Asa Baru di Waduk Saguling, Kala Warga Cililin Tak Lagi Bertaruh Nyawa

Bandung Barat

Asa Baru di Waduk Saguling, Kala Warga Cililin Tak Lagi Bertaruh Nyawa

Whisnu Pradana - detikJabar
Senin, 24 Agu 2026 06:30 WIB
Jembatan Gantung Sungai Cicadas penghubung 2 Desa di Pelosok KBB
Jembatan Gantung Sungai Cicadas penghubung 2 Desa di Pelosok KBB. (Foto: Whisnu Pradana)
Bandung Barat -

Sebanyak 1.200-an jiwa yang tinggal di dusun 2 dan 4, Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tak lagi bertaruh keselamatan jika hendak beraktivitas ke desa tetangga hingga ke pusat kota.

Puluhan tahun lamanya, mereka mesti menggunakan transportasi air melewati Waduk Saguling dari aliran Sungai Citarum. Pun jika menapaki jalur darat, rute yang ditempuh harus memutar dengan durasi dua kali lebih lama ketimbang melewati jalur air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Misalnya untuk akses kesehatan, warga dua dusun itu mesti berobat ke puskesmas di kecamatan tetangga, yakni Desa Citalem di Kecamatan Cipongkor maupun ke Desa Tanjungjaya di Kecamatan Cihampelas.

Pun jika mesti ke Puskesmas Cililin, maka mereka bakal menempuh perjalanan selama satu sampai dua jam. Serupa jika mereka harus berobat ke Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Karanganyar, yang berjarak sekitar 16 sampai 20 kilometer lewat jalur darat.

ADVERTISEMENT

Kemudian untuk kebutuhan pengurusan administrasi di kantor desa, mereka perlu menempuh jarak yang sama. Tetapi lain soal kalau menyeberangi sungai, maka perjalanan akan ditempuh hanya sepertiganya saja.

Kepala Desa Karanganyar, Asep Hermawan mengatakan sejak setahun belakangan, mobilitas warga tak lagi sesulit dulu sejak dibangunnya Jembatan Gantung Sungai Cicadas Waduk Saguling.

"Alhamdulillah, sekarang warga kami tidak lagi sulit kalau mau mengakses fasilitas kesehatan, mau berpergian ke kota. Sudah ada jembatan gantung yang dibangun tahun lalu," kata Asep saat ditemui, Minggu (23/8/2026).

Jembatan gantung itu dibangun oleh pihak swasta setelah viral anak-anak di desa itu harus naik rakit menuju ke sekolah. Jika naik motor diantar orangtua, mereka akan menghabiskan waktu 45 menit sampai 1 jam.

Jembatan gantung itu bahkan menghubungkan dua desa di Kecamatan Cililin dan Kecamatan Cipongkor. Meskipun ada keterbatasan dari segi daya tampung, sebab maksimal hanya bisa dipijak 3 orang serta 1 motor secara bergantian.

"Memang masih terbatas demi keselamatan penggunanya, jadi harus bergantian untuk pejalan kaki dan motor juga. Tapi kami tetap bersyukur sudah ada jembatan ini," kata Asep.

Kendati demikian, Asep tetap menyimpan asa agar pemerintah berkenan membangunkan jembatan yang lebih permanen. Mampu dipakai motor tanpa harus bergilirian agar lebih efisien dan efektif.

"Ya tentunya kami mau dibangunkan yang permanen, supaya lebih bagus dan lebih aman lagi buat warga. Apalagi jembatan yang ada ini kan dari swasta," kata Asep.

Keinginan untuk dibuatkan jembatan permanen ke Pemerintah Kabupaten Bandung Barat bukam sebatas harap dari lisan semata. Ia mengaku sudah berulangkali mengajukan, namun sama sekali tak ada jawaban.

"Saya sudah beberapa kali mengajukan permohonan pembuatan jembatan. Kebetulan ini kan ada di lahan Indonesia Power (IP), kata IP silakan bersurat dulu ke kecamatan, Dinas PUTR KBB, tapi sama sekali tidak direspons," kata Asep.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads