Isu keberadaan harta karun di kawasan Perbukitan Batu Ampar, Desa Cikakak, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, ditanggapi dingin oleh warga penggarap lahan setempat.
Mereka menegaskan selama puluhan tahun beraktivitas di lokasi tersebut, tidak pernah ada temuan barang berharga seperti yang diisukan.
Muryati (56), salah seorang petani penggarap yang sehari-hari mengolah lahan di kawasan perbukitan tersebut, mengaku heran dengan ramainya kabar pencarian harta karun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari dulu saya garap tanah di sini gak pernah dengar atau lihat ada yang namanya harta karun tertimbun. Kabar dari mana itu? Wong kita tiap hari di sini nyangkul ya biasa saja," kata Muryati saat ditemui di lokasi garapannya, Senin (24/8/2026).
Alih-alih menemukan barang antik atau pusaka, Muryati berseloroh bahwa yang paling sering ditemui di kawasan perbukitan tersebut justru kawanan satwa liar.
"Ada juga monyet, kan memang penghuni asli sini. Tiap ke hutan yang ketemu monyet lagi monyet lagi. Jadi kalau dibilang ada emas atau harta karun, ya gak masuk akal," selorohnya.
Meski demikian, Muryati membenarkan sempat melihat keberadaan orang asing yang datang ke perbukitan tersebut sebelum kabar penggalian ramai diperbincangkan.
"Waktu itu memang ada dua orang yang datang ke atas. Pas ditanya, mereka ngakunya orang dari daerah Cikakak juga, cuma gak jelas tujuannya mau ngapain. Gak lama dari situ baru tahu ada bekas galian," beber Muryati.
Muryati menyayangkan adanya aktivitas penggalian liar di area garapan warga. Menurutnya, tindakan tersebut hanya merusak tanah yang selama ini dikelola warga secara damai.
"Ya kalau bisa mah jangan ada lagi yang aneh-aneh begini, datang terus gali-gali tanah sembarangan. Bikin resah warga penggarap saja, padahal di sini gak ada apa-apa," tegasnya.
Lahan Bebatuan Terjal Ditanami Tumpang Sari
Sementara itu, warga lainnya, Ilham, menjelaskan bahwa kawasan Perbukitan Batu Ampar memiliki topografi yang cukup ekstrem dan didominasi hamparan batu-batu besar.
"Kalau dilihat langsung, posisinya ini lereng bukit terjal dan tanahnya dipenuhi bongkahan batu kali besar-besar. Struktur tanahnya berbatu dan miring, jadi cukup licin dan menantang kalau dinaiki," terang Ilham.
Ilham menambahkan, di sela-sela hamparan bebatuan besar dan pohon-pohon rindang tersebut, masyarakat sekitar memanfaatkannya sebagai lahan pertanian tumpang sari untuk menyambung hidup.
"Warga di sini manfaatin celah tanah di antara bebatuan buat nanam tumpang sari. Ada pohon pisang, singkong, pepaya, sama tanaman kebun lainnya. Jadi ini murni lahan garapan warga, bukan tempat tersembunyi yang ada timbunan hartanya," jelas Ilham.
(sya/yum)
