Musim kemarau membuat informasi mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian. Asap yang mulai terlihat di sejumlah wilayah sering kali menjadi tanda yang membuat masyarakat bertanya-tanya, apakah terdapat kebakaran di sekitar mereka.
Kini, masyarakat sebenarnya dapat ikut memantau kondisi tersebut hanya bermodalkan ponsel. Sejumlah layanan berbasis data satelit menyediakan informasi mengenai hotspot karhutla atau titik panas yang terdeteksi di berbagai wilayah Indonesia.
Informasi tersebut dapat menjadi petunjuk awal untuk mengetahui wilayah yang perlu mendapat perhatian. Masyarakat dapat mengeceknya melalui layanan resmi seperti SiPongi+ milik Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Citra Polar Hotspot Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga Google Maps.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ada hal penting yang perlu dipahami. Kemunculan hotspot tidak otomatis berarti telah terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Hotspot merupakan lokasi di permukaan bumi yang terdeteksi memiliki anomali suhu panas oleh sensor satelit. Sementara karhutla adalah peristiwa kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan/atau lahan.
Karena itu, data hotspot lebih tepat dipahami sebagai indikasi awal yang masih perlu dianalisis. Jika diperlukan, informasi tersebut juga harus diverifikasi dengan kondisi di lapangan.
Cara Cek Hotspot Karhutla Lewat SiPongi+ Kemenhut
Salah satu layanan yang dapat digunakan masyarakat untuk cek hotspot karhutla adalah SiPongi+. Platform ini merupakan Sistem Pemantauan Karhutla milik Kementerian Kehutanan.
SiPongi+ menyajikan data dan informasi hotspot terkini serta berbagai informasi yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat dapat mengaksesnya melalui laman https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/.
Setelah masuk ke laman tersebut, pengguna dapat memilih menu Peta Hotspot untuk melihat persebaran titik panas. Peta kemudian dapat diperbesar pada wilayah yang ingin dipantau.
Titik-titik hotspot akan terlihat pada peta. Pengguna juga dapat memperhatikan tingkat kepercayaan atau confidence level yang tercantum pada setiap titik.
Untuk memperoleh informasi yang lebih rinci, pengguna dapat membuka menu Sebaran Titik Panas. Di bagian tersebut, periode, provinsi, satelit, serta tingkat kepercayaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Warna pada SiPongi+ menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap hotspot yang terdeteksi.
- Hijau atau low (0-29 persen): indikasi rendah.
- Kuning atau medium (30-79 persen): indikasi sedang dan perlu mendapat verifikasi.
- Merah atau high (80-100 persen): indikasi tinggi dan perlu lebih diperhatikan.
Meski demikian, hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi tetap bukan bukti mutlak bahwa kebakaran sedang berlangsung. Data satelit perlu dipadukan dengan informasi lain dan, bila diperlukan, dilakukan pengecekan di lapangan.
Pantau Titik Panas dari Citra Polar Hotspot BMKG
Pilihan lainnya adalah layanan Citra Polar Hotspot BMKG. Layanan ini menampilkan citra satelit terbaru yang dapat membantu masyarakat melihat lokasi hotspot di Indonesia.
Pengamatan dilakukan pada siang dan malam hari menggunakan sensor VIIRS dan MODIS yang terdapat pada beberapa satelit polar.
Layanan tersebut dapat diakses melalui laman https://www.bmkg.go.id/cuaca/satelit/polar-hotspot.
Setelah halaman dibuka, pengguna dapat melihat peta citra satelit sekaligus deteksi hotspot yang diperbarui secara berkala. Area tertentu juga dapat dicari menggunakan fitur pencarian yang tersedia.
Berbeda dengan SiPongi+, informasi dari Citra Polar Hotspot BMKG perlu dibaca dengan memperhatikan lokasi, persebaran titik panas, serta waktu pengamatan.
BMKG menjelaskan bahwa hotspot merupakan anomali suhu panas yang dideteksi satelit dibandingkan dengan kondisi di sekitarnya.
Ada pula keterbatasan yang perlu diperhatikan. Hotspot tidak dapat terdeteksi pada wilayah yang tertutup awan atau berada di blank zone.
Artinya, ketika tidak ditemukan titik panas pada peta, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa wilayah tersebut pasti terbebas dari kebakaran.
Google Maps Juga Bisa Dipakai untuk Melihat Kebakaran
Selain platform pemerintah, masyarakat dapat memanfaatkan Google Maps sebagai sumber tambahan untuk memantau informasi kebakaran yang sedang berlangsung.
Google Maps memiliki fitur Wildfires atau kebakaran hutan yang dapat menampilkan informasi mengenai kebakaran aktif di sejumlah wilayah.
Cara mengeceknya cukup mudah. Pengguna hanya perlu membuka aplikasi Google Maps, kemudian memilih menu Lapisan atau Layers.
Jika fitur tersedia di wilayah yang dipantau, pilih Wildfires atau Kebakaran hutan. Setelah itu, pengguna dapat memperbesar peta untuk melihat area yang ingin dipantau.
Ikon kebakaran maupun lingkaran merah dapat muncul pada peta. Area merah menunjukkan perkiraan wilayah yang terdampak kebakaran aktif, sedangkan area berwarna kuning menunjukkan wilayah dengan tingkat kepastian yang lebih rendah.
Google menggunakan sejumlah sumber informasi, termasuk data dari otoritas terkait dan satelit. Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan machine learning juga digunakan untuk membantu mendeteksi serta memantau kebakaran.
Meski praktis, informasi di Google Maps tetap bersifat perkiraan. Batas area kebakaran yang terlihat di peta bisa saja berbeda dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Artikel ini telah tayang di detikInet.
(iqk/iqk)
