiliknya mampu akan dilengkapi dengan mesin.
"Nah dulu itu, orangtua antar anaknya masing-masing pakai rakit terus perahu. Karena semakin banyak, akhirnya pihak sekolah membuatkan rakit berukuran agak besar yang bisa mengangkut 20 anak. Jadi sampai sekarang itu berlanjut, dikoordinir sama warga pemberangkatannya," kata Agus.
Bolak-balik mengantarkan puluhan bocah, rakit yang dibuat cuma mampu bertahan beberapa tahun saja. Bambu mengalami kerusakan seiring berjalannya usia ditambah kondisi cuaca. Sampai saat ini, terhitung lebih dari enam rakit yang sudah dipakai untuk menyeberangkan anak-anak dan warga.
"Ya lebih dari enam mungkin yang dipakai, karena kan terus disimpan di air, lalu kepanasan jadi bambunya gampang rusak. Belum lagi tambangnya, kalau enggak ada tambang agar berbahaya juga meskipun ada dayung," kata Agus.
Minta Dibuatkan Jembatan
Imam, Dian, dan belasan bocah lainnya tetap bertaruh nyawa kala menyeberangi waduk dengan kedalaman lebih dari sepuluh meter, sekalipun mereka sudah terbiasa. Belum lagi jika musim hujan tiba, risiko yang mengintai keselamatan mereka kian meningkat.
Bocah-bocah polos itu mulai bersiap berangkat ke sekolah di jam 05.30, lalu sekitar pukul 06.00 mereka sudah harus bersiap di dermaga. Jika terlambat, praktis mereka memilih tak bersekolah.
"Berangkat jam 6 pagi, soalnya jam 6.15 harus sudah di sekolah. Pulang jam 12 siang, dijemput lagi naik rakit. Kalau jalan capek, mutar terus panas," kata Imam.
Jika musim hujan tiba, mereka akan membawa payung ke sekolah. Kemudian sepatu akan dimasukkan ke keresek agar tak kebasahan. Namun kebanyakan, bocah-bocah itu lebih memilih bolos sekolah daripada harus hujan-hujanan.
"Ya kadang sekolah, kadang enggak. Soalnya kalau hujan suka malas," kata Imam malu-malu.
Mereka berharap pemerintah mau menengok kondisi mereka yang teramat membutuhkan akses alternatif berbentuk jembatan, baik jembatan gantung maupun jembatan permanen di atas aliran Waduk Saguling, Sungai Citarum.
"Ya harapannya sama pemerintah atau pihak swasta bisa dibuatkan jembatan, minimal jembatan apung. Jadi anak-anak kami enggak harus naik rakit lagi, warga juga bisa lebih leluasa aktivitasnya," kata Agus.
Kepala SDN Budiharja, Taufik, menyebut sekolah berperan memfasilitasi kebutuhan transportasi siswanya. Mereka bahkan sempat menyediakan pelampung melengkapi unsur keselamatan menempuh perjalanan air para siswa.
"Iya, dari dulu. Dari mulai ada Saguling, karena anak-anaknya banyak yang sekolah ke sini maka dibuat rakit oleh sekolah. Biayanya juga dari sekolah, bahkan sempat ada pelampungnya tapi sudah rusak mungkin ya. Jadi sekarang alakadarnya," kata Taufik.
Sama seperti warga, Taufik juga meminta ada sentuhan dari pemerintah maupun swasta agar bisa dibuatkan jembatan. Tak cuma bagi siswa, jembatan tentunya akan memudahkan akses warga setempat.
"Di sini ada MA, ada SMP, dari sana kan banyak yang sekolah di sana. Makanya saya mohon kepada pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi maupun pusat, itu bisa mengadakan atau memfasilitasi masalah jembatan tersebut," kata Taufik.
(yum/yum)