Sudah hampir satu tahun berlalu, namun derita Gopar (46), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kampung Cibolang, Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, tak kunjung usai.
Pria yang merantau ke Arab Saudi untuk menjadi sopir rumahan ini kini terbaring lemah di ruang perawatan sebuah rumah sakit di Kota Riyadh, berjuang melawan penyakit hipertensi dan komplikasi pascaoperasi kanker otak yang tak kunjung membaik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Niat hati ingin mengubah nasib keluarga, Gopar justru terjebak dalam lingkaran kemalangan. Dugaan perlakuan tak layak di tempat kerja, mulai dari kerap terlambat makan hingga upah yang tersendat, membuat fisiknya perlahan ambruk. Di majikan yang sama, istrinya, Isoh (44), berjuang tak kalah keras bekerja sambil merawat Gopar.
Kondisi kesehatan Gopar tak menunjukkan tanda-tanda pemulihan meski perawatan medis sebenarnya ditanggung asuransi (Tamim) melalui kartu identitas resmi (Iqamah). Melihat kondisi yang kian memprihatinkan, sang istri dan pihak keluarga akhirnya berpasrah diri. Jalan terbaik hanya satu, membawa Gopar pulang ke Tanah Air.
Namun, pintu untuk pulang tertutup rapat oleh tembok birokrasi dan masalah finansial. Pihak majikan enggan menanggung biaya penalti administrasi sebesar 27.000 Riyal atau setara Rp110 juta.
Yusup Saepulloh, seorang pekerja di perusahaan Saptco Bus di Kota Taif yang secara mandiri menjadi relawan kemanusiaan, menceritakan bahwa Gopar dan istrinya bekerja di bawah majikan yang sama. Gopar berangkat ke Arab pada tahun 2020 dan disusul oleh istrinya.
"Selama perjalanan sampai 1 tahun, saya dapat informasi dari istrinya langsung, tidak ada pemulihan, tidak ada sifat perubahan dalam kesehatan. Dan kami di sini berupaya negosiasi meminta pendampingan dari pihak KBRI," ujar Yusup saat dihubungi detikJabar, Sabtu (22/8/2026).
Upaya mediasi telah berulang kali buntu. Pihak KBRI Riyadh sempat menawarkan jalan tengah berupa pembagian beban biaya (sharing) sebesar 50 persen antara majikan dan pihak pekerja. Namun, majikan Gopar tetap bergeming dan menolak mengeluarkan uang sepeser pun.
"Dari majikan tidak mampu untuk mengeluarkan biaya dengan jumlah 27.000 Riyal dengan alasan tidak sanggup. Walaupun pernah dinegosiasi sama pihak KBRI, waktu itu ada istilah negosiasi 50%-50%, tapi dari pihak majikan sendiri tidak sanggup mengeluarkannya sama sekali," tutur Yusup.
Di balik peliknya nasib Gopar, terkuak pula bayang-bayang keterlibatan sponsor berinisial H di kampung halamannya, yang memberangkatkan Gopar enam tahun lalu melalui skema calling visa. Kini, sponsor tersebut diduga lepas tangan dari derita yang menimpa pekerja yang diberangkatkannya tersebut.
Kondisi di lapangan kian memilukan. Sang istri yang juga harus merawat lansia yang kebetulan sedang dirawat di rumah sakit, tak bisa setiap saat menemani suaminya yang terbaring tak berdaya. Dalam dua bulan terakhir, ia baru sempat menjenguk Gopar satu kali saja.
Sementara itu, Yusup yang berupaya mendampingi dari Kota Taif harus terbentur jarak dan benteng regulasi tempatnya bekerja. Jarak Taif ke Riyadh bukanlah jarak yang pendek, butuh perjalanan darat hingga 15 jam atau penerbangan senilai 800 Riyal pulang-pergi.
"Antara Taif dengan Riyadh itu jauh, perjalanan hampir 15 jam. Kalau naik pesawat ongkosnya 400 Riyal, pulang pergi 800. Terbenturnya saya dengan mekanisme pekerjaan di sini, peraturannya ketat. Saya tidak bisa semena-mena untuk meminta izin," kata Yusup menjelaskan kesulitannya untuk terus mendampingi langsung di Riyadh.
Baca juga: Ular Penyandang Status Paling Pintar |
Kini, harapan satu-satunya tertuju pada uluran tangan pemerintah Indonesia. Di tengah keterbatasan dan jarak ribuan kilometer dari Tanah Air, doa dan rintihan memohon pertolongan terus dipanjatkan agar Gopar bisa segera dipulangkan dan berkumpul kembali bersama keluarga.
"Keinginan dari keluarga untuk dipulangkan. Mohon untuk bisa memfasilitasi dari Indonesia untuk bisa membantu," pungkasnya.
(orb/orb)
