Halaman Gedung Soedirman-Pohon Jadi Tumbal Proyek Underpass Cimahi

Halaman Gedung Soedirman-Pohon Jadi Tumbal Proyek Underpass Cimahi

Whisnu Pradana - detikJabar
Kamis, 27 Agu 2026 16:09 WIB
Halaman Gedung Soedirman yang Tergerus Proyek Underpass Gatot Subroto
Halaman Gedung Soedirman yang Tergerus Proyek Underpass Gatot Subroto (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Cimahi -

Proyek pembangunan Underpass Gatot Subroto-Baros, Kota Cimahi telah dimulai. Di balik proyek milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat itu memakan tumbal berupa halaman Gedung Soedirman yang merupakan bangunan cagar budaya.

Memang bukan bagian gedung secara langsung yang terdampak, melainkan area halaman bangunan peninggalan zaman Hindia-Belanda yang dikorbankan demi memuluskan proyek tersebut.

Pelaksana proyek sudah membongkar pagar gedung. Pun dengan deretan pohon berukuran raksasa yang usianya disinyalir lebih dari 100 tahun. Di area halaman Gedung Soedirman, sudah tersimpan material dan alat berat kontraktor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Cimahi, Machmud Mubarok mengatakan jika penggunaan sebagian halaman Gedung Soedirman untuk proyek pemerintah tak berdampak terhadap status bangunan sebagai cagar budaya.

ADVERTISEMENT

Gedung Soedirman sendiri ditetapkan sebagai objek cagar budaya melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota Cimahi Nomor 430Kep1692-Disbudparpora/2022.

"Berdasarkan SK, bagian cagar budayanya si gedung atau bangunannya, halaman. Jadi kalau yang terambil itu halamannya, enggak apa-apa asal tidak mengubah bangunan," kata Machmud saat dikonfirmasi, Kamis (27/8/2026).

Bangunan-bangunan bergaya art deco peninggalan zaman penjajahan Belanda tersebar di se-antero Kota Cimahi. Menjadi saksi bisu perjalanan Belanda ketika menduduki Cimahi puluhan bahkan ratusan tahun silam.

Gedung yang dibangun tahun 1895 itu sebetulnya memiliki nama Sociѐteit voor Officieren. Namun kemudian berganti nama berkali-kali sampai saat ini dikenal dengan nama Gedung Historich usai disewa pengusaha asal Kota Bandung.

Gedung Soedirman berfungsi sebagai tempat hiburan tentara Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) dan meneer-meneer. Tentara Belanda yang bertugas di Cimahi tak luput dari rasa bosan. Mereka butuh hiburan demi melepas lelah dan penat dari tuntutan pekerjaan di masa kolonialisme.

"Jadi gedung itu memang difungsikan sebagai tempat hiburan para petinggi tentara Belanda. Kalau jabatannya kopral atau sersan bukan di situ tempatnya," ujar Machmud.

"Setelah lelah bertempur atau latihan, maka mereka pergi hiburan ke gedung itu. Di sana ada tempat teater, dansa, pertunjukkan film, dan sebagainya," ujar Machmud menambahkan.

Dari segi arsitektur, Gedung Soedirman mengadopsi gaya indische empire stijl. Gaya arsitektur itu dipengaruhi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels.

"Sisi arsitektur ini memang menarik, karena satu-satunya saya kira di Cimahi yang menggunakan gaya indische empire stijl. Jadi, gaya arsitektur warisan Daendels. Daendels itu kan bangga betul dengan kemewahan dan kemegahan," kata Machmud.

Untuk pembangunan Underpass Gatot Subroto, tersebur, Pemerintah Kota Cimahi melakukan pembebasan lahan seluas 3.400 meter persegi dengan anggaran mencapai Rp36 miliar. Sementara anggaran pembangunannya mencapai Rp150 miliar yang ditanggung Pemprov Jawa Barat.

"Total lahan ada sekitar 3.400 meter persegi yang kami bebaskan. Tapi nanti untuk pembangunannya oleh Provinsi Jawa Barat karena itu akses jalan provinsi," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Cimahi, Wilman Sugiansyah.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads