Limbah Minyak Cemari Pantai Cemarajaya, Nelayan Tak Melaut

Limbah Minyak Cemari Pantai Cemarajaya, Nelayan Tak Melaut

Irvan Maulana - detikJabar
Rabu, 26 Agu 2026 16:15 WIB
Limbah ceceran diduga oil spill di Pantai Cemarajaya, Kabupaten Karawang
Limbah ceceran diduga oil spill di Pantai Cemarajaya, Kabupaten Karawang (Foto: Irvan Maulana/detikJabar)
Karawang -

Pesisir Pantai Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, tercemar limbah hitam yang diduga kuat merupakan ceceran minyak mentah (oil spill). Pencemaran ini mulai terlihat sejak Selasa (25/8/2026) pagi dan berdampak langsung pada aktivitas warga setempat.

Ketua Forum Masyarakat Pesisir sekaligus nelayan setempat, Ahmad Syafi'i (52), mengungkapkan bahwa ceceran limbah tersebut ditemukan saat warga hendak melaut. Temuan ini pun segera dilaporkan ke Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Karawang.

"Saya temukan kemarin pagi, kita sudah laporkan ke himpunan. Karena kami jadi tidak bisa melaut sejak ditemukan ceceran limbah ini," kata Syafi'i, kepada detikJabar, Rabu (26/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Material limbah berupa butiran hitam kecokelatan tersebut tersebar di sepanjang garis pantai. Selain mengotori pasir, limbah ini mengeluarkan aroma menyengat yang mengganggu pernapasan warga di sekitar lokasi.

ADVERTISEMENT

"Kalau kandungan material ini belum diketahui secara pasti. Yang jelas material butiran coklat kehitaman ini diduga oil spill, kami khawatir itu membahayakan kesehatan masyarakat, bahkan juga kami tidak bisa melaut," kata dia.

Menurut Syafi'i, sebaran butiran diduga oil spill ini memanjang dari Pantai Pisangan hingga Pantai Cemarajaya. Kondisi arus laut sempat membuat volume limbah di bibir pantai berubah-ubah.

"Kemarin jumlah nya banyak. Cemaran ditemukan mulai dari Pantai Pisangan sampai sini (Camarajaya), tapi kemarin sore air pasang, jadi mungkin terbawa ombak," paparnya.

Kekhawatiran warga kian meningkat mengingat terdapat ribuan hektare tambak di wilayah tersebut yang terancam ikut tercemar jika limbah masuk melalui saluran air.

"Saya kemarin juga imbau pemilik tambak agar tidak memasukan air dulu kedalam tambak, karena jumlah nya bisa sampai ribuan hektare takut tercemar," ungkap Syafi'i.

Atas kondisi tersebut, warga mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk segera mengidentifikasi sumber pencemaran guna mencegah dampak yang lebih luas.

"Kami minta pemerintah segera turun, bahkan pertamina, karena ini di dekat sumber ladang minyak mereka. Supaya dapat ditangani dan segera dibereskan takut jadi racun buat warga," imbuhnya.

Merespons laporan tersebut, Manager Communication, Relations & CID Regional Jawa PT Pertamina Hulu Energi Offshore Northwest Java (PHE ONWJ), Pinto Budi Bowo Laksono, menyatakan pihaknya telah melakukan inspeksi menyeluruh di area operasi.

"PHE ONWJ telah melakukan pengecekan operasi menyeluruh, serta melakukan pengawasan dengan penyisiran kapal patroli, kapal-kapal operasi serta penerbangan drone. Perusahaan memastikan tidak ada anomali produksi, gangguan, maupun kebocoran pada seluruh fasilitas operasi," ujar Pinto dalam keterangan resminya.

Pinto menambahkan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk perangkat desa dan organisasi nelayan, untuk memantau situasi di pesisir Cemarajaya hingga Tanjungpakis.

"Kami sudah koordinasi, dengan HNSI, dan forum KKPMP, guna memonitor perkembangan terkini situasi di lokasi, baik di wilayah Tanjungpakis, maupun Cemarajaya," katanya.

Pihak PHE ONWJ menegaskan komitmennya terhadap kelestarian lingkungan dan keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir di sekitar wilayah kerja mereka.

"Keandalan operasi kami prioritaskan, sesuai dengan asa kelestarian lingkungan. Kami berkomitmen untuk bekerja sama dan memberikan dukungan dalam penanganan kejadian ini dengan semua pihak terkait dan masyarakat," pungkasnya.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads