Sebanyak 600 Kepala Keluarga (KK) di Kampung Cijambe, Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) disebut mengalami kesulitan air bersih hingga 20 tahun lamanya. Informasi tersebut viral di media sosial dan menginisiasi donasi oleh lembaga filantropis.
Kesulitan air bersih tergambar dalam video yang menunjukkan warga mengantre air dari mata air yang mengalir lewat bilah bambu, kemudian ditampung menggunakan galon. Warga lalu mengangkut air untuk kebutuhan sehari-hari itu melewati pematang sawah sejauh 1 kilometer.
Keprihatinan akan kesulitan yang dialami warga kian menjadi karena air yang ditampung keruh dan berbau lumpur. Sebelum digunakan warga di pelosok Bandung Barat itu, air mesti diendapkan terlebih dahulu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa yang tergambar dalam video tersebut ternyata bukan kenyataan yang terjadi saat ini. Hal itu berdasarkan pengakuan penderma.id, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menginisiasi penggalangan dana untuk mengatasi krisis air bersih di kampung tersebut.
Dalam narasi donasi daring melalui laman kitabisa.com, lembaga itu membuat kampanye sedekah air bersih bagi 600 kepala keluarga (KK) yang tinggal di kampung tersebut. Donasi yang ditargetkan sebesar Rp177.500.000 dengan durasi tiga bulan, dimulai sejak 17 Juli 2026. Saat ini, donasi di laman tersebut baru terkumpul sebesar Rp4.107.000.
"Jadi kita sifatnya penggalangan donasi, jadi itu reka adegan atau agenda setting untuk menceritakan kesulitannya. Kita ambil cerita dari warga dan tuangkan ke video itu. Jadi itu memang reka adegan saat mereka sedang kesulitan seperti sedang antre dan ambil air," kata perwakilan penderma.id, Deny Pratama saat dihubungi detikJabar, Jumat (21/8/2026).
Deny mengakui reka adegan yang mereka buat untuk kampanye penggalangan dana pemenuhan kebutuhan air juga demi menggaet donatur. Adegan demi adegan dalam video tidak aktual dan hanya berdasar pada cerita warga.
"Informasi yang di campaign, itu demi menggaet donatur, ya kurang lebih. Masalah isi di dalam ceritanya itu kita sesuaikan dengan kondisi di sana. Sifatnya reka adegan saat terakhir kali mereka kesulitan dibuat di kontennya. Terakhir mereka kesulitan, nah itu dia sesuai cerita dari warga sampai akhirnya kita buat reka adegannya," kata Deny.
Ia mengaku lupa kapan membuat video reka adegan kesulitan air yang dialami warga. Pembuatan kampanye dengan jumlah donasi sampai ratusan juta itu juga memiliki kesalahan informasi pada jumlah warga yang terdampak.
"Video itu kapan dibuat saya juga lupa, video lama pastinya. Memang tidak aktual karena sifatnya reka adegan. Nah untuk soal 600 KK, memang miss di narasinya, harusnya 60 KK. Waktu itu yang disebutkan sama warga memang 60 KK," kata Deny.
Dalam laman kitabisa.com yang dilihat detikJabar, penggalangan donasi itu sudah dihentikan per hari Jumat ini dengan total donasi yang diterima sebesar Rp4.107.000. Lalu jumlah 600 KK dalam narasi juga sudah berubah menjadi 60 KK.
"Sekarang penggalangan dana ditutup, karena saya diminta klarifikasi dulu ke pihak desa soal beberapa kekeliruan. Kalau sudah diizinkan, ya dimulai lagi, tapi itu juga gergantung pihak desa mengizinkan atau enggak. Kalau sebelumnya kami hanya sebatas izin ke RT dan RW, nanti mereka yang melanjutkan kesana (pihak desa)," kata Deny.
Berdasarkan penelusuran detikJabar ke Kampung Cijambe, kondisi krisis air bersih yang dialami warga tak seburuk yang dinarasikan. Sumber air yang disebut menjadi satu-satunya harapan warga, ternyata sudah lama tidak digunakan karena diutamakan untuk pengairan sawah.
Kepala Desa Karanganyar, Asep Hermawan, juga geram dengan informasi keliru yang viral di media sosial. Menurutnya, poin yang disampaikan pemohon donasi sebagai pihak yang meramaikan kondisi krisis air bersih berkepanjangan sebagai pembohongan publik.
"Enggak betul sama sekali, apalagi sampai 600 KK kesulitan air bersih. Warga di kampung itu kan ada 2 RW, itu kurang dari 600 KK. Terus informasi 20 tahun kesulitan air bersih darimana? Di sini warga pakai sumur bor," kata Asep.
(iqk/iqk)
